RUZKA INDONESIA — BPJS Ketenagakerjaan Sukabumi–Pelabuhan Ratu mendorong penguatan kapasitas Agen Perisai melalui skema sertifikasi profesi yang ke depan dinilai perlu menjadi standar sebelum terjun ke masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Plt. Kepala BPJS Ketenagakerjaan Sukabumi–Pelabuhan Ratu, Supriyatna, usai menghadiri Pelatihan Agen Perisai yang diselenggarakan Himpunan Wadah Perisai Jawa Barat (Hiwapraja) di Bali Convention Hall, RS Kartika Kasih Sukabumi, Sabtu (4/4/2026).
Menurut Supriyatna, keberadaan Hiwapraja sebagai wadah organisasi memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya Agen Perisai, bahkan dinilai sebagai model yang belum banyak ditemukan di daerah lain.
“Hiwapraja ini menurut saya sebuah wadah yang luar biasa, khususnya di Jawa Barat. Bahkan secara nasional, mungkin baru ada di Jawa Barat,” ujar Supriyatna kepada RUZKA INDONESIA usai acara pelatihan.
Ia menilai, pelatihan yang digelar bukan sekadar peningkatan kapasitas biasa, melainkan menjadi bagian penting dalam memastikan kesiapan agen menghadapi tantangan di lapangan, terutama dalam menjangkau pekerja sektor informal yang selama ini masih minim perlindungan.
“Pelatihan ini untuk memastikan teman-teman Agen Perisai memiliki kemampuan dan skill yang mumpuni. Selain itu, juga untuk meng-upgrade semangat mereka dalam bekerja di lapangan, dan itu saya lihat sangat luar biasa,” katanya.
Dorong Sertifikasi Sebelum Terjun ke Masyarakat
Lebih jauh, Supriyatna mengungkapkan adanya dorongan kuat agar ke depan setiap calon Agen Perisai wajib mengikuti proses sertifikasi sebelum menjalankan tugas di lapangan.
“Tadi juga ada usulan agar setiap calon anggota Agen Perisai sebelum turun ke lapangan harus melalui proses sertifikasi. Saya sangat mendukung hal itu,” tegasnya.
Menurutnya, sertifikasi yang difasilitasi melalui Hiwapraja akan menjadi langkah penting dalam memastikan kualitas dan kesiapan agen secara menyeluruh.
“Silakan mereka melakukan upskilling terlebih dahulu melalui Hiwapraja, sehingga ketika mereka terjun ke masyarakat tidak lagi kebingungan,” ujarnya.
Ia menilai, salah satu persoalan yang kerap terjadi adalah banyaknya agen yang langsung terjun tanpa pembekalan memadai, sehingga berdampak pada kinerja di lapangan.
“Kalau agen langsung turun tanpa bekal yang cukup, biasanya mereka akan meraba-raba. Haknya apa, kewajibannya apa, itu belum paham. Ini tentu memengaruhi kinerja mereka,” katanya.
Dengan adanya sertifikasi dan pembekalan awal, lanjut dia, Agen Perisai diharapkan memiliki pemahaman yang utuh sejak awal.
“Kalau mereka sudah siap sejak awal, mereka bisa langsung fokus pada tugasnya, yaitu menjangkau peserta dan meningkatkan kepesertaan,” tambahnya.
Materi Dasar Jadi Fondasi Kinerja Agen Perisai
Supriyatna menjelaskan bahwa proses pembekalan dalam sertifikasi nantinya dapat mencakup berbagai materi dasar yang wajib dipahami oleh calon agen.
“Pembekalan itu bisa dimulai dari pengenalan BPJS Ketenagakerjaan, program-programnya, kemudian Perisai itu apa, serta hak dan kewajiban mereka,” jelasnya.

Menurutnya, pemahaman dasar ini akan menjadi fondasi penting bagi agen dalam menjalankan tugas secara profesional.
“Dengan begitu, ketika mereka sudah resmi menjadi Agen Perisai, mereka sudah siap bekerja. Tidak lagi bingung harus mulai dari mana,” ujarnya.
Ia juga menyoroti bahwa kesiapan tersebut akan berdampak langsung terhadap produktivitas agen.
“Mereka bisa langsung fokus pada akuisisi peserta dan juga penghasilan mereka, karena di dalam tugasnya ada insentif yang bisa mereka kejar,” katanya.
Hiwapraja Dinilai Jadi Pusat Pembelajaran
Lebih lanjut, Supriyatna menilai bahwa Hiwapraja memiliki potensi besar sebagai pusat pembelajaran karena di dalamnya terdapat banyak agen berpengalaman di lapangan.
“Di dalam Hiwapraja ini banyak Agen Perisai senior yang punya pengalaman dan prestasi yang luar biasa. Ini bisa menjadi tempat belajar yang sangat baik bagi para agen,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa wadah tersebut harus dimanfaatkan secara maksimal oleh seluruh Agen Perisai di Jawa Barat.
“Wadah ini harus dimanfaatkan oleh semua Perisai, karena banyak pengalaman yang bisa mendorong mereka menjadi lebih sukses,” katanya.
Selain itu, ia juga mendorong agar Hiwapraja terus memperkuat konsolidasi internal dan menyatukan seluruh wadah yang ada di daerah, khususnya di Jawa Barat.
“Semua wadah di Jawa Barat sebaiknya berada dalam satu pintu, yaitu Hiwapraja, sehingga lebih terarah dan memiliki kekuatan yang sama,” jelasnya.
Tantangan Besar: Pekerja Informal Belum Maksimal Terjangkau
Di sisi lain, Supriyatna mengakui bahwa tantangan terbesar saat ini adalah masih rendahnya tingkat kepesertaan dari sektor pekerja informal.
“Pekerja informal itu jumlahnya sangat besar, tetapi yang terlindungi masih relatif kecil. Ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama,” ujarnya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya peran Agen Perisai sebagai ujung tombak dalam menjangkau segmen tersebut.
“Agen Perisai adalah garda terdepan. Mereka yang langsung berhadapan dengan masyarakat, jadi kualitas mereka sangat menentukan,” katanya.
Ia berharap, dengan adanya pelatihan dan rencana sertifikasi, kualitas Agen Perisai ke depan akan semakin meningkat dan mampu menjawab tantangan tersebut.
Menuju Standar Profesional Agen Perisai
Dengan dorongan sertifikasi dan penguatan kapasitas melalui Hiwapraja, BPJS Ketenagakerjaan Sukabumi–Pelabuhan Ratu optimistis peran Agen Perisai akan semakin profesional dan berdampak.
Langkah ini dinilai menjadi bagian penting dalam membangun sistem yang lebih terstruktur, di mana setiap agen memiliki standar kompetensi yang jelas sebelum terjun ke lapangan.
Ke depan, keberadaan Agen Perisai tidak hanya menjadi perpanjangan tangan program, tetapi juga menjadi aktor utama dalam memperluas perlindungan jaminan sosial bagi pekerja, khususnya di sektor informal yang selama ini belum sepenuhnya terjangkau. (***)
Jurnalis/Editor: Djoni Satria


Komentar