Uang elektronik membuat transaksi terasa ringan—terlalu ringan, barangkali. Ketika angka hanya berpindah layar, jarak antara keinginan dan pengeluaran menyempit. Di sanalah paradoks muncul: efisiensi yang memudahkan, sekaligus membuka peluang konsumsi impulsif.
Bagi sebagian warga Depok—pekerja muda, mahasiswa, pengemudi daring—dompet digital adalah penyelamat. Diskon, cashback, dan kemudahan menjadi bantalan tipis menghadapi biaya hidup yang terus naik. Namun bagi yang lain, ia bisa berubah menjadi ilusi kelimpahan: seolah uang selalu tersedia, selama layar masih menyala.
Perubahan ini halus, nyaris tak terasa. Tapi justru di situlah kekuatannya.
Literasi Digital, Inklusi, dan Mereka yang Tertinggal
Saya tidak menutup mata bahwa data ini juga membawa harapan. Tingginya kepemilikan uang elektronik menandakan tingkat literasi digital yang relatif baik. Ini adalah modal sosial penting bagi kota seperti Depok. Akses layanan keuangan, bantuan sosial, hingga transaksi formal menjadi lebih terbuka dan efisien.
Namun statistik selalu menyimpan sisi yang tak terlihat. Angka persentase tidak pernah benar-benar bercerita tentang siapa yang belum terjangkau. Di gang-gang sempit, di bantaran sungai, di rumah-rumah dengan sinyal yang rapuh, masih ada warga yang hidup jauh dari dunia digital.
Di titik itu, saya merasa perlu berhenti sejenak. Sebab kota dengan dompet digital paling tebal bisa saja menyimpan jurang digital yang paling sunyi. Yang satu hidup dari notifikasi promo, yang lain masih bergulat dengan uang tunai yang cepat habis.
Kemajuan, jika tak disertai empati, bisa berubah menjadi jarak.
Depok di Persimpangan Kecepatan dan Kesadaran
Data BPS Kota Depok ini, bagi saya, adalah cermin besar. Ia memantulkan wajah kota modern: adaptif, pragmatis, dan cepat belajar. Depok bukan kota wisata, bukan pula pusat industri berat. Ia adalah kota transit—dan kota transit membutuhkan sistem yang tak menghambat arus.
Uang elektronik di Depok telah menjadi bahasa baru: bahasa transaksi, bahasa kepercayaan, bahasa efisiensi. Ketika warga mau menitipkan uangnya pada sistem yang tak kasatmata, di situ ada kepercayaan pada struktur sosial dan teknologi yang menopangnya.
Namun pertanyaan terpenting bukan lagi seberapa tinggi angkanya, melainkan ke mana angka itu membawa kita. Apakah ia memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga, atau justru meninabobokan kita dalam kenyamanan semu?
Saya memilih bersikap waspada sekaligus berharap. Waspada agar kemudahan tak menjelma jebakan. Berharap agar data ini dibaca sebagai peta kebijakan, bukan sekadar prestasi statistik.
Pada akhirnya, kota yang baik bukanlah kota dengan teknologi paling canggih, melainkan kota yang masih memberi ruang untuk kesadaran. Kesadaran bahwa di balik setiap transaksi yang mulus, ada pilihan-pilihan kecil yang pelan-pelan membentuk cara hidup. Uang yang tak lagi berbunyi bisa membuat kita lupa menghitung, lupa menimbang, lupa berhenti sejenak.
Saya membaca data BPS Kota Depok ini bukan sebagai garis akhir, melainkan sebagai penanda. Bahwa kita sudah sampai sejauh ini—cepat, rapi, digital. Pertanyaannya tinggal satu: ketika semua semakin mudah, apakah kita masih cukup sabar untuk bertanya ke mana sebenarnya kita sedang menuju?
Sebab di kota yang hidup dari kecepatan, yang paling sering tertinggal justru bukan uang—melainkan waktu untuk menyadari apa yang perlahan berubah. (***)
Jurnalis: Djoni Satria/Wartawan Senior


Komentar