RUZKA INDONESIA — Bangunan Terminal Cipaku berdiri megah di wilayah Kadipaten, Kabupaten Majalengka. Namun alih-alih menjadi simpul transportasi dan penggerak ekonomi warga, terminal tersebut justru tampak sepi dan terbengkalai.
Proyek yang dibangun dengan kucuran dana besar dari APBD dan APBN itu kini lebih menyerupai monumen mati—berdiri tanpa fungsi dan manfaat nyata.
Kondisi ini menuai kritik keras dari Ketua Komisi III DPRD Majalengka, Iing Misbahuddin. Ia menilai mangkraknya Terminal Cipaku sebagai cermin kegagalan perencanaan pembangunan infrastruktur yang tidak berpijak pada kebutuhan riil masyarakat.
“Setiap rupiah yang berasal dari uang rakyat harus kembali ke rakyat dalam bentuk manfaat. Sangat disayangkan jika infrastruktur semegah ini justru dibiarkan tidak berfungsi,” kata Iing, Kamis ( 29/1/2026).
Menurut Iing, sepinya aktivitas di Terminal Cipaku patut menjadi alarm bagi pemerintah daerah. Ia mendesak instansi terkait melakukan evaluasi menyeluruh, mulai dari perencanaan awal hingga implementasi kebijakan transportasi.
“Harus dibuka secara jujur, apakah ada kekeliruan dalam penentuan trayek, lemahnya koordinasi antarinstansi, atau masalah lain yang sejak awal diabaikan,” terangnya.
Komisi III DPRD, kata Iing, mencatat setidaknya tiga persoalan krusial yang perlu segera ditangani. Pertama, evaluasi total perencanaan untuk mengungkap penyebab utama terminal tidak diminati.
Kedua, langkah penyelamatan aset negara agar nilai bangunan tidak terus menyusut akibat terbengkalai. Ketiga, pengaktifan kembali fungsi terminal sebagai katalisator ekonomi, terutama bagi pelaku UMKM dan aktivitas ekonomi lokal di sekitarnya.
Bagi Iing, pembiaran terhadap Terminal Cipaku bukan semata persoalan fisik bangunan, melainkan indikasi pemborosan anggaran dan lemahnya pengawasan terhadap proyek publik.(***)
Jurnalis: Eko Widiantoro
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com


Komentar