Nasional
Beranda » Berita » Majalengka Bersiap Menyongsong Usia 186 Tahun, Pemkab Tekankan Perayaan Sederhana dan Bermakna

Majalengka Bersiap Menyongsong Usia 186 Tahun, Pemkab Tekankan Perayaan Sederhana dan Bermakna

Bupati Majalengka, Eman Suherman di dampingi Wakil Bupati, Dena Muhamad Ramdhan usai rapat di gedung Yudha. (Foto: Dok Eko Widiantoro)

RUZKA INDONESIA — Pemerintah Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, menggelar rapat pimpinan khusus bersama jajaran eksekutif dan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

Rapat tersebut difokuskan pada satu agenda utama: mematangkan persiapan peringatan Hari Jadi Kabupaten Majalengka ke-186 yang jatuh pada 11 Februari 2026.

Rapat khusus itu digelar lantaran waktu yang kian mendesak. Hitungan hari menuju peringatan hari jadi membuat pemerintah daerah dituntut bergerak cepat, terukur, dan terkoordinasi.

Seluruh perangkat daerah diminta memastikan setiap rangkaian kegiatan berjalan tepat waktu, tidak berlebihan, namun tetap memiliki makna bagi masyarakat.

Dalam arahannya, Bupati Majalengka Eman Suherman menegaskan bahwa peringatan hari jadi harus dilaksanakan dengan prinsip meriah, sederhana, efektif, dan efisien. Ia menolak ukuran kemeriahan yang semata-mata dilihat dari besarnya anggaran atau padatnya acara seremonial.

Dukung Kapolri dan DPR, Sahabat Presisi Surati Presiden Prabowo Soal Kedudukan Polri

“Kemeriahan itu bukan soal banyaknya acara atau besarnya biaya. Tapi sejauh mana masyarakat terlibat, merasa memiliki, dan menjadikan peringatan ini sebagai cerita bersama,” ujar Eman Suherman dalam rapat tersebut, Kamis (22/01/2026).

Menurut Eman, kesederhanaan diperlukan dari sisi konsep dan pembiayaan, sementara efektivitas harus tercermin dari ketepatan waktu dan pelaksanaan. Namun demikian, suasana perayaan tetap harus terasa hidup karena didukung dan dihadiri masyarakat luas.

Peringatan Hari Jadi Kabupaten Majalengka ke-186 juga memuat makna historis yang kuat. Berdasarkan kajian ilmiah dan penelusuran arsip nasional, Kabupaten Majalengka secara resmi berdiri pada 11 Februari 1840. Fakta ini tercatat dalam sejumlah besluit dan dokumen Arsip Nasional Republik Indonesia.

Dalam catatan tersebut, bupati pertama yang memimpin Kabupaten Majalengka adalah Raden Arya. Penetapan tahun berdiri ini sekaligus menandai perubahan penanggalan hari jadi Majalengka, dari sebelumnya yang diyakini berusia lebih dari lima abad, menjadi 186 tahun berdasarkan data empiris dan kajian akademis yang dapat dipertanggungjawabkan.

Rangkaian peringatan tidak hanya terpusat pada puncak acara 11 Februari. Sehari sebelumnya, pada 10 Februari 2026, pemerintah daerah merencanakan doa bersama dan ziarah ke makam para bupati terdahulu di pemakaman Girilawungan. Hingga kini, makam bupati pertama hingga bupati ketujuh telah berhasil diidentifikasi.

Polres Garut Gelar Shalat Gaib, Doakan Dua Personel Polres Cimahi yang Gugur Saat Tugas Kemanusiaan

Ziarah tersebut diproyeksikan menjadi salah satu momen paling khidmat dalam rangkaian hari jadi. Kemeriahan dimaknai melalui kehadiran masyarakat yang datang untuk berdoa, mengenang, dan menghormati para pemimpin yang telah meletakkan fondasi Kabupaten Majalengka hingga memasuki usia ke-186 tahun.

Meski pendekatan sejarah kini berpijak pada kajian akademis, pemerintah daerah menegaskan bahwa nilai-nilai kearifan lokal tetap dihormati.

Ziarah ke tokoh-tokoh yang hidup dalam cerita rakyat dan sejarah lisan masyarakat tetap akan dilakukan sebagai bentuk penghargaan terhadap memori kolektif yang tumbuh dari generasi ke generasi.

Rangkaian ziarah direncanakan diawali dari Pendopo Kabupaten Majalengka. Dari titik tersebut, peserta akan berjalan kaki bersama menuju lokasi ziarah, mengenakan busana putih sebagai simbol kesucian niat, penghormatan terhadap sejarah, sekaligus harapan bagi masa depan.

Dengan konsep yang sederhana namun sarat makna, peringatan Hari Jadi Kabupaten Majalengka ke-186 diharapkan tidak sekadar menjadi agenda seremonial tahunan.

Dari Sarasehan Seri Asta Cita, Hidup dan Menghidupkan Pancasila

Pemerintah daerah berharap momentum ini menjadi ruang refleksi sejarah, penguatan identitas daerah, serta ajakan kolektif untuk melangkah menuju Majalengka yang lebih matang, berdaya, dan langkung SAE. (***)

Jurnalis: Eko Widiantoro
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *