RUZKA INDONESIA — Rasa nyaman itu memberikan sebuah ‘trust’ untuk selalu berada di sana. Hal ini terlepas dari segi materialisme/keuangan dan dan bentukan lainnya dari sisi untung dan rugi.
Ada yang mengatakan uang tak penting, namun uang bisa membeli segalanya termasuk pertemanan.
Tak jarang karena rasa nyaman dengan situasi dari orang-orang yang seide, setujuan tanpa ada rasa siapa yang paling hebat, paling kaya dan paling top, kerinduan untuk selalu berkumpul sambil membawa cemilan ringan, lalu ngobrol-ngobrol tentang budaya dan sastra, semua berjalan tanpa bungkusan dan keharusan yang mutlak serta aturan ketat yang kaku.
Di sana tak selalu ada pemikiran bahwa hasil besar dari sebuah karya akan memberikan pemasukan yang menggelembungkan isi dompet dan mengangkat nama menjadi perupa dengan predikat kelas dunia.
Namun persahabatan yang terjalin lebih kepada sikap ‘down to earth’ yang rendah hati meski anggotanya ada dokter hewan, dokter umum, pengusaha, ahli agama, jurnalis, pensiunan dosen serta profesi profesional dan bergengsi lainnya.
Itulah Gupenusa (Gabungan Pelukis/Perupa Nusantara) tempat berkumpul, bergaul dan bertemu dengan sesama para perupa dan penulis baik yang profesional maupun pemula.
Lokasi pertemuan ini berada di basement Batavia Galeri, Kia Kia Glodok Plaza, Jakarta Pusat. Sebuah tempat yang guyub dengan kebersahajaan sikap dan sosok-sosok yang membumi.
Tak ada gempita yang serba lux yang tercermin dari sebuah galeri seni di sana., akan tetapi selalu ada rasa rindu untuk datang dan datang lagi.
Sebuah tempat di mana egoisitas dari tuntutan terselubung kehidupan serta pengukuhan terhadap ego dan jati diri menjadi sarana untuk mengokohkan bentuk opini umum untuk berkata, “ini loh gue!” tidak ditemukan di Gupenusa dengan ‘base camp’ Batavia Galeri, Glodok Plaza.
Hidup di luar dari atribut pandangan bahwa kebendaan merupakan penentu ‘strata’ kehidupan, adalah tempat sejatinya kreatifitas yang lembut/smooth tanpa persaingan menjadi terapi jiwa dari kerasnya lingkup pergaulan dengan ragam topeng di dalamnya.
Para anggota Gupenusa yang rata-rata manusia usia senja, tampaknya menemukan ragam kemajemukan dari kerasnya persaingan hidup di sana.
Meski setelah berkumpul mereka kembali ke profesi semula, terapi bahagia sembari berkarya telah mereka temukan dan jalani tanpa persyaratan dari bentukan manusia yang kerap membuat setres dan menambah beratnya komorbit penyakit bawaan.
Hidup tinggal menunggu waktu yang berjalan cepat tanpa belas kasihan. Ketika semuanya berakhir, kenangan tentangmu tak selalu diingat orang, yang tersisa adalah karya, karya yang bertahan hingga bumi berakhir dari siklusnya. Gupenusa selalu menjadi tempat kenangan berkumpulnya penggemar seni rupa dan sastra. (***)
Penulis: Fanny J Poyk/Pengiat Sastra dan Budaya


Komentar