RUZKA INDONESIA – Ditengah kegamangan arah gerakan kepemudaan di berbagai daerah, konsolidasi internal mulai digerakkan oleh kelompok-kelompok yang mengklaim diri sebagai penjaga nilai nasionalisme.
Di Majalengka, geliat itu datang dari Kelompok Nasionalis yang tengah menyiapkan langkah strategis menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Majalengka.
Indra Sudrajat—advokat, alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), sekaligus mantan Bendahara KNPI Jawa Barat periode 2017–2021 mengungkapkan bahwa Kelompok Nasionalis saat ini sedang menggelar konvensi internal untuk menjaring dan menyeleksi kader terbaik yang akan diusung dalam kontestasi Ketua KNPI Majalengka.
Menurut Indra, Musda KNPI bukan sekadar agenda rutin organisasi, melainkan momentum penentuan arah gerak kepemudaan daerah. Karena itu, proses penyiapan kandidat tidak bisa dilakukan secara instan atau pragmatis.
“Konvensi ini kami tempatkan sebagai ruang kaderisasi ideologis. Di sana, nilai nasionalisme, integritas, dan keberanian moral diuji secara serius, bukan sekadar formalitas organisasi,” kata Indra, Jumat (30/01/2026).
Ia menegaskan, Kelompok Nasionalis tidak tengah berburu figur populer atau tokoh yang sekadar memiliki modal jejaring kekuasaan. Tantangan kepemudaan hari ini, kata dia, justru membutuhkan pemimpin dengan keteguhan ideologi dan komitmen pengabdian yang teruji.
“Kami tidak mencari pemimpin yang kuat di panggung, tapi pemuda yang berani bersikap, memiliki kecintaan pada bangsa, dan siap mengabdi untuk kepentingan yang lebih besar,” ujarnya.
Bagi Indra, Musda KNPI Majalengka juga tidak bisa dilepaskan dari konteks nasional yang lebih luas, terutama isu bonus demografi. Ia mengingatkan bahwa besarnya populasi pemuda tidak serta-merta menjadi kekuatan jika tidak dibarengi kesadaran kebangsaan yang kokoh.
“Bonus demografi hanya akan menjadi berkah jika pemudanya memiliki kebanggaan sebagai bangsa. Tanpa nasionalisme, bonus itu justru bisa berubah menjadi beban sejarah,” kata Indra.
Ia juga menyoroti kecenderungan KNPI yang kerap terjebak dalam tarik-menarik kepentingan struktural.
Menurutnya, sudah saatnya marwah KNPI dikembalikan sebagai rumah besar perjuangan kolektif pemuda, bukan sekadar arena perebutan jabatan.
“KNPI harus menjadi ruang pengabdian. Tempat gagasan bertemu dengan tindakan. Dari sanalah lahir pemuda yang produktif, kreatif, dan patriotik dalam membangun Majalengka dan Indonesia,” ucapnya.
Melalui konvensi internal ini, Kelompok Nasionalis menyatakan kesiapan untuk mengajukan kader terbaik dalam kontestasi Ketua KNPI Majalengka.
Langkah yang oleh Indra disebut sebagai ikhtiar sunyi namun bermakna,upaya menjaga agar nasionalisme tidak sekadar menjadi jargon, melainkan tetap hidup dan relevan di tengah dinamika generasi muda hari ini dan masa depan bangsa. (***)
Jurnalis: Eko Widiantoro
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com


Komentar