RUZKA INDONESIA — Pagi di Kecamatan Bojongsari, Kota Depok kerap dimulai dengan keyakinan yang sama: motor dipanaskan sebentar, helm digantung di spion, kunci diputar tanpa ragu. Rutinitas mengalir, kewaspadaan menyusut.
Di kota pinggiran yang bergerak cepat, rasa aman sering dianggap bagian dari kebiasaan—hingga suatu hari ia hilang tanpa suara.
Tidak ada sirene panjang yang menandai menyusutnya rasa aman itu. Tidak ada pula peristiwa tunggal yang memecah kesunyian. Yang datang justru selembar tabel—tenang, rapi, dan dingin—dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Depok pada 10 Desember 2025.
Angka-angka gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) disusun menurut jenisnya, dipilah per kelurahan, seolah-olah ketertiban dapat diringkas sepenuhnya oleh kolom dan baris.
Namun kota tidak hidup di tabel. Ia hidup di kebiasaan yang berulang, di pola yang mudah ditebak, di rutinitas yang berjalan terlalu lancar. Dari sanalah angka-angka itu memperoleh maknanya. Ketika kebiasaan mulai terganggu—ketika motor tak lagi ditemukan di tempatnya semula—barulah statistik terasa dekat, dan kota mulai berbicara.
Ketika Statistik Menjadi Gejala
Tahun 2024, Kecamatan Bojongsari, Kota Depok mencatat 122 pencurian kendaraan. Angka ini berdiri paling menonjol dibanding jenis gangguan kamtibmas lain. Ia bukan ledakan yang datang tiba-tiba. Ia akumulasi—hasil dari hari-hari yang tampak biasa, dari rutinitas yang berjalan tanpa banyak pertanyaan.

Pondok Petir mencatat 32 kasus, Curug 25, Serua 20, Bojongsari Baru 16, Duren Seribu 13, Duren Mekar 9, dan Bojongsari Lama 7. Penyebarannya nyaris merata. Tidak ada satu kelurahan yang sepenuhnya aman, tidak ada pula yang sepenuhnya rawan. Bojongsari hidup di wilayah antara: aman yang rapuh.
Angka-angka ini menunjukkan bahwa pencurian kendaraan bukan persoalan titik tertentu, melainkan pola. Ia tidak memilih tempat yang gelap semata, tetapi tempat yang terlalu dikenali, terlalu rutin, dan terlalu mudah diprediksi.
Motor dan Nadi Kehidupan
Angka pencurian kendaraan tidak bisa dibaca sebagai kriminalitas semata. Di Bojongsari, motor adalah nadi. Ia mengantar buruh ke pabrik, pegawai ke kantor, pedagang ke pasar, dan anak-anak ke sekolah. Ia menghubungkan pinggiran dengan pusat, rumah dengan penghidupan.
Ketika motor hilang, yang raib bukan hanya mesin dan rangka. Yang ikut hilang adalah hari kerja, upah harian, dan ketepatan waktu—tiga hal yang menentukan rapuh atau kokohnya hidup di kota pinggiran. Statistik mungkin berhenti pada angka 122. Kehidupan tidak.
Di titik inilah kewaspadaan menjadi persoalan bersama. Bukan semata tentang kunci ganda atau kamera pengawas, melainkan tentang kesadaran kolektif bahwa rasa aman tidak pernah berdiri sendiri.
Kejahatan Sunyi dan Kepercayaan yang Terkikis
Di balik pencurian kendaraan, penipuan tercatat 24 kasus. Pondok Petir menyumbang delapan, Duren Seribu lima, sisanya tersebar tipis. Penipuan bekerja tanpa suara. Tidak ada kaca pecah, tidak ada teriakan. Ia merusak sesuatu yang lebih halus: kepercayaan.
Kota yang kepercayaannya terkikis menjadi kota yang mahal. Mahal untuk dihuni, mahal untuk berinteraksi, mahal untuk berharap. Setiap transaksi menjadi curiga, setiap pesan menjadi ancaman. Kejahatan semacam ini jarang terlihat, tetapi dampaknya panjang.
Ada pula 28 kasus pencurian berat. Angka ini penting karena menandakan perencanaan. Pencurian berat jarang lahir dari kebetulan. Delapan kasus tercatat di Bojongsari Baru, enam di Pondok Petir, selebihnya menyebar.
Ini memberi sinyal bahwa Bojongsari bukan hanya dihuni, tetapi diamati. Rutinitas warga—jam keluar-masuk, titik parkir, kebiasaan—menjadi peta. Kota, dalam arti tertentu, menjadi dapat dibaca.
Ketertiban yang Terlihat, Kerentanan yang Tersembunyi
Menariknya, pencurian dengan kekerasan nyaris tidak tercatat. Sekilas, ini tampak menenangkan. Namun justru di sinilah kegelisahan bekerja. Kejahatan yang minim kekerasan sering kali berarti adaptasi: lebih senyap, lebih rapi, lebih efektif.
Kota tampak tertib, tetapi kerentanan bergerak di bawah permukaan. Tidak ada kegaduhan yang memancing perhatian. Yang ada justru rasa aman yang perlahan terkikis—tanpa disadari.
Penganiayaan tercatat tujuh kasus. Angka kecil, tetapi tidak bisa diabaikan. Ia menandai gesekan sosial yang sesekali muncul—di gang sempit, di persimpangan emosi, di ruang-ruang yang jarang mendapat perhatian.
Kota belajar menormalkan ketegangan kecil. Padahal ketegangan yang dibiarkan kerap menumpuk. Ia tidak selalu meledak, tetapi membebani.
Ekosistem yang Tertinggal
Masalah gangguan kamtibmas di Bojongsari, Depok, bukan pada satu jenis kejahatan, melainkan pada ekosistemnya. Pertumbuhan fisik bergerak cepat—perumahan bertambah, kontrakan menjamur, jalan penghubung terbuka. Namun kehadiran sosial sering tertinggal.
Warga tinggal berdekatan, saling mengenal sekadarnya, lalu kembali ke ruang masing-masing. Ronda warga hidup segan mati tak mau. Penerangan jalan kerap terlambat diperbaiki. Kamera pengawas hadir sporadis. Di saat yang sama, rutinitas warga mudah ditebak. Kota menjadi buku terbuka.
Data yang Mencatat, Kota yang Bertanya
Data BPS tidak menunjuk siapa pelaku, tidak menyebut siapa korban. Ia hanya mencatat. Tetapi justru karena itu, ia meminta kita membaca lebih jauh. Bahwa keamanan bukan semata urusan aparat, melainkan hasil dari keputusan-keputusan kecil yang berulang: bagaimana lingkungan dirawat, bagaimana ruang publik dijaga, bagaimana warga hadir.
Gangguan kamtibmas bukan peristiwa tunggal. Ia indikator. Ia mengukur seberapa jauh kota mampu mengelola pertumbuhan tanpa meninggalkan kewaspadaan.
Membaca Tanda, Bukan Sekadar Angka
Angka 122 pencurian kendaraan sepanjang 2024 bukan alarm yang memekakkan telinga. Ia mengetuk pelan. Cukup untuk didengar jika kita mau berhenti sejenak. Cukup untuk dibaca sebagai peringatan, bukan sekadar statistik.
Kota yang aman bukan kota tanpa angka. Ia kota yang tidak membiarkan angka tumbuh tanpa makna. Jika tabel dianggap akhir cerita, gangguan kamtibmas akan tetap rapi di laporan—sementara rasa aman semakin berjarak dari kehidupan sehari-hari.
Dan suatu malam, ketika rutinitas kembali terulang, kita mungkin baru menyadari: yang hilang bukan hanya kendaraan, melainkan keyakinan bahwa kota ini masih menjaga kita. Angka-angka akan terus dicatat. Pertanyaannya, apakah kita masih mau membaca tanda-tandanya—sebelum ketukan pelan itu berubah menjadi kehilangan yang kita anggap biasa. (***)
Penulis: Djoni Satria/Wartawan Senior


Komentar