RUZKA INDONESIA; MAKASSAR — Kebutuhan tenaga las profesional di industri galangan kapal kian mendesak seiring meningkatnya aktivitas perkapalan nasional. Menjawab tantangan itu, kolaborasi pemerintah, lembaga pelatihan, dan dunia industri kembali diperkuat melalui program Pendidikan Kecakapan Kerja (PKK) Kemendikdasmen yang mengirimkan 18 peserta magang ke PT Industri Kapal Indonesia (IKI), Makassar.
Para peserta merupakan lulusan pelatihan intensif di Inlastek Welding Institute, Surakarta, yang telah menempuh pembelajaran setara 350 jam sejak Oktober hingga Desember 2025. Kini, mereka memasuki fase praktik industri selama enam bulan, terhitung sejak 2 Februari hingga akhir Juni 2026.
Direktur Kursus dan Pelatihan Kemendikdasmen, Yaya Sutarya, menekankan bahwa keberhasilan magang tidak hanya ditentukan kemampuan teknis, tetapi juga kualitas ekosistem pendukungnya.
“Program seperti ini harus berdiri di atas tiga fondasi: pelatihan yang terstandar, kolaborasi yang kuat, dan disiplin peserta. Jika salah satu rapuh, hasilnya tidak akan maksimal,” ujar Yaya saat serah terima peserta magang, Senin (2/2/2026).
Program PKK menyasar anak tidak sekolah (ATS) usia 17–25 tahun sebagai upaya membuka kembali akses keterampilan bagi kelompok yang rentan tertinggal dari dunia kerja. Yaya menyebut, kehadiran industri seperti PT IKI menjadi kunci agar peserta tidak hanya belajar teori, tetapi mengalami langsung ritme dan standar kerja di lapangan.
Plt. Direktur Umum PT IKI, Suhan Ikhsan, mengakui kebutuhan besar industri terhadap tenaga las bersertifikat. Menurutnya, kualitas pengelasan menjadi faktor vital dalam konstruksi kapal sehingga kompetensi welder harus benar-benar teruji.
“Selama magang, peserta akan dibimbing mengikuti prosedur kerja dan keselamatan industri. Ini pengalaman yang tidak bisa digantikan ruang kelas,” kata Suhan.
Dari sisi lembaga pelatihan, Direktur Inlastek Welding Institute, Bramono Pandupradityo, memastikan peserta telah melalui seleksi ketat. Mereka dibekali keterampilan Shielded Metal Arc Welding (SMAW) posisi 6G—posisi pengelasan yang dikenal paling menantang dan banyak dibutuhkan di industri berat.
Fasilitas juga disiapkan untuk mendukung peserta selama magang. PT IKI menyediakan tempat tinggal sementara serta insentif sekitar Rp2,5 juta per bulan, agar peserta bisa fokus mengembangkan kompetensi.
Bagi Ahmad Hidayat, alumni SMK dari Sumatra Barat, kesempatan ini adalah pintu menuju masa depan yang lebih baik. “Saya ingin membuktikan kemampuan saya di industri nyata dan memperbaiki kondisi ekonomi keluarga,” ujarnya.
Hal serupa diungkapkan Krisna Sulistyo dari Surakarta, yang melihat magang ini sebagai langkah awal karier profesionalnya.
Kolaborasi ini menjadi contoh nyata bahwa konsep link and match antara pelatihan vokasi dan industri dapat berjalan efektif. Dari ruang pelatihan di Surakarta hingga galangan kapal di Makassar, program PKK membuktikan bahwa welder muda Indonesia dapat dipersiapkan secara berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan industri strategis nasional.
(BKHM Setjen Kemendikdasmen)
Editor: Endro Yuwanto


Komentar