RUZKA INDONESIA; JAKARTA — Indonesia Masters 2026 tak sekadar menghadirkan persaingan elite bulu tangkis dunia, tetapi juga menjadi panggung lahirnya wajah-wajah baru. Dari Istora Gelora Bung Karno Senayan Jakarta, harapan akan regenerasi mulai menguat, dengan Alwi Farhan tampil sebagai simbol kebangkitan pemain muda Indonesia.
Tunggal putra berusia 20 tahun itu tampil dominan di partai final dengan menundukkan wakil Thailand, Panitchapon Teeraratsakul, dua gim langsung 21-5, 21-6, Minggu (25/1/2026), sekaligus memastikan satu-satunya gelar juara untuk Indonesia pada turnamen level BWF Super 500 tersebut.
Kemenangan Alwi bukan sekadar soal gelar. Cara bermainnya yang tenang, agresif, dan konsisten sejak babak awal menjadi sinyal kuat bahwa sektor tunggal putra Indonesia mulai memiliki pelapis yang siap naik kelas setelah era pemain senior.
Usai laga, Alwi menegaskan bahwa pencapaiannya di Indonesia Masters hanyalah langkah awal. Ia menyebut target jangka pendek hingga panjang telah disusun bersama tim, dengan fokus menembus turnamen level 750 dan 1000 sebagai jalur menuju Olimpiade.
“Target jangka pendek sudah mulai kami kejar dari sekarang agar bisa memantaskan diri tampil di Olimpiade,” ujar Alwi.
Bermain di Istora, menurut Alwi, memberi pengalaman berharga sekaligus dorongan mental tersendiri. Dukungan publik tuan rumah membuatnya mampu menjaga intensitas permainan, bahkan saat kondisi fisik tidak sepenuhnya ideal.
“Atmosfernya semakin hari semakin ramai. Itu jadi tambahan energi buat saya. Meski fisik tidak 100 persen, semangat saya selalu penuh,” kata Alwi.
Gelar ini juga menempatkan Alwi sebagai tunggal putra Indonesia pertama yang menjuarai Indonesia Masters sejak Jonatan Christie pada 2023. Fakta tersebut mempertegas posisinya sebagai generasi penerus yang mulai mengisi ruang di level elite.
Dari sisi federasi, PBSI melihat Indonesia Masters 2026 sebagai momentum awal pergantian peran. Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, Eng Hian, menilai mayoritas semifinalis tahun ini diisi pemain-pemain muda yang sebelumnya belum banyak mendapat sorotan.
“Jika dibandingkan tahun lalu, Indonesia juga menempatkan wakil di final, tetapi berasal dari pemain senior. Tahun ini justru banyak pemain muda yang mampu menembus semifinal dan menunjukkan potensi besar,” ujar Eng Hian.
Selain Alwi, sektor lain juga memunculkan sinyal positif. Pasangan muda ganda putri Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum mampu menembus semifinal dan memberi perlawanan ketat. Di sektor ganda campuran, Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu tampil kompetitif sebelum terhenti di empat besar.
Meski hasil akhir Indonesia belum sepenuhnya maksimal, PBSI menilai turnamen ini memberi gambaran jelas tentang arah pembinaan ke depan. Regenerasi dinilai mulai berjalan, dengan sejumlah pemain muda menunjukkan kesiapan bersaing di level atas.
Indonesia sendiri mengakhiri turnamen dengan satu gelar juara lewat Alwi Farhan, satu posisi runner-up dari sektor ganda putra, serta wakil di semifinal pada beberapa sektor.
Menurut Eng Hian, hasil tersebut akan menjadi bahan evaluasi penting jelang Indonesia Open 2026 yang berstatus BWF Super 1000.
“Kami akan menyusun program lanjutan agar pemain muda yang menunjukkan performa baik di Indonesia Masters ini bisa kembali tampil kompetitif dan berprestasi di Indonesia Open,” pungkas Eng Hian.
(PBSI)
Editor: Endro Yuwanto


Komentar