RUZKA INDONESIA — Angka psikologis yang selama ini kita hindari akhirnya muncul juga di layar monitor: Rp 17 ribu per Dolar AS.
Bagi sebagian orang, ini mungkin cuma angka. Tapi bagi pelaku pasar, importir, hingga ibu rumah tangga, ini adalah alarm keras.
Kita tidak bisa lagi cuma duduk manis sambil bilang “fundamental kita kuat.” Saatnya Kementerian Keuangan mengambil langkah yang lebih “berani” dan taktis.
โInilah catatan kritis yang harus segera ada di meja Menteri Keuangan.
โLupakan Dulu Ego Sektoral
Pertama-tama, koordinasi antara Lapangan Banteng (Kemenkeu) dan MH Thamrin (Bank Indonesia) harus seirama, bukan cuma formalitas. BI mungkin sudah habis-habisan intervensi di pasar, tapi itu saja tidak cukup.
Kemenkeu harus mendukung dari sisi fiskal. Pastikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) kita tetap “seksi” di mata investor asing supaya mereka tidak buru-buru tarik kaki dari Indonesia. Kita butuh mereka tetap di sini untuk menjaga cadangan devisa.
โJangan Lembek pada Devisa Hasil Ekspor (DHE)
Sudah saatnya kita lebih tegas soal DHE. Miris rasanya kalau eksportir kita keruk kekayaan alam Indonesia, tapi dolarnya malah parkir di Singapura atau Hong Kong.
Pemerintah perlu pakai jurus stick and carrot yang lebih nyata. Beri insentif pajak yang betul-betul menguntungkan buat mereka yang bawa pulang dolarnya, tapi jangan ragu beri sanksi keras buat yang masih “nakal”. Kita butuh likuiditas dolar di dalam negeri, titik.
โAPBN Harus Jadi “Bantalan”, Bukan Beban
Jujur saja, Rupiah di angka 17.000 itu artinya beban subsidi energi dan bayar utang luar negeri bakal membengkak. Di sini kecerdikan mengelola anggaran diuji.
Kemenkeu harus segera melakukan stress test. Mana proyek yang bisa ditunda, tunda dulu. Alihkan fokus anggaran untuk menjaga daya beli rakyat bawah.
Jangan sampai imported inflation (kenaikan harga barang karena pelemahan kurs) membuat harga beras dan bahan pokok lainnya makin tak terjangkau.
โBerhenti Bergantung pada “Greenback”
Krisis ini jadi pengingat pahit kalau kita terlalu bergantung pada Dolar AS. Percepatan Local Currency Settlement (LCS) bukan lagi pilihan, tapi keharusan. Kalau kita dagang sama Tiongkok, Jepang, atau Thailand, pakailah mata uang masing-masing.
Semakin sedikit kita butuh dolar untuk transaksi harian, semakin kebal kita dari kebijakan suku bunga The Fed yang seringkali bikin pusing negara berkembang.
โKomunikasi yang Menenangkan, Bukan Menyangkal
Pasar itu sensitif. Satu pernyataan yang salah bisa bikin spekulan berpesta. Menteri Keuangan harus tampil dengan narasi yang jujur tapi optimis. Akui kalau kondisi memang berat, tapi tunjukkan bahwa pemerintah punya kendali. Transparansi adalah obat paling manjur untuk meredam kepanikan pasar.
โCatatan Penutup
Menembusnya angka 17.000 adalah “obat pahit” yang harus kita telan. Tapi kalau kita cepat bergerak, ini bisa jadi momentum untuk bersih-bersih struktur ekonomi kita. Intinya: jangan sampai kita telat mengerem saat jalanan sudah mulai licin. (***)
Penulis: Bobby Sumantri/Pengusaha Muda
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com


Komentar