Nasional
Beranda ยป Berita ยป Warga Desa Bojong Didorong Ikut BPJS Ketenagakerjaan, Ini Manfaatnya bagi Pekerja Mandiri

Warga Desa Bojong Didorong Ikut BPJS Ketenagakerjaan, Ini Manfaatnya bagi Pekerja Mandiri

Iwan, Kepala Seksi Pemerintahan (Kasipem) Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat memberikan pengarahan kepada peserta dalam kegiatan Musyawarah Desa (Musdes) Tahun Anggaran 2026 di Desa Bojong. (Foto: Dadang)

RUZKA INDONESIA โ€” Kesadaran akan pentingnya perlindungan kerja bagi masyarakat desa terus didorong. Pemerintah Desa Bojong, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menggelar Musyawarah Desa (Musdes) Tahun Anggaran 2026 yang dirangkaikan dengan sosialisasi BPJS Ketenagakerjaan bagi masyarakat.

Langkah ini dinilai strategis, mengingat sebagian besar warga Desa Bojong bekerja di sektor informal seperti pedagang, buruh harian, petani, hingga pekerja lepas yang rentan terhadap risiko kecelakaan kerja maupun kematian tanpa perlindungan jaminan sosial.

Karena itu, pemerintah desa tidak hanya fokus pada perencanaan pembangunan fisik, tetapi juga mulai memperkuat perlindungan sosial bagi warganya sebagai bagian dari pembangunan yang menyeluruh dan berkelanjutan.

Kehadiran Unsur Pemerintahan dan Stakeholder Desa

Dalam konteks tersebut, kegiatan Musdes Tahun Anggaran 2026 menjadi ruang pertemuan berbagai unsur pemerintahan dan masyarakat desa. Kegiatan Musdes tersebut dihadiri oleh Iwan selaku Kepala Seksi Pemerintahan (Kasipem) Kecamatan Kemang, Kusnadi sebagai Kepala Desa Bojong dan Erwan dalam kapasitasnya sebagai Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD), serta para Ketua RT dan RW se-Desa Bojong.

Tim Gabungan Bergerak Cepat Lakukan Pengecekan Jembatan Putus di Pakenjeng Garut

Turut hadir pula Dadang, petugas Agen Perisai BPJS Ketenagakerjaan Bogor Kota yang memberikan edukasi langsung kepada Ketua RT dan RW serta para kader Posyandu untuk disampaikan ke masyarakat terkait pentingnya perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan, khususnya bagi pekerja mandiri atau Bukan Penerima Upah (BPU).

Pembahasan Dana Desa dan BLT 2026

Selanjutnya, dalam agenda Musdes, pemerintah desa bersama masyarakat membahas penggunaan Belanja Dana Desa Tahun 2026 secara terbuka dan partisipatif, termasuk verifikasi, finalisasi, serta penetapan Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-DD). Pembahasan berlangsung dinamis dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat guna memastikan bantuan yang diberikan benar-benar tepat sasaran dan sesuai kebutuhan warga.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Seksi Pemerintahan (Kasipem) Kecamatan Kemang, Iwan menegaskan pentingnya Musyawarah Desa sebagai forum strategis dalam pembangunan.

Ia menyebut, โ€œMusyawarah desa ini menjadi bagian penting dalam memastikan program pemerintah berjalan tepat sasaran dan sesuai kebutuhan masyarakat,โ€ katanya kepada RUZKA INDONESIA, Selasa (7/4/2026), usai kegiatan itu.

Bangunan BK Depok Berada Diatas Saluran Air, Pengamat: Tidak Ada Alasan, Bongkar!

Iwan juga mengapresiasi keterlibatan seluruh unsur dalam kegiatan tersebut, dengan menambahkan, โ€œKami melihat partisipasi masyarakat dalam Musdes ini sudah sangat baik, mulai dari pemerintah desa hingga RT dan RW, sehingga keputusan yang diambil benar-benar representatif,โ€ ujarnya.

Selain itu, Iwan menyoroti pentingnya perlindungan sosial bagi warga desa. โ€œKami sangat mendukung adanya sosialisasi BPJS Ketenagakerjaan dalam forum ini, karena perlindungan kerja bagi masyarakat, khususnya pekerja mandiri, menjadi hal yang sangat penting saat ini,โ€ katanya.

Dia pun berharap program tersebut dapat berkelanjutan dan menjangkau lebih luas. โ€œKe depan, kami berharap pemerintah desa bersama perangkat wilayah dapat terus mendorong masyarakat agar memiliki jaminan sosial ketenagakerjaan demi meningkatkan kesejahteraan dan ketahanan ekonomi keluarga,โ€ tutupnya.

Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Desa Bojong, Kusnadi, ikut menegaskan bahwa Musdes merupakan forum penting dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan desa yang transparan dan akuntabel.

โ€œMusyawarah desa ini adalah bentuk transparansi dan keterlibatan masyarakat dalam menentukan arah pembangunan desa ke depan. Semua keputusan diambil bersama agar program yang dijalankan benar-benar sesuai kebutuhan warga,โ€ ujar Kusnadi.

Dorong Kolaborasi Strategis TNI-Polri, Polres Garut Terima KKL Seskoad

Ia juga menambahkan bahwa pembangunan desa tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga harus menyentuh aspek perlindungan sosial. โ€œKami ingin pembangunan di Desa Bojong tidak hanya terlihat secara fisik, tetapi juga dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat, termasuk dalam hal perlindungan kerja,โ€ tambahnya.

Sosialisasi BPJS Ketenagakerjaan bagi Pekerja Mandiri

Sebagai kelanjutan dari agenda tersebut, kegiatan Musdes kemudian ditutup dengan sosialisasi BPJS Ketenagakerjaan Mandiri (BPU) sebagai bagian dari upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Dalam pemaparannya, Dadang sebagai Agen Perisai menjelaskan bahwa perlindungan kerja tidak hanya diperuntukkan bagi pekerja formal, tetapi juga sangat penting bagi masyarakat desa yang bekerja secara mandiri. Menurutnya, masih banyak masyarakat yang belum menyadari bahwa aktivitas kerja sehari-hari memiliki risiko yang bisa terjadi kapan saja.

Dadang, Agen Perisai Terbaik di Kota Bogor saat memberikan materi program BPU BPJS Ketenagakerjaan. (Foto: Dokumentasi Dadang)

โ€œMasih banyak masyarakat yang belum sadar bahwa pekerjaan sehari-hari memiliki risiko. Padahal risiko itu bisa datang kapan saja, baik saat bekerja di lapangan, di jalan, maupun saat menjalankan usaha,โ€ ujar Dadang.

Ia menandaskan bahwa BPJS Ketenagakerjaan hadir sebagai solusi perlindungan yang mudah diakses oleh semua kalangan. โ€œBPJS Ketenagakerjaan hadir untuk memberikan rasa aman. Dengan iuran yang relatif ringan, masyarakat sudah bisa mendapatkan perlindungan dari risiko kecelakaan kerja hingga kematian,โ€ jelasnya.

Manfaat Nyata BPJS Ketenagakerjaan bagi Masyarakat Desa

Lebih lanjut, Dadang menekankan bahwa manfaat program ini bersifat nyata dan langsung dirasakan oleh peserta maupun keluarganya. Ia menjelaskan bahwa dalam program BPJS Ketenagakerjaan Mandiri terdapat perlindungan Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) yang mencakup biaya pengobatan tanpa batas sesuai kebutuhan medis, santunan sementara bagi peserta yang tidak mampu bekerja, hingga santunan cacat dan santunan kematian akibat kecelakaan kerja.

Selain itu, terdapat pula Jaminan Kematian (JKM) yang memberikan santunan kepada ahli waris apabila peserta meninggal dunia bukan akibat kecelakaan kerja, termasuk biaya pemakaman serta dukungan pendidikan bagi anak sesuai ketentuan yang berlaku.

Kepala Desa Bojong, Kusnadi (kiri), bersama Agen Perisai BPJS Ketenagakerjaan Bogor Kota, Dadang (kanan), usai kegiatan sosialisasi BPJS Ketenagakerjaan dalam rangka Musyawarah Desa (Musdes) Tahun Anggaran 2026 di Desa Bojong, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor. (Foto: Dokumentasi Dadang)

โ€œKalau terjadi kecelakaan kerja, seluruh biaya pengobatan ditanggung sampai sembuh sesuai kebutuhan medis. Bahkan jika meninggal dunia, ada santunan untuk keluarga yang ditinggalkan. Ini adalah bentuk perlindungan nyata dari negara untuk masyarakat,โ€ kata Dadang yang juga Agen Perisai Terbaik di Kota Bogor.

Ia menambahkan bahwa keunggulan lain dari program ini adalah iuran yang relatif terjangkau sehingga dapat diikuti oleh berbagai lapisan masyarakat, termasuk pekerja informal di desa, sehingga tidak ada lagi alasan bagi masyarakat untuk tidak memiliki perlindungan kerja. Manfaat lainnya terdapat juga opsi tambahan yakni Jaminan Hari Tua (JHT).

Peran Strategis RT dan RW sebagai Ujung Tombak

Dalam implementasinya, peran Ketua RT dan RW dalam kegiatan ini juga dinilai sangat strategis. Mereka diharapkan menjadi perpanjangan tangan pemerintah dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat karena memiliki kedekatan langsung dengan warga dalam kehidupan sehari-hari. Dengan komunikasi yang lebih intens di tingkat lingkungan, penyebaran informasi dinilai akan lebih efektif dan merata.

Para Ketua RT dan RW se-Desa Bojong mengikuti kegiatan Musyawarah Desa (Musdes) Tahun Anggaran 2026 di Desa Bojong, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor. (Foto: Dadang)

Salah satu Ketua RW Desa Bojong mengaku mendapatkan pemahaman baru setelah mengikuti sosialisasi tersebut. โ€œSelama ini banyak warga yang belum tahu manfaat BPJS Ketenagakerjaan. Setelah sosialisasi ini, kami akan menyampaikan langsung ke warga agar mereka paham pentingnya perlindungan kerja,โ€ ujarnya.

Hal serupa disampaikan oleh salah satu Ketua RT yang menilai program ini sangat relevan dengan kondisi masyarakat. โ€œMayoritas warga kami pekerja harian dan usaha sendiri. Program ini sangat membantu kalau terjadi hal yang tidak diinginkan, jadi memang perlu disampaikan ke semua warga,โ€ katanya.

Antusiasme Warga dan Tumbuhnya Kesadaran

Antusiasme warga juga terlihat selama kegiatan berlangsung. Banyak warga yang aktif bertanya dan menunjukkan ketertarikan terhadap program BPJS Ketenagakerjaan. Salah seorang warga Desa Bojong mengaku baru memahami bahwa pekerja mandiri juga dapat menjadi peserta program tersebut.

โ€œTernyata kita yang kerja mandiri juga bisa ikut. Iurannya juga masih terjangkau, jadi ini sangat membantu buat jaga-jaga ke depan,โ€ ujarnya.

Kesadaran yang mulai tumbuh di tengah masyarakat ini menjadi langkah awal penting dalam membangun budaya perlindungan kerja di tingkat desa. Pemerintah Desa Bojong pun berharap sosialisasi ini tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata, tetapi benar-benar diikuti dengan peningkatan jumlah peserta BPJS Ketenagakerjaan di wilayahnya.

Dorongan Kepesertaan untuk Kesejahteraan Bersama

Dalam kaitan tersebut, Kusnadi kembali menegaskan bahwa pihak desa akan terus mendorong masyarakat untuk ikut serta dalam program tersebut. โ€œKami berharap setelah sosialisasi ini, masyarakat tidak hanya memahami, tetapi juga ikut serta menjadi peserta. Karena ini bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk melindungi keluarga,โ€ ujarnya.

Kartu peserta BPJS Ketenagakerjaan yang menjadi bukti kepesertaan masyarakat dalam program jaminan sosial ketenagakerjaan, termasuk bagi pekerja sektor informal yang mendaftar langsung dalam kegiatan tersebut. (Foto: Dadang)

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah desa dan perangkat wilayah dalam memastikan informasi tersampaikan secara menyeluruh.

Dari Imbauan Menjadi Kebutuhan Nyata

Pada akhirnya, upaya mendorong warga Desa Bojong untuk ikut BPJS Ketenagakerjaan bukan sekadar imbauan, melainkan bagian dari strategi besar dalam membangun ketahanan sosial masyarakat desa. Melalui Musdes 2026, arah pembangunan desa tidak hanya difokuskan pada aspek fisik, tetapi juga pada perlindungan dan kesejahteraan warganya.

Sejalan dengan itu, dorongan kepada warga menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan menjadi langkah nyata agar setiap pekerja mandiri di Desa Bojong dapat bekerja dengan lebih tenang, terlindungi dari berbagai risiko, serta memiliki jaminan bagi masa depan keluarganya.

Dengan perlindungan yang semakin luas, Desa Bojong diharapkan mampu tumbuh menjadi desa yang tidak hanya berkembang, tetapi juga tangguh dan sejahtera bagi seluruh warganya. (***)

Jurnalis/Editor: Djoni Satria

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Berlaku Nasional, Polres Garut Imbau Masyarakat Manfaatkan Layanan Gratis Contact Center 110

05

Suzuki Carry Minivan 2026, Irit dengan Kegagahan dan Kenyamanan

06

Depok akan Bangun Pabrik Pengelolaan Sampah RDF di TPA Cipayung

07

Warga Dukung Pembangunan Jogging Track Diatas Air Situ 7 Muara Depok, Benarkah Itu?

Sorotan






Kolom