RUZKA INDONESIA — Cuaca ekstrem, hujan disertai angin kencang yang melanda wilayah Bogor mengakibatkan atap bangunan di SMAN 2 Gunung Putri, Kabupaten Bogor ambruk pada Jumat (23/01/2026) dini hari.
Meski menimbulkan kerusakan material yang cukup serius, pihak sekolah memastikan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.
Kepala SMAN 2 Gunung Putri, Dede, mengungkapkan bahwa detik-detik robohnya plafon dan atap bangunan terekam jelas oleh kamera pengawas (CCTV) sekolah.
Berdasarkan rekaman CCTV, kerusakan mulai terlihat pada pukul 03.50 WIB saat hujan deras mengguyur kawasan tersebut. Kerusakan yang awalnya hanya terjadi di satu titik dengan cepat merambat ke bagian bangunan lainnya.
“Sekitar pukul 04.30 WIB, kami menerima laporan dari penjaga sekolah bahwa atap gedung sudah ambruk total. Beruntung, karena terjadi dini hari, tidak ada aktivitas di sekolah,” ujar Dede.
Setidaknya terdapat tiga ruang kelas yang ambruk dan tiga ruang lainnya yang dinyatakan tidak aman untuk digunakan. Ruangan yang terdampak merupakan kelas yang digunakan oleh siswa kelas 7, 8, 9, dan 12.
Bangunan tersebut diketahui didirikan sekitar tahun 2015–2016.
Kerusakan utama terjadi pada bagian genting dan kerangka atap, sementara struktur tembok dilaporkan masih dalam kondisi stabil.
Pihak sekolah masih menunggu hasil perhitungan resmi dari tim ahli untuk menentukan total kerugian material.
Dede, menegaskan bahwa pihaknya telah berkoordinasi secara berjenjang dengan Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar).
“Respons dari Provinsi sangat cepat. Kami sudah menyampaikan kronologi dan berita acara secara lengkap sesuai arahan,” tambahnya.
Demi mengutamakan keselamatan, pihak sekolah mengambil kebijakan tegas, seluruh siswa dipulangkan dan kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka dihentikan mulai senin mendatang hingga waktu yang belum ditentukan.
Sekolah baru akan dibuka kembali setelah ada rekomendasi resmi dari tim teknis yang menyatakan bangunan aman.
Jika izin sudah keluar, sekolah berencana menggunakan laboratorium komputer dan perpustakaan sebagai ruang kelas darurat.
“Keselamatan anak-anak adalah nomor satu. Kami tidak akan memaksakan KBM sebelum ada instruksi bahwa gedung ini benar-benar aman untuk digunakan,” tegas Dede. (***)
Jurnalis: Dwi Retno Sari
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com


Komentar