Nasional
Beranda » Berita » KPR BTN Wujudkan Rumah bagi Pasangan Tunarungu–Tunawicara

KPR BTN Wujudkan Rumah bagi Pasangan Tunarungu–Tunawicara

Djepri bersama istri dan kedua anaknya berdiri di depan rumah mereka di Perumahan Bukit Pinus Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Bagi keluarga tunarungu–tunawicara ini, rumah tersebut bukan sekadar bangunan, melainkan kepastian setelah bertahun-tahun hidup dalam ketidakpastian. (Foto: Djoni Satria/ RUZKA INDONESIA)

RUZKA INDONESIA — Pagi itu belum benar-benar hidup di Perumahan Bukit Pinus Banjaran, Desa Baros, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Di usia ke-76, transformasi Bank Tabungan Negara (BTN) kerap dibicarakan melalui angka dan capaian. Namun di rumah kecil inilah perubahan itu menemukan wujud paling nyatanya.

Udara masih menyimpan rasa dingin sisa semalam. Jalan paving di depan rumah tampak basah oleh embun yang belum menguap. Dari kejauhan, siluet perbukitan berdiri tenang, seolah menjaga rumah-rumah kecil yang berjajar rapi.

Di balik pintu rumah, Djepri berdiri sejenak. Hari itu, ia belum berangkat menarik order Grab. Jaket ojek daring masih tergantung rapi di dinding. Helm warna hijau yang biasa menempel di kepalanya diletakkan di sudut ruangan. Ponsel di atas meja belum bergetar—belum ada tanda orderan masuk. Untuk beberapa menit, Djepri membiarkan pagi berjalan pelan, tanpa terburu-buru.

Dulu, pagi selalu datang bersama kecemasan. Tentang rumah yang belum tentu aman. Tentang air yang bisa saja berhenti mengalir. Tentang konflik yang tak pernah bisa ia jelaskan dengan suara. Kini, pagi hanya menyisakan satu kepastian sederhana: ia punya tempat untuk pulang.

Di belakangnya, Iin Nuraeni—istri yang lahir di Bandung pada 13 Agustus 1982—duduk sambil memperhatikan kedua buah hati mereka. Tatapannya lembut. Senyum kecil muncul tanpa suara. Mereka tidak saling berbicara, tapi saling mengerti.

Pos Indonesia Buka Pendaftatan Mudik Gratis, Ini Syaratnya!

Di rumah ini, sunyi tidak lagi terasa kosong. Sunyi telah berubah menjadi ketenangan.

Hidup yang Dimulai Tanpa Bunyi

Bagi keluarga ini, sunyi bukan keadaan sementara. Sunyi adalah awal kehidupan.

Djepri dan Iin adalah pasangan tunarungu–tunawicara. Sejak awal membangun rumah tangga, mereka hidup dalam dunia tanpa bunyi. Tidak ada percakapan panjang sebelum tidur. Tidak ada suara memanggil dari dapur. Semua dijalani lewat bahasa isyarat, gerak tangan, dan tatapan mata yang terlatih membaca perasaan. Melalui segala cara itu, komunikasi terjalin lancar tanpa hambatan.

Mereka belajar memahami dunia dengan cara yang berbeda. Ketika orang lain mengeluh dengan suara, mereka menghela napas. Ketika orang lain berteriak marah, mereka menguatkan genggaman tangan.

Polsek Tarogong Kidul Polres Garut Gelar Patroli Usai Salat Tarawih

Di tengah dunia tanpa bunyi itu, lahirlah Maudy Lestari Djepri Iin—anak pertama mereka, yang kelak menjadi jembatan bagi keluarganya.

Sejak bayi, Maudy tidak tumbuh dengan suara orang tua sebagai penanda. Ia tumbuh dengan gerakan tangan kedua orang tuanya. Ia belajar mengenali kasih sayang dari sentuhan, membaca emosi dari wajah, sebelum ia sendiri mampu bicara.

Maudy Lestari menerjemahkan percakapan bagi kedua orang tuanya melalui bahasa isyarat. Sejak kecil, ia menjadi penghubung antara keluarganya dan dunia luar—termasuk saat proses pengajuan KPR BTN berlangsung.
(Foto: Djoni Satria/ RUZKA INDONESIA)

“Ayah dan ibu nggak bisa dengar dan ngomong. Dari kecil aku lihat gerakan tangan mereka,” kata Maudy, pelan kepada RUZKA INDONESIA yang menyambangi kediaman pasangan ini, Senin (16/2/2026).

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di situlah seluruh hidupnya bermula.

Anak yang Tumbuh Lebih Cepat dari Usianya

Penuhi Unsur Suap, Menag Nasaruddin Umar Kesandung Naik Jet Pribadi, Ini Kata KPK

Ada masa ketika Maudy belum sepenuhnya paham mengapa rumah mereka selalu lebih sunyi dari rumah teman-temannya. Ia hanya tahu satu hal: ketika orang dewasa berbicara pada orang tuanya, tidak ada suara yang sampai.

Di situlah perannya perlahan terbentuk.

Maudy mulai menjadi suara bagi orang tuanya. Ia belajar memperhatikan lebih saksama. Ia belajar bertanya, lalu menyampaikan.

Di warung, ia menunjuk barang sambil menjelaskan. Di sekolah, ia menyampaikan maksud orang tuanya kepada guru. Di puskesmas, ia menerjemahkan pertanyaan dokter dan jawaban orang tuanya dengan hati-hati.

Ia belajar bukan hanya bahasa isyarat, tapi juga keberanian.

Tanpa sadar, Maudy tumbuh lebih cepat dari anak-anak lain. Ketika teman-temannya belajar berbicara untuk dirinya sendiri, Maudy belajar berbicara untuk orang lain.

Ia bukan hanya anak. Ia menjadi jembatan. Di usia yang seharusnya diisi dengan masa bermain dan tugas sekolah, Maudy telah memahami istilah yang bahkan tak semua orang dewasa mengerti: cicilan, tenor, uang muka, suku bunga, berkas pengajuan, hingga persetujuan kredit.

Ia tidak belajar itu dari buku ekonomi. Ia belajar dari percakapan di ruang tamu, dari gerak tangan ayah dan ibunya yang mencoba menjelaskan angka-angka lewat bahasa isyarat.

Ia tahu rumah bukan sekadar bangunan. Ia tahu rumah berarti tidak lagi pindah, tidak lagi takut, tidak lagi menjelaskan kepada teman sekolah mengapa alamat berubah.

Ketika ia duduk di ruang tamu kantor pemasaran perumahan itu, ia bukan sekadar anak yang menemani orang tuanya. Ia sedang memperjuangkan rasa aman keluarganya—sebuah peran yang terlalu besar untuk usianya, tetapi ia jalani dengan tenang.

Dan jembatan itu tak berhenti di ruangan itu. Sejak kecil ia membangunnya perlahan, menghubungkan dunia yang sunyi dengan dunia yang bersuara, hingga akhirnya membawa keluarganya menuju satu hal yang selama ini mereka cari: alamat yang tetap, dan masa depan yang lebih pasti.

Ayah yang Menyimpan Segalanya dalam Sunyi

Djepri lahir di Bandung, 13 Juni 1985. Bertahun-tahun ia bekerja sebagai karyawan hotel di kawasan Lembang, Bandung Barat. Pekerjaan itu menuntut disiplin, ketelitian, dan komunikasi intens.

Ia menjalaninya dengan sungguh-sungguh. Namun ada kelelahan yang tak pernah bisa ia ucapkan. Ada tekanan yang hanya bisa ia simpan. Hingga akhirnya, ia memilih berhenti—bukan karena dipecat, bukan karena menyerah, melainkan karena ingin bertahan dengan caranya sendiri.

Sejak hampir dua tahun terakhir, Djepri menghidupi keluarganya sebagai pengemudi ojek daring.

Setiap pagi, ia menyusuri wilayah Banjaran dan sekitarnya. Mengantar penumpang tanpa obrolan ringan. Menyelesaikan perjalanan tanpa basa-basi. Penghasilannya sekitar Rp200.000 per hari—kadang cukup, kadang pas-pasan.

Di atas motor, dalam perjalanan panjang tanpa suara, Djepri sering memikirkan satu hal yang sama: bagaimana caranya membawa pulang rasa aman.

Ia tak bisa mengatakannya. Ia hanya menyimpannya. Ada rasa yang lebih berat dari sekadar lelah bekerja seharian: ketakutan tidak mampu menjelaskan kegelisahan sendiri.

Dalam dunia yang bergerak dengan suara—rapat, negosiasi, obrolan, keluhan—Djepri terbiasa berdiri sedikit di luar percakapan. Ia membaca bibir, membaca ekspresi, membaca situasi. Namun ketika menyangkut masa depan keluarganya, tak ada bahasa yang cukup untuk menggambarkan kecemasannya.

Ia tahu penghasilannya tidak tetap. Ia tahu bank menilai risiko. Ia tahu dunia keuangan bekerja dengan angka. Sementara hidupnya berjalan dengan perjalanan harian dan order yang tak bisa ditebak.

Dan setiap kali melihat anak-anaknya tertidur, pertanyaan itu datang lagi—tanpa suara:

Apakah aku cukup?

Rumah Lama yang Perlahan Mengusir Rasa Aman

Sebelum menetap di perumahan Bukit Pinus Banjaran, keluarga ini tinggal di rumah milik keluarga di kawasan Lembang, Bandung Barat. Namun rumah itu perlahan berubah menjadi sumber kecemasan.

Air yang terputus. Gesekan dengan lingkungan sekitar. Situasi yang sulit dijelaskan—terutama bagi mereka yang tak bisa menyuarakan keberatan.

“Airnya diputus. Ada masalah sama tetangga. Jadi kami pindah,” jelas Maudy.

Kalimatnya singkat. Tapi di baliknya, ada malam-malam panjang yang dijalani tanpa kepastian. Rumah itu akhirnya dijual. Dan pencarian dimulai kembali—dalam sunyi.

Ketika Pintu Kantor Pemasaran Dibuka dengan Empati

Informasi tentang perumahan bersubsidi Bukit Pinus Banjaran datang dari sesama penyandang disabilitas. Bukan dari iklan besar. Bukan dari spanduk mencolok. Ia datang dari cerita—dari harapan yang berbisik pelan dari satu keluarga ke keluarga lain.

Hari itu, di Kantor Pemasaran Perumahan Bukit Pinus Banjaran, suasana berjalan seperti biasa. Berkas disusun. Brosur dibagikan. Percakapan tentang harga dan cicilan mengalir sebagaimana mestinya.

Lalu pintu terbuka.

Sepasang suami istri masuk—lebih banyak diam—ditemani seorang anak perempuan yang berdiri sedikit di depan, seolah tahu ia akan menjadi suara hari itu.

Anak itulah yang berbicara.

Ia menyampaikan maksud kedua orang tuanya. Menjelaskan perlahan. Menerjemahkan harapan yang selama ini hidup dalam sunyi.

Di ruang itu, bukan hanya pengajuan kredit yang sedang berlangsung. Ada keberanian yang sedang diuji.

Bagi Ryan Pratama, Direktur Utama Setiabudiland, pengembang perumahan bersubsidi Bukit Pinus Banjaran, momen itu langsung membekas ketika ia mengetahui bahwa calon konsumen tersebut adalah pasangan tunarungu–tunawicara.

“Awalnya kami tahu dari cara mereka berkomunikasi. Bukan karena mereka berbeda, tetapi karena kami melihat ada perjuangan di situ,” kata Ryan.

Menurut Ryan, membangun rumah subsidi bukan sekadar membangun unit hunian, melainkan membangun akses dan kesempatan.

“Kami percaya rumah layak itu hak semua orang, termasuk teman-teman penyandang disabilitas dan pekerja informal. Tugas kami sebagai pengembang adalah memastikan mereka tidak merasa ragu untuk datang dan mengajukan permohonan kredit rumah subsidi,” ujarnya.

Ratusan unit rumah subsidi berdiri di Bukit Pinus Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Di antara deretan atap yang seragam itu, satu pintu menyimpan kisah tentang inklusi, keberanian, dan kepastian yang akhirnya menjadi alamat.
(Foto: Dokumentasi Bukit Pinus Banjaran)
 

Setiabudiland sendiri tidak hanya mengembangkan Bukit Pinus Banjaran di Kabupaten Bandung, tetapi juga membangun proyek rumah subsidi lainnya seperti Bukit Cibadak Asri di Sukabumi, Jawa Barat.

Bagi Ryan, setiap proyek memiliki satu tujuan yang sama: membuka peluang kepemilikan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang sering kali berada di pinggir sistem pembiayaan formal.

Di ruang yang sama, Hendro, staf pemasaran perumahan subsidi itu, memilih memperlambat ritme. Tidak buru-buru menjual. Tidak menekan.

“Yang banyak bicara justru anaknya. Dia menjelaskan semuanya dengan sangat tenang,” kenang Hendro.

Hari itu, bukan brosur yang bekerja. Yang bekerja adalah empati. Di situlah, harapan yang lama berdiri di luar sistem, akhirnya dipersilakan masuk

Jalan Menuju Kepastian: KPR Sejahtera Tapak

Dari ruang itulah proses dimulai—pelan, hati-hati, dan penuh jeda.

Bagi sebagian orang, pengajuan KPR mungkin hanya soal formulir dan tanda tangan. Namun bagi Djepri dan Iin, itu adalah wilayah yang sama sekali baru. Dunia perbankan selama ini terasa jauh—dipenuhi istilah yang tak mereka dengar, prosedur yang tak mereka pahami, dan risiko yang tak mudah mereka tanyakan.

Gerbang Perumahan Bukit Pinus Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Lokasi rumah subsidi dari pengembang Setiabudiland yang kini menjadi tempat tinggal keluarga Djepri. Perumahan ini merupakan bagian dari program pembiayaan KPR Sejahtera Tapak Kepmen 689. (Foto: Djoni Satria/ RUZKA INDONESIA)

Di meja kecil kantor pemasaran itu, berkas-berkas mulai dibuka. Fotokopi KTP. Kartu Keluarga. Surat keterangan penghasilan. Rekening koran. Semua disusun rapi di atas meja.

Hendro menjelaskan satu per satu: skema KPR Sejahtera Tapak, suku bunga tetap, tenor hingga 15 tahun, cicilan per bulan, uang muka, hingga tahapan verifikasi.

Maudy berdiri di antara mereka.

Setiap kalimat dari pihak pengembang berhenti sejenak di telinganya. Lalu berpindah ke tangannya. Ia menggerakkan jemari dengan cepat, membentuk isyarat demi isyarat. Ayah dan ibunya menatapnya penuh konsentrasi. Sesekali mereka bertanya lewat gerakan tangan, dan Maudy kembali menoleh kepada Hendro, menerjemahkan pertanyaan itu dengan suara yang tenang.

Ritme percakapan menjadi berbeda.

Satu kalimat diucapkan. Satu kalimat diterjemahkan. Satu jawaban dijelaskan kembali.

Tak ada suara yang meninggi. Tak ada desakan. Hanya kesabaran yang bergerak bolak-balik di antara meja dan tangan-tangan yang saling memahami.

Bagi Djepri, ini kali pertama ia berhadapan langsung dengan proses kredit rumah. Ia terbiasa menerima notifikasi order, bukan notifikasi persetujuan bank. Ia terbiasa menghitung jarak tempuh, bukan menghitung tenor dan bunga.

Di sela-sela penjelasan itu, kekhawatiran sempat muncul: apakah penghasilannya sebagai pengemudi ojek daring cukup dianggap layak? Apakah fluktuasi order harian akan menjadi penghalang?

Maudy kembali menjadi jembatan.

Ia menyampaikan bahwa ayahnya bekerja setiap hari. Bahwa penghasilannya memang tidak tetap, tetapi konsisten. Bahwa rumah itu bukan sekadar keinginan, melainkan kebutuhan.

Dari ruang itulah proses berjalan. Data dikumpulkan. Skema dijelaskan kembali untuk memastikan tidak ada yang terlewat. Hingga akhirnya keluarga ini memutuskan mengajukan KPR Sejahtera Tapak Kepmen 689 melalui BTN—skema pembiayaan rumah subsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang mengacu pada Kepmen PUPR Nomor 689 Tahun 2023.

Aturan itu memastikan rumah subsidi bukan sekadar terjangkau, tetapi juga layak huni—dari luas bangunan hingga batas harga.

Sebagai pekerja informal, penghasilan Djepri tak pernah benar-benar sama setiap bulan. Ada hari ketika aplikasi Grab bergetar nyaris tanpa henti, ada hari ketika notifikasi itu tak juga muncul.

Namun hari itu, yang mereka bawa ke meja bukan hanya angka. Mereka membawa ketekunan.

Realitas Sosial yang Sama

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah angkatan kerja di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada 2024 mencapai sekitar 1,91 juta orang, dengan tingkat pengangguran terbuka sebesar 6,36 persen—lebih tinggi dibanding rata-rata nasional.

Di wilayah yang 65,19 persen penduduknya berada pada usia produktif, tekanan untuk memperoleh penghasilan tetap dan hunian layak menjadi tantangan nyata bagi banyak keluarga pekerja informal.

Di sisi lain, harga rumah terus bergerak naik.

Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Triwulan IV 2025 yang dirilis Bank Indonesia mencatat Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) tumbuh 0,83 persen secara tahunan, menunjukkan harga rumah terus bergerak naik meski dalam laju terbatas.

Di sisi lain, penjualan properti residensial justru mengalami pertumbuhan positif 7,83 persen (secara tahunan), terutama pada rumah tipe kecil dan menengah—segmen yang menjadi target utama program rumah subsidi.

Dari sisi pembiayaan, data SHPR juga menunjukkan sekitar 70,88 persen konsumen masih mengandalkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sebagai sumber pembiayaan utama. Angka ini menegaskan bahwa akses terhadap kredit perbankan tetap menjadi kunci dalam mewujudkan kepemilikan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan pekerja informal.

Bagi Djepri dan Iin, statistik tersebut bukan sekadar data makro. Ia adalah cerminan realitas: ketika harga rumah terus merangkak naik dan mayoritas masyarakat bergantung pada KPR, maka akses terhadap pembiayaan yang inklusif menjadi penentu antara memiliki rumah atau terus berada dalam ketidakpastian.

Di Indonesia, penyandang disabilitas kerap berhadapan dengan hambatan yang tak selalu terlihat. Bukan hanya akses fisik, tetapi juga akses finansial.

Banyak dari mereka bekerja di sektor informal, tanpa slip gaji tetap, tanpa struktur penghasilan yang mudah diverifikasi. Dalam sistem perbankan konvensional, kondisi itu sering dipandang sebagai risiko.

Padahal di balik fluktuasi pendapatan, ada konsistensi kerja. Ada kedisiplinan. Ada tanggung jawab.

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 menjamin hak penyandang disabilitas untuk memperoleh hunian yang layak. Namun hak di atas kertas tidak selalu otomatis menjadi akses dalam praktik.

Di titik inilah inklusi diuji—bukan dalam seminar, melainkan dalam proses kredit yang konkret.

Ketika Transformasi Membuka Jalan

Keluarga ini akhirnya mengajukan KPR Sejahtera Tapak Kepmen 689 melalui BTN, sesuai ketentuan Kepmen PUPR Nomor 689 Tahun 2023.

Rumah itu juga menjadi wujud nyata semangat kebijakan inklusi negara—sebagaimana ditegaskan dalam UU Nomor 8 Tahun 2016 dan PP Nomor 42 Tahun 2020 yang menegaskan bahwa penyandang disabilitas berhak atas hunian yang layak dan setara.

Transformasi layanan dan ekosistem pembiayaan BTN membuat akses KPR subsidi kini semakin inklusif, menjangkau pekerja informal hingga keluarga penyandang disabilitas yang sebelumnya sulit menembus sistem perbankan formal.

Di sela-sela ketidakpastian itulah sempat terlintas kekhawatiran—apakah bank akan percaya pada angka yang tidak pernah sepenuhnya stabil sebagai pengemudi ojek daring?

Djepri dan istrinya sepakat memilih tenor 15 tahun, dengan cicilan Rp1.287.300 per bulan.

Kurang dari satu bulan, persetujuan turun—sebuah proses yang kini jauh lebih cepat dan terintegrasi berkat pembaruan sistem dan kolaborasi BTN dengan pemerintah serta pengembang perumahan.

Hari itu, Kamis, 16 Januari 2025, Djepri duduk di ruang tamu sederhana. Tiba-tiba ponsel di tangannya bergetar ketika dibuka menampilkan file PDF: Surat Penegasan Persetujuan Penyediaan Kredit (SP3K) dari BTN, Kantor Cabang Bandung Jalan Jawa No.7, Babakan Ciamis, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat.

Djepri memperlihatkan Surat Penegasan Persetujuan Penyediaan Kredit (SP3K) dari BTN yang diterima melalui ponsel. Persetujuan tersebut menjadi momen penting yang menandai awal kepemilikan rumah pertama mereka.
(Foto: Djoni Satria/ RUZKA INDONESIA)

Ia menatap layar cukup lama. Tidak ada sorak. Tidak ada teriakan lega.

Maudy yang berada di samping kemudian turut menatap layar ponsel milik ayahnya seraya menggerakkan tangannya membentuk isyarat “rumah”, lalu “milik kita”. Iin membalas dengan dua jari menyentuh dada—tanda syukur dalam bahasa mereka.

Untuk pertama kalinya, Djepri tidak perlu bertanya apa arti dokumen itu.

Ia tahu lalu mengajak istri dan kedua anaknya menengadahkan tangan dan menatap langit sebagai tanda syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Beberapa hari setelah SP3K terbit, keluarga itu kembali duduk di ruangan yang berbeda—kali ini bukan lagi kantor pemasaran, melainkan ruang akad kredit yang lebih formal. Meja panjang dengan taplak rapi. Map berwarna cokelat tersusun berderet. Di atasnya, dokumen tebal dengan lembar-lembar yang menunggu ditandatangani.

Di satu sisi meja duduk perwakilan BTN. Di sampingnya notaris/PPAT membuka berkas dan memastikan setiap halaman telah lengkap. Pihak pengembang dan dua orang saksi turut hadir, menyaksikan proses yang bagi sebagian orang mungkin sekadar formalitas administratif.

Namun bagi Djepri dan Iin, itu adalah hari yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Ruangan itu dipenuhi suara—penjelasan pasal demi pasal, pembacaan akad, penegasan hak dan kewajiban. Tetapi di tengah percakapan yang mengalir, Djepri dan Iin tetap berada dalam dunia yang hening.

Maudy duduk di antara kedua orang tuanya.

Setiap kalimat yang diucapkan notaris berhenti sejenak di telinganya. Lalu berpindah ke tangannya. Jemarinya bergerak cepat, membentuk makna: cicilan tetap, tenor 15 tahun, kewajiban pembayaran tepat waktu, sertifikat hak milik setelah lunas.

Djepri menatap anaknya lekat-lekat. Iin sesekali mengangguk pelan.

Perwakilan BTN memperlambat tempo penjelasan, memberi ruang bagi proses penerjemahan itu berjalan utuh. Tidak ada yang tergesa. Tidak ada yang memotong.

Ketika tiba saatnya tanda tangan, map dokumen itu digeser ke hadapan Djepri.

Tangannya sedikit gemetar—bukan karena ragu, melainkan karena sadar bahwa tinta yang ia bubuhkan hari itu bukan sekadar tanda tangan. Ia sedang menandatangani masa depan.

Ia memandang Iin. Iin membalas dengan senyum tipis dan gerakan tangan yang berarti, “kita.”

Djepri menunduk, menarik napas panjang, lalu menorehkan namanya dengan perlahan.

Satu lembar. Dua lembar. Tiga lembar.

Maudy menyaksikan semuanya tanpa berkedip. Ia tahu, untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, orang tuanya menandatangani sesuatu yang tidak lagi bersifat sementara.

Ketika seluruh dokumen selesai, notaris menyatakan akad sah. Perwakilan BTN mengulurkan tangan. Pihak pengembang ikut tersenyum.

Tidak ada tepuk tangan.

Hanya mata yang mulai berkaca-kaca.

Maudy kembali mengangkat tangannya, membentuk isyarat yang sederhana namun penuh arti: “rumah kita.”

Iin menutup wajahnya sejenak, menahan haru. Djepri menepuk bahu anaknya pelan—sebuah terima kasih yang tak pernah diucapkan dengan suara, tetapi sepenuhnya dimengerti.

Di ruangan itu, hukum, sistem, dan kebijakan bertemu dengan sesuatu yang lebih dalam: rasa aman.

Akad itu mungkin hanya berlangsung kurang dari satu jam. Namun bagi keluarga ini, ia menutup bertahun-tahun ketidakpastian.

Dan untuk pertama kalinya, sunyi di antara mereka terasa ringan.

Pihak BTN Kantor Cabang Bandung membenarkan bahwa pengajuan KPR subsidi atas nama Djepri telah melalui proses verifikasi sesuai ketentuan dan dinyatakan layak berdasarkan penilaian kemampuan bayar, kelengkapan dokumen, serta memenuhi kriteria pembiayaan bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Dari Satu Rumah ke Seribu Rumah

Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menyebutkan bahwa BTN dipercaya menyalurkan sekitar 220 ribu unit KPR subsidi tahun ini—sekitar 62 persen dari total nasional.

“Artinya, BTN mengakadkan sekitar 1.000 rumah setiap hari,” ujar dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (17/2/2026).

Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan cermin transformasi BTN sebagai mesin pembiayaan perumahan terbesar di Indonesia—yang memperluas akses, menyederhanakan proses, dan menghadirkan layanan terintegrasi bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Data penyaluran kredit perumahan BTN hingga Desember 2025 menunjukkan total 5,97 juta unit dengan nilai Rp555,11 triliun, mayoritas berupa KPR subsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah. (Sumber: BTN diolah oleh RUZKA INDONESIA)

Sejak menyalurkan KPR pertama pada 1976, BTN telah membiayai jutaan rumah di Indonesia. Tahun ini saja, sekitar 220 ribu unit KPR subsidi disalurkan.

Angka-angka itu menunjukkan skala. Namun maknanya baru terasa ketika satu dari ribuan rumah itu benar-benar mengubah hidup sebuah keluarga.

Di antara seribu rumah yang diakadkan hari itu, satu di antaranya adalah rumah Djepri.

Dalam statistik nasional, rumah itu mungkin hanya satu angka kecil. Ia tidak mengubah grafik. Tidak menggeser indeks. Tidak pula mengguncang pertumbuhan ekonomi.

Namun bagi Djepri dan Iin, rumah itu mengubah cara mereka memandang hari esok.

Ia menghapus kecemasan yang dulu datang setiap pagi. Ia menghentikan ketidakpastian yang dulu mengendap setiap malam. Ia memberi ruang bagi anak-anak mereka untuk tumbuh tanpa bayang-bayang pindah dan kehilangan.

Transformasi perbankan kerap dibicarakan dalam istilah digitalisasi, integrasi sistem, atau percepatan proses. Tetapi bagi keluarga ini, transformasi itu terasa dalam bentuk yang paling sederhana: pintu yang bisa ditutup, dan kepastian bahwa mereka akan kembali ke tempat yang sama setiap sore.

Di rumah kecil di Bukit Pinus Banjaran itu, tidak ada pidato. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada perayaan besar.

Hanya sepasang orang tua yang tak pernah mendengar suaranya sendiri, kini memiliki ruang yang tak lagi bisa direnggut oleh ketidakpastian.

Kisah Djepri dan Iin bukan satu-satunya. Di banyak sudut Indonesia, pekerja informal hidup di tepi sistem keuangan formal—bekerja setiap hari, tetapi tetap berada dalam bayang-bayang ketidakpastian. Bagi penyandang disabilitas, tantangan itu sering kali berlapis.

Di titik inilah inklusi diuji: bukan dalam slogan, melainkan dalam keputusan kredit yang nyata.

Dalam kasus Djepri, transformasi itu tidak hadir dalam bentuk pidato atau perayaan, melainkan dalam keputusan kredit yang nyata—dan tanda tangan yang mengikat masa depan.

Rumah bagi keluarga ini bukan sekadar aset. Ia adalah perlindungan. Ia adalah fondasi. Ia adalah titik tetap di tengah kehidupan yang tak selalu stabil.

Maudy dan adiknya kini memiliki alamat tetap—tak lagi cemas ketika guru meminta data domisili. Djepri bekerja tanpa bayang-bayang kehilangan tempat tinggal. Iin membesarkan anak-anaknya tanpa rasa takut akan terusir atau diputus akses air.

Keberhasilan kebijakan memang kerap diukur dari skala. Namun ada ukuran lain yang lebih sunyi: berapa banyak rasa takut yang berhasil dihapus.

Sebuah kunci diputar perlahan.

Sunyi tetap tinggal di rumah itu—tetapi kali ini ia tidak lagi membawa ketakutan.

Di depan pintu rumah kecil itu, hukum, sistem, dan kebijakan negara akhirnya menemukan maknanya yang paling sederhana: memberi ruang aman bagi warganya untuk pulang.

Di kartu identitas mereka kini tercetak satu alamat yang tak lagi sementara. Bukan sekadar deret angka dan nama jalan, melainkan penanda bahwa mereka diakui, dipercaya, dan diperlakukan setara.

Di rumah itu, sunyi masih ada.

Namun untuk pertama kalinya, sunyi itu berdiri di atas kepastian.

Dan bagi Djepri serta Iin, kepastian itu bernama: rumah. (***)

Jurnalis/Editor: Djoni Satria

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Berlaku Nasional, Polres Garut Imbau Masyarakat Manfaatkan Layanan Gratis Contact Center 110

05

Suzuki Carry Minivan 2026, Irit dengan Kegagahan dan Kenyamanan

06

Depok akan Bangun Pabrik Pengelolaan Sampah RDF di TPA Cipayung

07

Warga Dukung Pembangunan Jogging Track Diatas Air Situ 7 Muara Depok, Benarkah Itu?

Sorotan






Kolom