RUZKA INDONESIA — Pernahkah Anda merasa bahwa hambatan terbesar dalam bisnis Anda sebenarnya bukan modal atau pasar, melainkan apa yang Anda katakan pada diri sendiri setiap pagi?
Dalam literatur spiritual dan sejarah, ada satu fragmen kisah yang sangat “ngeri-ngeri sedap” untuk direnungkan oleh para pelaku usaha. Ini adalah kisah saat Nabi Yusuf AS berada di titik nadir fitnah.
Di tengah kepungan godaan, beliau berucap: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka…”
Secara moral, ini adalah kemenangan integritas. Namun, dari sisi hakikat ucapan, ada pelajaran besar di sana: Yusuf meminta penjara, dan Allah memberinya penjara.
Jeratan Psikologi “Bertahan Hidup”
Banyak dari kita, para pebisnis, tanpa sadar sering melakukan hal yang sama. Kita terlalu fokus pada apa yang ingin kita hindari, bukan apa yang ingin kita tuju. Saat kondisi keuangan sulit, doa dan ucapan kita sering kali berbunyi:
”Ya Allah, yang penting bulan ini jangan sampai minus.”
”Ya Allah, asal saya bisa bayar hutang riba ini saja sudah syukur.”
Sadarkah kita? Fokus pikiran kita sedang tertuju pada kata “minus” dan “hutang”. Secara psikologis, kita sedang membangun “penjara” mental kita sendiri.
Kita hanya meminta untuk selamat dari badai, padahal kita punya kapasitas untuk meminta samudra yang tenang dan kapal yang megah.
Berhenti Meminta yang Kecil
Jika Nabi Yusuf AS mengajarkan kita tentang konsekuensi sebuah ucapan, maka babak selanjutnya dalam hidup beliau mengajarkan tentang keberanian meminta jabatan.
Setelah keluar dari penjara, beliau tidak meminta pekerjaan kasar atau sekadar posisi aman. Beliau berkata:
“Jadikanlah aku bendaharawan negara.”
Beliau tahu kapasitasnya. Beliau tahu integritasnya.
Sebagai pebisnis, sudah saatnya kita mengaudit kembali diksi yang kita gunakan di depan tim, di depan investor, atau di dalam doa-doa sunyi kita.
Daripada berkata, “Semoga usaha saya tidak bangkrut karena riba,” bukankah jauh lebih bertenaga jika kita berucap:
“Ya Allah, jadikan bisnis ini raksasa dengan omzet triliunan, yang dengannya saya bisa melunasi semua beban dan menjadi jalan rezeki bagi ribuan keluarga secara halal.”
Ada energi yang berbeda saat kita menyebut angka “Triliun” dibanding saat kita hanya menyebut kata “Lunas Hutang”. Yang satu bicara tentang ekspansi dan kebermanfaatan, yang satu lagi bicara tentang ketakutan.
Ucapan Adalah Cetak Biru (Blueprint)
Dalam dunia profesional, ucapan kita adalah branding. Dalam dunia spiritual, ucapan kita adalah doa.
Jika hari ini Anda sedang merintis bisnis smartphone, atau sedang mengelola aset properti, berhentilah berbicara seolah-olah Anda sedang terjepit. Mulailah berbicara dengan bahasa pemimpin pasar.
Ganti keluhan dengan proyeksi. Jangan bicara soal mahalnya biaya operasional, bicaralah soal besarnya skala efisiensi yang akan dicapai.
Minta yang besar. Tuhan tidak akan miskin hanya karena mengabulkan doa omzet triliunan Anda. Yang membatasi rezeki itu seringkali adalah sempitnya permintaan kita sendiri.
Integritas sebagai pondasi.
Seperti Yusuf yang menyebut dirinya Hafizun Alim (pandai menjaga dan berpengetahuan), pastikan ucapan besar Anda dibarengi dengan kualitas diri yang mumpuni.
Kesimpulan sederhananya: Jangan sampai kita masuk ke “penjara” kesulitan ekonomi hanya karena kita sendiri yang ragu untuk meminta “istana” kesuksesan.
Ubah kata-katamu, maka takdir bisnismu akan mengikuti. (***)
Penulis: Bobby Sumantri/Pengusaha Muda


Komentar