RUZKA INDONESIA — Dalam rangka menyemarakkan bulan suci Ramadhan, Direktorat Kebudayaan Universitas Indonesia (UI) bekerja sama dengan Komoenitas Makara dan Urban Spiritual Indonesia menyelenggarakan Majelis Nyala Purnama #10, dengan tema: “Rahmatan Lil Alamin (Cinta Kasih Terhadap Semua)”.
Adapun judul acara adalah “Tadarus Cinta: Cinta Kasih Terhadap Semua”.
Acara yang berlangsung di Makara Art Center UI pada Jumat malam 27 Februari 2026 ini dikemas dalam berbagai bentuk kegiatan yang sekaligus untuk menyemarakkan bulan suci Ramadhan, seperti orasi budaya, musik, tari, pembacaan puisi, dan meditasi.
Para pengisi acara: Dr. Ngatawi Al Zastrouw, Dr. Turita Indah Setyani, Drs. Raymond Michael Menot, Rocky Gerung, Dwi Woro Retno Mastuti M.Hum, Fitra Manan, Swara SeadaNya, dan Yogie Sany.
Cinta adalah hak semua manusia, dan oleh karena itu setiap upaya membunuh dan mengabaikan cinta harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan fitrah kemanusiaan.
“Saat ini kita melihat maraknya penyalahgunaan cinta. Atas nama cinta orang mencaci, membenci bahkan saling menista sesamanya. Melalui Majelis Nyala Purnama kita ingin berbagi cinta untuk semua. Menebar Cinta yang menyehatkan jiwa dan raga, cinta yang membahagiakan lahir dan batin,” jelas Direktur Kebudayaan Universitas Indonesia Dr. Ngatawi Al Zastrouw.
Tadarus cinta adalah sebuah dialektika hati di mana kita tidak hanya membaca lembaran kasih sayang, tetapi juga menghayati setiap denyut kepedulian bagi sesama tanpa memandang kasta atau rupa.
Dalam setiap bait interaksinya, terkandung semangat untuk menyebarkan kehangatan yang inklusif, mengubah perbedaan menjadi harmoni, dan menjadikan kasih sebagai bahasa universal yang menyatukan jiwa-jiwa yang haus akan kedamaian.
“Mencintai semua adalah bentuk ibadah sosial tertinggi, sebuah perayaan kemanusiaan yang memastikan bahwa tak ada satu pun hati yang dibiarkan dingin dalam kesendirian,” jelas Ketua Komoenitas Makara Fitra Manan.
Salah satu pembicara, Dwi Woro Retno Mastuti, dalam forum ini banyak menyampaikan testimoni tentang bagaimana perjalanan hidupnya merawat kecintaannya pada wayang potehi.
Menurutnya cara Tuhan menganugerahkan rasa cinta tersebut sungguh di luar kebiasaan, bahkan saking cinta nya, Woro dia rela menelusuri dan meneliti Potehi sampai ke beberapa belahan dunia, seperti Belanda, Jerman, dan Amerika Serikat, dengan duit yang sangat minim, tapi ajaibnya semua bisa terlaksana.
Ia sendiri sampai tidak percaya. Sementara itu, Raymond Michael Menot pada malam itu banyak membahas makna cinta dalam koridor keahliannya di dunia antropologi budaya.
Rocky Gerung, yang selama ini dikenal sebagai pakar ilmu filsafat, menyampaikan tentang makna cinta tentang patriotisme. Rocky menyindir tentang kasus salah satu penerima beasiswa LPDP, Dwi Sasetyaningtyas, yang ramai dihujat oleh warga net dengan narasi tidak punya rasa nasionalisme dan tidak cinta pada tanah air.
Menurut Rocky, Dwi Sasetyaningtyas bukan tidak punya rasa nasionalisme, melainkan tidak punya jiwa patriotisme.
“Pada malam yang penuh keberkahan ini, kita berkumpul dalam lingkaran Meditasi dalam kegiatan– Tadarus Cinta dengan tema: “Cinta Kasih untuk Semua” Kita hadir bukan hanya untuk membaca ayat-ayat suci, tetapi juga untuk menadabburi, merasakan, dan menghidupkan cinta kasih dalam diri.”, ujar pendiri Urban Spiritual Indonesia Dr. Turita Indah Setyani ketika memimpin sesi meditasi di akhir acara.
Acara Tadarus Cinta di Majelis Nyala Purnama kali ini juga dijadikan momen dimulainya Syiar Ramadhan Kampus UI yang akan berlangsung hingga tanggal 14 Maret 2026. (***)
Sumber: Humas Komoenitas Makara
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com


Komentar