RUZKA INDONESIA — Ramadan selalu datang seperti bisikan yang pelan, tetapi tajam. Ia tidak mengetuk pintu manusia dengan kegaduhan, melainkan dengan kesunyian yang perlahan menyusup ke dalam hati.
Di tengah dunia yang semakin riuh oleh arus informasi, perebutan pengaruh, dan ambisi kekuasaan, bulan suci 1447 H/ 2026 M ini justru mengajak manusia berhenti sejenak—menarik napas, menundukkan kepala, dan kembali mendengarkan suara batin yang sering tenggelam oleh hiruk-pikuk kehidupan.
Suasana seperti itulah yang tampak pada Jumat (13/3/2026) di halaman depan kantor PWI Kota Depok, Jawa Barat. Para wartawan yang sehari-hari hidup dalam kecepatan berita dan ketegangan deadline memilih menempuh jalan yang berbeda.
Tak ada laptop yang terbuka untuk mengetik berita, tak ada kamera yang dinyalakan untuk mengejar peristiwa, dan tak pula wajah-wajah yang tenggelam dalam layar ponsel yang biasanya dipenuhi pesan redaksi serta notifikasi breaking news.
Tanah halaman kantor itu hanya dialasi bekas spanduk dan baliho yang dibentangkan sebagai alas darurat, lalu ditutup karpet sederhana. Para wartawan duduk bersila di bawah naungan tenda sewaan—tenda yang lebih sering digunakan untuk pesta pernikahan atau hajatan warga.
Kesederhanaan justru menjadi suasana yang paling terasa. Di tempat yang jauh dari kesan formal itu, mushaf Al-Qur’an terbuka di tangan para wartawan, ayat demi ayat dibaca dengan suara pelan dan bergantian, satu juz demi satu juz hingga akhirnya khatam.
Angin sesekali menyusup dari pinggir tenda, sementara lantunan ayat suci mengalir tenang di tengah halaman kantor organisasi wartawan. Mereka duduk bersila dengan mushaf Al-Qur’an di tangan, membaca ayat demi ayat dengan pelan, bergantian, satu juz demi satu juz, hingga akhirnya khatam.
Peristiwa yang tampak sederhana ini, yang dikenal sebagai program Wartawan Mengaji yang digagas oleh PWI Kota Depok selama Ramadan, sebenarnya menyimpan makna yang jauh lebih besar daripada sekadar agenda kegiatan organisasi. Ia adalah sebuah momen ketika para pencatat sejarah harian bangsa ini berhenti menulis tentang dunia, lalu memilih membaca kembali sumber moral yang selama berabad-abad membentuk peradaban umat manusia.
Ada sesuatu yang terasa paradoks namun sekaligus indah dalam peristiwa itu. Wartawan adalah profesi yang hidup dari kata-kata; setiap hari mereka merangkai kalimat, membangun narasi, menyusun fakta menjadi berita yang akan dibaca publik. Mereka menulis tentang konflik politik, kebijakan pemerintah, dinamika ekonomi, bahkan tragedi kemanusiaan.
Namun dalam Ramadan ini mereka justru berhenti dari aktivitas menulis itu untuk kembali kepada aktivitas membaca—bukan membaca laporan, bukan membaca data statistik, melainkan membaca ayat-ayat yang berbicara tentang kebenaran, keadilan, kesabaran, dan tanggung jawab manusia di hadapan Tuhan.
Dari luar, kegiatan itu mungkin terlihat kecil: beberapa orang membaca Al-Qur’an, kemudian menutupnya dengan khataman, doa, santunan anak yatim, dan buka puasa bersama. Tetapi jika direnungkan lebih dalam, kegiatan sederhana itu sesungguhnya mengandung pesan moral yang tajam bagi kehidupan publik kita.
Ia seperti cermin yang diam-diam memantulkan sebuah pertanyaan besar kepada bangsa ini: jika wartawan saja meluangkan waktu untuk mengaji, mengapa kita hampir tidak pernah mendengar tentang menteri mengaji bersama rakyatnya, atau pengusaha mengaji bersama para pekerjanya, atau pejabat negara mengaji sebelum mengambil keputusan yang memengaruhi nasib jutaan orang?
Pertanyaan itu terasa semakin relevan karena negeri ini justru dipenuhi oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan jauh lebih besar daripada wartawan. Ada menteri yang menentukan arah kebijakan nasional, ada pejabat yang menandatangani proyek-proyek bernilai triliunan rupiah, ada pengusaha yang mengendalikan perputaran ekonomi yang memengaruhi kehidupan banyak keluarga.
Namun ironisnya, kita jarang sekali mendengar bahwa ruang-ruang kekuasaan itu juga diisi oleh tradisi spiritual yang kuat. Padahal bayangkan seandainya setiap Ramadan bukan hanya ada program Wartawan Mengaji, tetapi juga lahir tradisi Menteri Mengaji, Pengusaha Mengaji, Direktur Mengaji, atau bahkan Pejabat Publik Mengaji. Bayangkan jika sebelum menandatangani sebuah proyek besar, seorang pejabat terlebih dahulu membaca ayat tentang kejujuran dan amanah.
Renungkan jika sebelum menyusun strategi bisnis yang akan memengaruhi ribuan pekerja, seorang pengusaha membaca ayat tentang keadilan dan tanggung jawab sosial. Pikirkan jika sebelum memutuskan kebijakan politik yang menentukan arah bangsa, para pemimpin negeri ini duduk bersama membaca ayat-ayat tentang kepemimpinan dan moralitas.
Mungkin wajah negeri ini akan sedikit berbeda. Boleh jadi keserakahan tidak akan sedemikian tebal, mungkin korupsi tidak akan semudah hari ini, dan mungkin keputusan-keputusan besar yang diambil di ruang kekuasaan akan lebih dekat dengan nurani.
Sebab Al-Qur’an sejatinya bukan sekadar kitab ritual yang dibaca untuk mendapatkan pahala individual. Ia adalah kitab yang sejak awal berbicara tentang manusia dan kehidupan sosial: tentang bagaimana kekuasaan harus dijalankan dengan amanah, bagaimana harta harus diperlakukan dengan keadilan, bagaimana pemimpin harus bertanggung jawab terhadap rakyatnya, dan bagaimana manusia seharusnya menjaga keseimbangan antara kepentingan dunia dan tanggung jawab moral.
Ketika ayat-ayat itu dibaca di halaman kantor sederhana oleh para wartawan di Depok, sebenarnya yang sedang terjadi bukan hanya aktivitas ibadah, melainkan juga sebuah pengingat bagi dunia yang lebih luas. Di tengah dunia modern yang sering dipenuhi oleh kompetisi tanpa batas dan ambisi yang tidak mengenal jeda, kegiatan Wartawan Mengaji seperti cahaya kecil yang menyala tenang.
Ia tidak megah, tidak gaduh, dan tidak pula menjadi headline nasional, tetapi justru karena kesederhanaannya ia terasa jujur. Ia mengingatkan kita bahwa profesi apa pun—wartawan, pejabat, pengusaha, bahkan pemimpin negara—pada akhirnya tetaplah manusia yang suatu hari akan berdiri sendirian di hadapan Tuhan dengan membawa satu pertanyaan yang tidak bisa dihindari: apa yang telah dilakukan dengan kekuasaan, kesempatan, dan pengaruh yang pernah dimiliki selama hidup di dunia.
Di titik itulah Ramadan menemukan maknanya yang paling dalam. Ia bukan sekadar bulan yang penuh ritual, melainkan ruang refleksi yang mengajak manusia mengukur kembali dirinya sendiri. Para wartawan di Depok mungkin tidak sedang membuat revolusi moral besar ketika mereka membaca Al-Qur’an bersama, tetapi mereka telah memulai sesuatu yang sering kali terlupakan dalam kehidupan publik kita: keberanian untuk berhenti sejenak dan menata kembali hubungan manusia dengan nilai-nilai yang lebih tinggi.
Khataman Al-Qur’an yang mereka lakukan, santunan kepada anak yatim yang mereka berikan, dan kebersamaan yang mereka bangun dalam buka puasa bersama bukan hanya sekadar rangkaian acara Ramadan, melainkan simbol kecil dari sebuah kesadaran yang seharusnya menyebar lebih luas. Sebuah kesadaran bahwa bangsa yang sehat tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik, kebijakan ekonomi, atau teknologi canggih, tetapi juga membutuhkan ruang-ruang spiritual tempat manusia kembali mengingat batas dirinya sendiri.
Karena itulah pesan paling kuat dari kegiatan Wartawan Mengaji sebenarnya bukan terletak pada keberhasilan acaranya, melainkan pada gema moral yang ia tinggalkan. Ia seperti bisikan yang pelan namun jelas: jika wartawan saja bisa meluangkan waktu untuk duduk bersama membaca ayat-ayat Tuhan, maka sesungguhnya tidak ada alasan bagi profesi lain untuk merasa terlalu sibuk melakukan hal yang sama.
Sebab pada akhirnya, bangsa yang besar bukan hanya dibangun oleh kecerdasan dan kekuatan ekonomi, tetapi juga oleh kesadaran moral orang-orang yang menggerakkannya. Dan mungkin dari halaman sederhana di Depok itulah sebuah pengingat kembali lahir bagi negeri ini—bahwa di tengah dunia yang terus bergerak cepat, manusia tetap membutuhkan satu hal yang paling mendasar: kembali membaca, memahami, dan menghidupkan nilai-nilai yang membuatnya tetap manusia.
Dan saya percaya, jika wartawan saja bisa memulai langkah kecil itu dengan membuka mushaf dan membaca ayat-ayat Tuhan, maka sesungguhnya tidak ada alasan bagi profesi lain di negeri ini untuk tidak melakukan hal yang sama. (***)
Kolumnis: Djoni Satria


Komentar