RUZKA INDONESIA โ Pagi itu, cahaya matahari jatuh pelan di pelataran RS Mitra Keluarga Bekasi Timur, Jawa Barat. Satu per satu peserta datang dengan map di tangan dan semangat yang tak terlihat tapi terasa. Di balik seragam rapi dan senyum formal, tersimpan tekad untuk naik levelโbukan sekadar menjadi agen, melainkan menjadi Perisai bagi para pekerja yang tak pernah tahu kapan risiko datang.
Ya, mereka adalah agen Perisai (Penggerak Jaminan Sosial Indonesia) binaan HIWAPRAJA (Himpunan Wadah Perisai Jawa Barat) yang hari itu berkumpul dalam tajuk besar: “Super Training Agen Perisai Bekasi Raya 2026”. Pelatihan ini diikuti oleh para agen Perisai dari Wadah Perisai Lavandafood MDH Bekasi Cikarang dan Wadah Perisai Emas Kota Bekasi.
Pelatihan secara resmi dibuka oleh Ahmad Jafar Sidik, Ketua HIWAPRAJA. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Nur Rahmah Ningsi M, Pembina Wadah Lavandafood MDH dari Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Bekasi Cikarang dan perwakilan dari RS Mitra Keluarga Bekasi Timur, Bella Shabrina Z.

Super Training Agen Perisai Bekasi Raya 2026 di RS Mitra Keluarga Bekasi Timur. (Foto: HIWAPRAJA)
Dalam sambutannya, Ahmad Jafar Sidik menegaskan bahwa agen Perisai bukan sekadar jaringan pemasaran, melainkan bagian dari ekosistem perlindungan sosial ketenagakerjaan.
โKita ingin mencetak agen-agen Perisai unggulan, bukan sekadar banyak,โ ujarnya kepada RUZKA INDONESIA, Sabtu (14/2/2026).
โProduktif itu penting, tapi integritas lebih penting. Tanpa integritas, sistem jaminan sosial bisa runtuh. Dengan integritas, kita bisa membangun Kampung Perisai di setiap sudut Jawa Barat.โ
Ia menekankan bahwa kehadiran agen Perisai di tengah masyarakat adalah bentuk nyata hadirnya negara.
โNegara harus hadir, dan agen Perisai adalah wajah kehadiran itu.โ
Ruangan hening sejenak. Kalimat itu terasa seperti pengingat, bukan sekadar motivasi.
Bagi sebagian orang, agen Perisai mungkin sekadar singkatan dari Penggerak Jaminan Sosial Indonesia. Tetapi bagi para peserta yang hadir, profesi ini adalah jalan hidup. Jalan yang tak selalu mulus, tetapi penuh makna.
Yeni Indriati, Mentor Perisai dari Sukabumi, Kantor Wadah Nafiz Group Indonesia, Wadah Perisai nomor satu di Jawa Baratโberdiri di depan layar yang menampilkan grafik dan peta sebaran agen. Di dalam profil kinerjanya tercatat 24 agen dengan 19 di antaranya produktif, rasio klaim yang terjaga, serta pertumbuhan akuisisi yang konsisten hingga Oktober 2025.

Wadah Perisai nomor satu di Jawa Barat. (Foto: HIWAPRAJA)
Namun ia tidak memulai dengan angka.
Ia memulai dengan cerita.
โSaya dulu masuk Perisai dalam keadaan tidak tahu apa-apa,โ katanya, menatap peserta satu per satu. โTapi saya percaya satu hal: kalau kita mau bermanfaat untuk orang lain dan menjaga integritas, hasil itu akan mengikuti. Agen Perisai bukan sekadar mencari komisi. Kita sedang menjaga masa depan pekerja.โ
Materi yang ia bawakan tak hanya soal syarat dan ketentuan Bukan Penerima Upah (BPU) atau teknis klaim. Ia membedah peran Kepala Wadah: mulai dari membuka potensi akuisisi, merekrut dan menyeleksi agen, hingga monitoring produktivitas dan integritasโempat langkah yang selama ini menjadi fondasi pembinaan.
โLeveling itu bukan soal gengsi platinum atau silver,โ lanjut Yeni. โItu alat untuk memotivasi. Supaya Agen Perisai tahu dia sedang naik kelas, bukan jalan di tempat.โ
Pelatihan hari itu tak berhenti di ruang teori. Peserta diajak hospital touring RS Mitra Keluarga Bekasi Timur โmelihat langsung alur pelayanan, memahami bagaimana klaim berjalan, dan bagaimana risiko kerja bisa berujung pada angka-angka medis yang tak murah.
Di sela sesi, Lanin Alawin, Kepala Kantor Wadah Lavandafood MDH Bekasi Cikarang, berbicara tentang tantangan membangun jaringan agen Perisai di lapangan.

โKita ini berhadapan dengan pekerja yang sering merasa belum butuh perlindungan,โ katanya. โTugas agen Perisai bukan menjual risiko, tapi menghadirkan pemahaman. Edukasi itu kerja sunyi. Tapi ketika klaim cair dan keluarga tertolong, di situlah kita tahu perjuangan ini tidak sia-sia.โ
Kalimatnya sederhana, tapi sarat makna.
Super Training berlangsung hingga petang. Di dalamnya para agen Perisai tidak hanya mendapatkan strategi klaim, trik rekrut, peningkatan penghasilan, tetapi juga sharing testimoni sukses.
Ada peta besar tentang bagaimana profesi ini bisa berkelanjutanโpertanyaan yang kerap muncul di awal perjalanan banyak Agen: apakah ini profesi yang menjanjikan dan bertahan lama?
Jawabannya tak tertulis di spanduk.
Jawabannya ada pada dua puluh agen yang petang itu pulang dengan kepala lebih penuh ilmu dan hati lebih mantap.
Di luar gedung, lalu lintas Bekasi Timur kembali padat. Orang-orang kembali bekerja. Risiko tetap ada. Kecelakaan kerja tak pernah membuat janji.
Pelatihan itu juga bukan sekadar soal materi, sertifikat, atau foto bersama. Ia menjadi titik balik. Para agen pulang bukan hanya membawa catatan tentang strategi klaim dan trik rekrut, tetapi membawa kesadaran bahwa profesi ini berdiri di antara risiko dan harapan.
Bahwa setiap edukasi yang mereka lakukan bisa berarti satu keluarga tak jatuh lebih dalam ketika musibah datang.
Pelatihan itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam, tetapi semangatnya diharapkan bertahan lebih lamaโmenjadi bahan bakar untuk bergerak lebih gesit, lebih berani mengetuk pintu, lebih disiplin menjaga integritas, dan tentu saja, lebih produktif. Karena menjadi agen Perisai bukan soal seberapa cepat mendapatkan peserta, melainkan seberapa konsisten menjaga kepercayaan. (***)
Jurnalis/ Editor: Djoni Satria


Komentar