RUZKA INDONESIA; NGADA NTT — Kabar duka dari Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyita perhatian publik. Seorang siswa kelas IV SD berinisial YBS (10 tahun) ditemukan meninggal dunia diduga gantung diri di pohon cengkeh, Kecamatan Jerebuu, Kamis (29/1/2026). Peristiwa ini menyisakan duka mendalam, terlebih setelah beredar informasi bahwa korban sempat meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya.
Warga sekitar menyebut, keluarga korban hidup dalam keterbatasan ekonomi. Isu yang beredar di tengah masyarakat menyebut, YBS diduga nekat mengakhiri hidup karena tidak dibelikan buku tulis. Kabar ini kemudian meluas di media sosial (medsos), memantik simpati sekaligus perbincangan luas tentang kondisi sosial, pendidikan, dan perhatian terhadap anak.
Peristiwa bunuh diri (bundir) siswa SD itu turut disorot pengamat politik Rocky Gerung. Dalam video di kanal YouTube pribadinya yang diunggah Selasa (3/2/2026), Rocky menyinggung ironi di balik tragedi ini.
“Pemerintah hilang menggelorakan kembali kebesaran bangsa, bahkan sampai di forum-forum internasional, dibatalkan oleh peristiwa seorang anak berusia 10 tahun memutuskan gantung diri karena ibunya tidak bisa menyediakan dia buku tulis,” ujar Rocky.
Rocky menilai, buku tulis semestinya bukan menjadi beban keluarga, melainkan bagian dari hak dasar anak yang dijamin negara melalui sistem pendidikan.
“Buku tulis adalah kemampuan seseorang untuk memperlihatkan bahwa dia berniat untuk menjadi pemimpin di masa depan, menjadi berguna bagi bangsa, menjadi seseorang yang terdidik,” kata Rocky.
Rocky menyebut, peristiwa ini menjadi cermin adanya kesenjangan yang nyata di masyarakat. “Kita ada di dalam kondisi semacam itu untuk mulai membaca bagaimana disparitas pada akhirnya menghasilkan misery,” tandasnya.
Di medsos, warganet ramai mengungkapkan keprihatinan. Banyak yang mempertanyakan bagaimana kebutuhan paling dasar seorang siswa bisa menjadi persoalan besar. Sebagian lain menyoroti pentingnya perhatian keluarga, lingkungan, dan sekolah terhadap kondisi psikologis anak.
“Sedih sekali. Harusnya sekolah dan sekitar bisa lebih peka,” tulis seorang pengguna Instagram.
Komentar lain menyebut, tragedi ini menjadi pengingat bahwa isu pendidikan bukan hanya soal kurikulum, tetapi juga soal akses dan kepedulian.
Sejumlah akun juga mengajak masyarakat untuk tidak hanya berhenti pada empati, tetapi mendorong solusi nyata agar kasus serupa tidak terulang, terutama di daerah dengan keterbatasan akses ekonomi dan fasilitas pendidikan.
Hingga kini, peristiwa tersebut masih menjadi perhatian warga. Duka keluarga dan masyarakat Ngada menjadi potret nyata bahwa persoalan anak, pendidikan, dan kemiskinan kerapkali saling berkaitan dalam lingkaran yang sulit diputus.
(Berbagai Sumber)
Editor: Endro Yuwanto


Komentar