RUZKA INDONESIA — Di sudut halaman SMAN 1 Cikijing, Majalengka, pagi itu tanah tampak mulai tergembur. Sejumlah siswa menunduk, jemari mereka kotor oleh tanah basah.
Seragam sekolah tak lagi serapi saat upacara, namun wajah-wajah muda itu memancarkan kesungguhan bahkan kegembiraan. Di lahan sederhana itu, mereka tidak sekadar menanam bibit. Mereka sedang belajar merawat karakter.
Inisiatif tersebut datang dari Komite Sekolah SMAN 1 Cikijing. Melalui program bertani, komite sekolah berupaya menghadirkan pendidikan karakter yang membumi, dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.
Program ini dirancang bersama Komite Pancawaluya dan pihak sekolah sebagai bagian dari upaya menanamkan nilai kemandirian, disiplin, tanggung jawab, serta kepedulian terhadap lingkungan.
Ketua Komite Sekolah SMAN 1 Cikijing, H. Baya, menilai pendidikan tak cukup berhenti pada angka-angka rapor. Sekolah, kata dia, semestinya menjadi ruang hidup tempat nilai dan sikap dibentuk melalui pengalaman nyata.
“Bertani mengajarkan kesabaran dan tanggung jawab. Anak-anak belajar bahwa hasil tidak datang seketika. Proses itulah yang membentuk karakter,” ujar Baya, Jumat ( 23/1/2026).
Pada tahap awal, sekolah memanfaatkan lahan kosong di lingkungan sekolah sebagai laboratorium terbuka. Bibit anggur, daun katuk, dan beragam sayuran telah disiapkan. Seluruh proses,mulai dari mengolah tanah, menanam, hingga merawat dilakukan langsung oleh siswa sebagai bagian dari pembelajaran berbasis pengalaman.
Bagi H.Baya, kegiatan ini selaras dengan semangat Gapura Pancawaluya yang digagas Pemerintah Provinsi Jawa Barat: cageur, bageur, bener, pinter, jeung singer. Nilai-nilai itu, menurut dia, tidak boleh berhenti sebagai slogan, melainkan harus hadir dalam keseharian siswa.
Dalam sebuah unggahan video, Baya bahkan menyampaikan salam dan harapan langsung kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi yang akrab disapa KDM ,seraya memohon dukungan dan bimbingan atas program tersebut.
“Sampurasun, Pak Gubernur. Salam baktos dari SMAN 1 Cikijing, Majalengka. Hari ini Alhamdulillah kami berkolaborasi untuk mewujudkan Gapura Pancawaluya, Jabar Istimewa. Mohon suport dan bimbingannya,” ujar H.Baya dalam video tersebut.
Pihak sekolah menilai kegiatan bertani ini turut memperkuat Profil Pelajar Pancasila. Gotong royong tumbuh saat siswa bekerja bersama di lahan, kemandirian dilatih melalui tanggung jawab merawat tanaman, dan nalar kritis berkembang ketika mereka menghadapi kegagalan maupun keberhasilan kecil di lapangan.
Kedepan, Komite Sekolah SMAN 1 Cikijing berharap program ini dapat berjalan berkelanjutan dan menjadi model pendidikan karakter berbasis kearifan lokal. Bagi mereka, halaman sekolah bukan sekadar ruang kosong di antara bangunan kelas, melainkan ruang belajar yang menumbuhkan manusia seutuhnya.
Di antara tanah, bibit, dan waktu yang berjalan perlahan, para siswa belajar satu hal penting: karakter, seperti tanaman, hanya dapat tumbuh jika dirawat dengan kesabaran. (***)
Jurnalis: Eko Widiantoro
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com


Komentar