Nasional
Beranda ยป Berita ยป Survei Pilkada, Orang Depok Matre, Uangnya Mau, Pilihan Sesuai Hati Nurani

Survei Pilkada, Orang Depok Matre, Uangnya Mau, Pilihan Sesuai Hati Nurani

Survei Indikator Politik Indonesia: Orang Depok matre,ย karena juga menganggap politik uang merupakan sebuah kewajaran. (Foto ilustrasi: Dok Republika)
Survei Indikator Politik Indonesia: Orang Depok matre, karena juga menganggap politik uang merupakan sebuah kewajaran. (Foto ilustrasi: Dok Republika)

RUZKA-REPUBLIKA NETWORK — Hasil survei Indikator Politik Indonesia dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Depok, tidak hanya mengukur elektabilitas pasangan calon (Paslon), tapi juga terungkap masalah money politik (politik uang).

Dalam hasil survei yang datanya diperoleh, Selasa (29/01/2024), terungkap mayoritas orang di Kota Depok tidak menolak politik uang.

Dari hasil survei yang digelar 3-12 Oktober 2024, dengan sampel 400 orang warga Kota Depok, sebanyak 73,7 persen responden menyatakan, warga Depok bersedia menerima uang dari calon kepala daerah yang berlaga di pilkada.

Orang Depok bisa dibilang matre karena juga menganggap politik uang merupakan sebuah kewajaran.

Namun, terungkap juga fakta bahwa walaupun orang Depok matre atau mau menerima uang, tapi tidak memengaruhi pilihan politik, pilihan sesuai hati nurani.

Polsek Karangpawitan Polres Garut Atur Lalu Lintas Demi Kenyamanan Warga Saat Ngabuburit

Orang Depok memilih calon kepala daerah sesuai dengan preferensi masing-masing dan pilihan sesuai dengan hati nurani.

"Politik uang belum tentu efektif. Terungkap sebanyak 73.7 persen orang Depok hanya akan menerima uangnya, masalah memilih calon ditentukan sendiri sesuai hati nurani," ujar Direktur Indikator Politik Indonesia Fauny Hidayat.

Adapun, sebanyak 16 persen responden lainnya mengaku akan menerima uang tersebut dan akan memilih calon kepala daerah yang telah memberikan uang.

Sedangkan sebanyak 4,8 persen responden mengaku akan menerima uang dan pilihan politiknya akan jatuh pada calon kepala daerah yang memberikan nominal uang atau hadiah paling besar.

Hanya sekitar 5 persen responden yang menyatakan tidak akan menerima uang dari calon kepala daerah yang berlaga di Pilkada Depok.

Hadapi Operasi Ladaya 2026, Polres Garut Gelar Rapat Koordinasi Lintas Sektor

Merujuk pada temuan itu, efektivitas politik uang dalam mengubah pilihan penerima terlihat tidak menentu.

Terlebih saat melihat persentase toleransi warga Depok terhadap politik uang antara yang mewajari dan tidak hanya berbanding tipis.

Sebanyak 54,5 persen orang Depok menganggap politik uang di Pilkada sebagai hal yang wajar dan dapat diterima. Sedangkan 45,5 persen lainnya tidak bisa menerima politik uang.

Sementara itu, hasil survei Indikator Politik Indonesia terkait elektabilitas Paslon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Depok, Supian Suri dan Chandra Rahmansyah (SS-Chandra) unggul dan mendapatkan respons positif dari masyarakat Depok dibandingkan Paslon Imam Budi Hartono-Ririn Farabi.

Adapun dalam keterangan rilis survei Indikator pada simulasi top of mind, Paslon SS-Chandra paling banyak disebut, sebanyak 42.7 persen.

Polisi Tangkap Pelaku Pembunuh Wanita yang Ditemukan Tinggal Kerangka di Depok

Sedangkan, Paslon Imam-Ririn sebagai petahana Depok nilainya 36.1 persen. Sementara yang belum menentukan pilihan 15.9 persen.

Hasil survei juga menunjukkan bahwa banyak warga Kota Depok memberikan kepercayaan kepada Paslon SS-Chandra.

Paslon nomor urut 02 SS-Chandra dinilai mampu memimpin Kota Depok dan programnya mampu menjawab berbagai persoalan di Kota Depok, terutama terkait kesejahteraan dan pembangunan infrastruktur.

Berikutnya, dalam survei juga disebut, seandainya pemilihan langsung Wali Kota Depok diadakan hari ini, siapa yang akan ibu/bapak pilih sebagai wali kota?

Dari simulasi 2 paslon, SS-Chandra unggul tipis dengan dukungan 49.3 persen. Paslon nomor 01 Imam-Ririn mendapat dukungan sebesar 46.1 persen. Sedangkan sisanya merupakan massa mengambang sekitar 4.6 persen.

Sebagai informasi, survei ini menggunakan metode multistage random sampling. Sampel dipilih dengan ketentuan mempunyai hak pilih dalam Pemilu, yaitu yang sudah berumur 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah. Melalui metode itu, ukuran sampel memiliki toleransi kesalahan atau margin of error kurang lebih 5 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Survei ini dilakukan dengan cara wawancara tatap muka bersama pewawancara terlatih. (***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Berlaku Nasional, Polres Garut Imbau Masyarakat Manfaatkan Layanan Gratis Contact Center 110

05

Suzuki Carry Minivan 2026, Irit dengan Kegagahan dan Kenyamanan

06

Depok akan Bangun Pabrik Pengelolaan Sampah RDF di TPA Cipayung

07

Warga Dukung Pembangunan Jogging Track Diatas Air Situ 7 Muara Depok, Benarkah Itu?

Sorotan






Kolom