
RUZKA-REPUBLIKA NETWORK — Indonesia menghadapi rangkaian bencana alam yang terjadi hampir tanpa jeda sepanjang tahun 2025.
Mulai dari erupsi gunung berapi, banjir, hingga longsor, berbagai peristiwa tersebut menimbulkan korban jiwa, kerusakan, serta memaksa ribuan warga mengungsi. Menanggapi kondisi ini, penulis menilai bahwa bangsa perlu memperkuat mitigasi dan tata kelola bencana.
“Bencana alam merupakan isu serius yang membutuhkan perhatian, perbaikan kebijakan, dan kesadaran kolektif,” ujarnya.
Salah satu peristiwa besar terjadi di Gunung Lewotobi Laki-laki, Nusa Tenggara Timur, yang kembali erupsi pada 22 September 2025. Sebanyak 22 letusan dalam satu hari membuat 7.959 warga terpaksa mengungsi.
Sebelumnya, banjir bandang di Lembang, Bandung Barat, pada 26 Mei 2025 mengakibatkan satu korban jiwa dan merendam puluhan rumah.
Bencana berturut-turut juga terjadi di Jakarta, Tangerang, dan Bogor pada awal Juli 2025. Luapan Kali Ciliwung pada 5–6 Juli menggenangi 53 rukun tetangga di Jakarta. Sehari kemudian, banjir di Tangerang berdampak pada 6.145 keluarga.
Pada saat bersamaan, Bogor dilanda banjir bandang dan longsor yang memengaruhi 18 kecamatan dan menewaskan tiga orang.
Di Sumatera Utara, bencana yang terjadi hingga 30 November 2025 menyebabkan 96 orang meninggal dan 68 hilang. Menyikapi situasi ini, penulis menyinggung dinamika publik terkait proses hukum di daerah tersebut, seraya menyatakan secara satir, “Apakah KPK akan memproses Boby Nasution? Tanyakan rumput yang bergoyang,” mengutip lirik lagu Ebiet G. Ade untuk menggambarkan ketidakpastian.
Aceh kembali mencatat bencana yang menewaskan 13 warga dan mengakibatkan sembilan orang hilang. Sementara itu, Sumatera Barat menghadapi erupsi Gunung Merapi pada 4 November 2025 yang menewaskan 85 orang dan membuat 90 lainnya hilang.
Menanggapi rangkaian kejadian tersebut, sebagian masyarakat memandang bencana sebagai peringatan moral dan spiritual.
Penulis menyatakan bahwa masyarakat sering melihat bencana hanya dari sisi teknis seperti cuaca ekstrem dan salah urus, padahal menurutnya,
“Tidak ada yang menghubungkan bencana tersebut dengan campur tangan dari langit," tegasnya.
Allah SWT berfirman: "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)" (QS Ar Aruum: 41).
Meski demikian, para ahli kebencanaan menekankan bahwa mitigasi ilmiah, kebijakan tata ruang, literasi kebencanaan, dan kesiapsiagaan masyarakat tetap menjadi fondasi utama dalam mengurangi risiko.
Terlepas dari beragam pandangan tersebut, penulis mengingatkan bahwa kondisi Indonesia yang rawan bencana harus menjadi pelajaran penting bagi semua pihak.
“Bangsa ini harus kembali memperbaiki diri, karena jika tidak, bukan mustahil Indonesia hanya tinggal nama,” katanya dalam penutup tulisannya. (***)
Penulis: Abdullah Hehamahua/Mantan Penasehat KPK

