RUZKA INDONESIA — Bupati Majalengka Eman Suherman menanggapi arahan Presiden Prabowo Subianto tentang penggunaan atap genting bukan sekadar sebagai instruksi teknis pembangunan, melainkan peluang untuk menghidupkan kembali denyut ekonomi rakyat yang lama meredup. Bagi Majalengka, kebijakan itu menyentuh ingatan kolektif tentang satu identitas yang hampir terlupakan: genting Jatiwangi.
Komitmen tersebut disampaikan Eman seusai menghadiri Rapat Koordinasi Pemerintah Daerah yang dibuka langsung Presiden Prabowo di Sentul, Bogor, Senin (02/02/2026).
Ia menyatakan Pemerintah Kabupaten Majalengka siap mengimplementasikan arahan itu, terutama pada pembangunan gedung pemerintahan dan fasilitas publik.
“Penggunaan atap genting sejalan dengan semangat Majalengka Langkung SAE. Pembangunan tidak hanya soal fisik bangunan, tetapi juga bagaimana memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat,” kata Eman.
Menurut dia, Majalengka memiliki potensi industri genting rakyat yang tersebar di sejumlah kecamatan. Karena itu, Pemkab akan mendorong penggunaan genting lokal untuk gedung perkantoran, sekolah, fasilitas kesehatan, hingga infrastruktur publik lainnya. Kebijakan tersebut, kata Eman, merupakan bentuk keberpihakan nyata kepada produk lokal yang ramah lingkungan dan sesuai dengan karakter iklim daerah.
Di balik pernyataan kebijakan itu, tersimpan sejarah panjang yang membentuk wajah Majalengka. Kabupaten ini sejak lama dikenal memiliki dua ikon yang melekat kuat di ingatan publik: kecap Majalengka dan genting Jatiwangi. Jika kecap menjadi simbol rasa, genting Jatiwangi adalah simbol keterampilan turun-temurun dan ketahanan ekonomi rakyat.
Pada dekade 1980-an hingga awal 2000-an, genting Jatiwangi mengalami masa keemasan. Ratusan pabrik kecil—dikenal dengan sebutan jebor—beroperasi. Jumlahnya bahkan sempat menembus angka 600-an.
Produk genting dari tanah liat Majalengka itu dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan menembus pasar Asia dan Eropa. Kuat, tahan lama, dan menyatu dengan karakter rumah-rumah tradisional, genting Jatiwangi kala itu menjadi merek dagang yang dibanggakan.
Namun zaman berubah. Pembangunan Bendungan Jatigede, hadirnya Bandara Internasional Kertajati, serta beroperasinya Tol Cileunyi–Sumedang–Dawuan yang terhubung ke Tol Cipali menandai pergeseran Majalengka menuju kawasan industri. Bersamaan dengan itu, industri genting rakyat mulai terdesak.
Kini, diperkirakan hanya sekitar 120 pabrik genting yang masih bertahan. Regenerasi menjadi persoalan tersendiri. Banyak anak muda Majalengka lebih memilih bekerja di pabrik manufaktur besar—yang dianggap lebih bersih, stabil, dan “keren”—ketimbang melanjutkan usaha genting keluarga yang lekat dengan tanah liat, panas tungku, dan ketidakpastian pasar.
Dalam konteks itulah arahan Presiden Prabowo dibaca Eman Suherman sebagai momentum. Ia menegaskan implementasi kebijakan penggunaan genting akan disinergikan dengan perencanaan pembangunan daerah agar sejalan dengan visi Majalengka Langkung SAE.
“Ini bukan nostalgia, tapi upaya menghubungkan masa lalu dengan masa depan. Kalau kebijakan pusat dan daerah bisa berjalan seiring, genting rakyat tidak hanya bertahan, tapi kembali punya tempat,” ujar Eman.
Bagi Majalengka, genting bukan sekadar atap bangunan. Ia adalah penanda identitas, jejak sejarah, dan harapan agar pembangunan modern tidak sepenuhnya meninggalkan akar ekonomi kerakyatan. (***)
Jurnalis: Eko Widiantoro
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdhnurdiansyah69@gmail.com


Komentar