Galeri
Beranda » Berita » Kenangan Lagu Widuri, Simbol Kesunyian dengan Kesedihan yang Tenang dan Penuh Keikhlasan

Kenangan Lagu Widuri, Simbol Kesunyian dengan Kesedihan yang Tenang dan Penuh Keikhlasan

Penyanyi lengendari Bob Tutupoly (1939-2022). (Foto: Dok RUZKA INDONESIA)

RUZKA INDONESIA — Tentu bagi generasi tahun 70-an, lagu Widuri sangat merdu dan populer dibawakan penyanyi kawakan saat itu, yakni Bob Tutupoly.

Lagu Widuri merupakan salah satu karya yang memiliki tempat khusus dalam sejarah musik populer Indonesia.

Suara khas Bob Tutupoly, menyanyikan lagu legend Widuri yang hingga kini masih sering diputar, dinyanyikan ulang, serta dikenang oleh berbagai generasi pendengar.

Pada awal kemunculannya, Widuri sempat diragukan. Melodinya dinilai terlalu sederhana, dengan tempo pelan dan suasana yang sangat melankolis.

Di tengah tren musik yang saat itu cenderung mengutamakan aransemen megah dan nada-nada kuat, lagu ini dianggap kurang memiliki daya jual.

Film Festival Horor Sukses Digelar, Janur Ireng Keluar Sebagai Film Terpilih

Dalam berbagai kisah yang beredar di kalangan musisi lama, disebutkan bahwa pencipta lagu Widuri masih berusia sangat muda ketika menuliskan lagu ini pada 1972 oleh Slamet Adriyadie.

Bahkan, ada cerita yang menyebutkan bahwa ia masih berstatus sebagai pelajar Sekolah Teknik Menengah (STM).

Liriknya lahir dari pengalaman pribadi tentang cinta yang tulus, namun tidak berakhir dengan kebersamaan.

Ketika lagu tersebut ditawarkan kepada Bob Tutupoly, sang penyanyi sempat menilai bahwa Widuri terlalu sunyi dan terlalu sedih untuk pasar musik saat itu.

Namun setelah melalui pertimbangan artistik, lagu ini akhirnya direkam dan dirilis pada 1977. Di luar dugaan, Widuri justru mendapat sambutan luas dari masyarakat.

Bincang Naskah Nusantara Bersama Pakar dari UGM

Kesederhanaan yang sebelumnya diragukan malah menjadi kekuatan utamanya. Banyak pendengar merasa dekat dengan pesan lagu ini—tentang mencintai dengan tulus, meski harus melepaskan.

Seiring berjalannya waktu, Widuri tidak hanya menjadi lagu populer pada masanya, tetapi juga bertahan lintas generasi.

Lagu ini sering diputar dalam berbagai kesempatan dan tetap relevan sebagai simbol kesedihan yang tenang dan penuh keikhlasan.

Widuri membuktikan bahwa sebuah lagu tidak harus rumit untuk menjadi abadi. Kejujuran rasa dan kesederhanaan justru mampu menjadikannya karya yang hidup lama dalam ingatan pendengarnya. (***)

Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com

Pipet Senja, dari Komorbit Thalasemia hingga Ratusan Novel

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *