RUZKA INDONESIA — Kita merasa sudah menghitung semuanya di atas Excel—modal cukup, pasar ada, tim lengkap—tapi proyeknya tetap macet? Atau sebaliknya, Anda melihat kompetitor kecil yang secara logika harusnya bangkrut, tapi malah melesat jadi raksasa?
Kalau Anda pernah di posisi itu, Anda perlu menengok kembali apa yang terjadi di lembah Yarmuk tahun 636 M.
Di sana, ada sebuah pelajaran mahal: Kemenangan itu bukan soal adu angka di atas kertas, tapi soal siapa yang paling paham cara membalikkan keadaan.
Musuh yang “Terlalu Besar untuk Tumbang”
Bayangkan posisinya begini: Pasukan Muslim cuma sekitar 40.000 orang. Lawannya? Kekaisaran Bizantium yang membawa lebih dari 150.000 prajurit.
Secara matematika murni, ini adalah misi bunuh diri. Kalau Khalid bin Walid hanya pakai “logika manusia” yang kaku, mungkin dia sudah menyerah sebelum perang dimulai.
Tapi di sinilah letak keajaibannya. Dalam bisnis, kita sering menyebutnya sebagai “Disrupsi”.
1. Jangan Jadi Raksasa yang Lamban
Bizantium itu seperti korporasi tua yang birokrasinya berbelit-belit. Mereka besar, tapi gerakannya kaku.
Sedangkan pasukan Khalid sangat lincah (agile). Mereka tidak bertempur dengan pola kuno. Khalid memecah pasukannya menjadi unit-unit kecil yang sangat mobile.
Pelajaran buat kita: Jangan bangga punya organisasi besar kalau untuk ambil keputusan saja butuh waktu berminggu-minggu. Di pasar yang serba cepat sekarang, perusahaan yang terlalu “gemuk” justru gampang disalip oleh tim kecil yang bisa bermanuver dalam hitungan jam.
2. Conviction (Keyakinan) adalah Bahan Bakar Termahal
Kenapa pasukan yang kalah jumlah bisa menang? Karena mereka punya purpose yang jelas. Mereka tahu kenapa mereka ada di sana. Sementara lawan mereka bertempur karena perintah, pasukan Yarmuk bertempur karena keyakinan.
Dalam dunia bisnis, ini adalah Budaya Perusahaan. Tim yang kerja cuma demi gaji akan kalah telak dengan tim yang merasa mereka sedang mengubah dunia. Keyakinan itu menular, dan keyakinan itulah yang bikin orang sanggup melakukan hal-hal yang di luar logika.
3. Keberanian Mengambil Risiko yang “Gila”
Khalid bin Walid melakukan sesuatu yang secara logika militer dianggap tabu: dia menarik mundur pasukan elitnya di tengah pertempuran hanya untuk memancing musuh masuk ke jebakan.
Itu berisiko tinggi. Kalau gagal, habis semua.
Tapi itulah entrepreneurship. Kemenangan besar tidak pernah datang dari jalan yang aman-aman saja.
Ada saatnya Anda harus berani mengambil langkah yang bikin orang lain geleng-geleng kepala, selama Anda punya perhitungan taktis di baliknya.
Penutup: Kemenangan Itu Titipan, Strategi Itu Ikhtiar
Yarmuk mengajarkan kita bahwa logika manusia itu ada batasnya. Kita boleh punya rencana bisnis paling canggih sedunia, tapi jangan lupa ada faktor “X”semangat tim, momentum pasar, dan yang paling utama, izin dari Allah SWT.
Jadi, kalau hari ini bisnis Anda terasa berat karena kalah modal atau kalah nama besar, ingatlah Yarmuk.
Jangan fokus pada apa yang Anda tidak miliki, tapi fokuslah pada seberapa lincah dan berani Anda menggunakan apa yang ada di tangan. Karena pada akhirnya, pasar tidak peduli seberapa besar modal Anda. Pasar hanya peduli seberapa tangguh Anda bertahan di medan tempur. (***)
Penulis: Bobby Sumantri/Pemimpin Perusahaan Ruzka Indonesia


Komentar