RUZKA INDONESIA — Saat umat Muslim sedang menjalankan ibadah puasa, tentara Israel mendadak melakukan penyerangan ke Lebanon.
Serangan mematikan tentara Israel menewaskan 12 orang . Ini merupakan serangan terbaru Israel meskipun ada gencatan senjata dengan kelompok militan Hizbullah yang berbasis di Lebanon.
Presiden Lebanon Joseph Aoun mengutuk serangan mematikan Israel terhadap negaranya. Dilansir kantor berita AFP, Sabtu (21/02/2026), dalam sebuah pernyataan, Aoun menyebut serangan itu sebagai “tindakan agresi terang-terangan yang bertujuan untuk menggagalkan upaya diplomatik” oleh Amerika Serikat dan negara-negara lain untuk membangun stabilitas.
Atas serangan itu, seorang anggota parlemen dari Hizbullah, meminta pemerintah Lebanon untuk menangguhkan pertemuan komite multinasional yang bertugas memantau gencatan senjata.
Washington adalah salah satu dari lima anggota komite yang mengawasi gencatan senjata yang diterapkan pada November 2024 itu. Komite tersebut dijadwalkan untuk bertemu lagi minggu depan.
Israel telah berulang kali membombardir Lebanon meskipun ada gencatan senjata, biasanya dengan alasan menargetkan Hizbullah, tetapi kadang-kadang juga sekutu kelompok tersebut, Hamas.
Serangan Israel pada hari Jumat (20/02/2026) di Lebanon selatan dan timur menewaskan 12 orang, menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, 10 orang di antaranya di timur negara itu.
Militer Israel mengatakan telah menyerang beberapa militan dari unit rudal Hizbullah di tiga pusat komando berbeda di daerah Baalbek. (***)
Jurnalis: Ruzka Azra Muhammad
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com


Komentar