RUZKA INDONESIA — Fakultas Farmasi Universitas Indonesia (FFUI) kembali melahirkan doktor baru melalui penyelenggaraan Promosi Doktor Ilmu Farmasi atas nama Dr. apt. Diah Kartika Pratami, M.Farm.
Sidang terbuka promosi doktor ini dilaksanakan di Ruang Sidang Besar, Gedung Pascasarjana Fakultas Farmasi UI, Depok, pada Senin, 5 Januari 2026.
Dalam sidang tersebut, Dr. Diah mempertahankan disertasi berjudul “Pendekatan Metabolomik untuk Pengembangan Metode Ekstraksi Propolis Lebah Tak Bersengat dengan Natural Deep
Eutectic Solvent (NaDES) Guna Meningkatkan Aktivitas Antioksidan dan Anti-Inflamasi.”
Penelitian ini menawarkan pendekatan komprehensif dalam pengembangan propolis sebagai bahan alam potensial melalui integrasi analisis metabolomik dan penggunaan pelarut hijau.
Dalam pemaparannya, Dr. Diah menjelaskan bahwa penelitian propolis selama ini umumnya hanya berfokus pada identifikasi senyawa atau aktivitas biologis tertentu, tanpa mengaitkannya
secara menyeluruh dengan faktor spesies lebah, lingkungan, serta jenis pelarut yang digunakan.
Melalui pendekatan metabolomik berbasis FTIR dan LC-MS/MS, penelitian ini menunjukkan bahwa profil kimia propolis tidak hanya dipengaruhi oleh vegetasi sumber resin, tetapi juga oleh spesies lebah penghasilnya.
Penelitian ini menganalisis 25 sampel propolis lebah tak bersengat yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia.
Hasil analisis menunjukkan variasi yang cukup luas pada rendemen, kandungan fenolik, dan flavonoid. Variasi tersebut dipengaruhi oleh perbedaan spesies lebah dan keragaman vegetasi di setiap lokasi.
Spesies lebah berukuran tubuh lebih besar, sepertiGeniotrigona thoracica, yang hidup di wilayah dengan sumber resin yang melimpah, cenderung menghasilkan rendemen propolis yang lebih tinggi.
Dari sisi bioaktivitas, ekstrak propolis yang diuji menunjukkan aktivitas antioksidan dan antiinflamasi yang kuat. Uji berbasis sel memperlihatkan kemampuan ekstrak propolis dalam menurunkan mediator inflamasi seperti TNF-α, iNOS, dan nitric oxide (NO). Penelitian ini juga membandingkan ekstrak etanol propolis (EEP) dengan ekstrak propolis menggunakan NaDES.
Beberapa formulasi NaDES, khususnya berbasis kolin klorida, asam laktat, dan propilen glikolmenunjukkan aktivitas biologis yang lebih tinggi dibandingkan ekstrak etanol.
“Aktivitas bioaktif propolis tidak berasal dari satu senyawa tunggal, melainkan merupakan hasil kerja sinergis dari berbagai senyawa yang saling melengkapi melalui mekanisme yang berbeda.
Melalui pendekatan metabolomik, kami juga berhasil mengidentifikasi senyawa penanda yang berkorelasi dengan aktivitas antioksidan dan antiinflamasi, serta menunjukkan perbedaan profil
senyawa antara ekstrak etanol dan ekstrak berbasis Natural Deep Eutectic Solvent,” jelas Dr. Diah.
“Meski hasil yang diperoleh sangat menjanjikan, penelitian ini masih berada pada tahap in vitro. Ke depan, riset akan dilanjutkan ke tahap uji preklinik, meliputi uji keamanan dan uji farmakodinamik sebagai imunomodulator menggunakan hewan coba, agar temuan ini memiliki relevansi klinis yang lebih kuat,” tambahnya.
Prof. Dr. apt. Abdul Mun’im, M.Si., selaku Promotor, menekankan bahwa penelitian ini memiliki nilai strategis dalam pengembangan obat bahan alam.
“Pendekatan metabolomik yang digunakan
mampu menjembatani pemahaman antara kompleksitas kimia propolis dengan aktivitas biologisnya. Selain itu, penggunaan NaDES sebagai pelarut hijau membuka peluang pengembangan produk farmasi berbasis propolis yang lebih ramah lingkungan, aman, dan berkelanjutan,” jelasnya.
Secara keseluruhan, penelitian doktoral ini menegaskan bahwa pendekatan metabolomik memiliki peran penting tidak hanya dalam pemetaan kimia propolis, tetapi juga sebagai dasar ilmiah dalam perancangan metode ekstraksi yang lebih selektif dan berkelanjutan.
Penggunaan NaDES dinilai berpotensi mendukung pengembangan propolis sebagai obat bahan alam yang ramah lingkungan dan aplikatif, sekaligus memperkuat pemanfaatan keanekaragaman hayati Indonesia di bidang kefarmasian. (***)
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com


Komentar