RUZKA INDONESIA — Dunia sastra plus seni lainnya berada di ranah khusus bagi orang-orang yang menyintai dunia itu.
Di luar lingkup sosial dengan ragam profesi yang ada di bumi, sastra dan seni baik itu seni rupa, seni pentas/teater, filsafat dan ragam pemikiran yang butuh intelektualitas pemahaman di atas rata-rata, dunia tersebut kerap berada di kesunyian dan euforia yang bersifat intern.
Tak jarang, kegiatan seni dan sastra serta grup-grup WA yang berkutat di ranah itu, dihadiri dan diikuti oleh mereka yang itu-itu saja alias sosok-sosok yang memang menyukai dan menggeluti ranah tersebut.
Di luar sastra dan seni, ada anggapan bahwa lingkup kegiatan itu hanya bersifat membuang- buang waktu karena lebih seringnya tidak menghasilkan uang yang mampu menghidupi kehidupan mereka para penggiatnya waktu demi waktu.
Imaji atau khayali plus idealisme serta berkutat di ranah metafora, diksi juga narasi, kanvas serta cat, bagi para pengusaha dengan proyek mercusuar triyulnan, adalah dunia yang tidak berpihak pada kenyataan.
Dan, hal itu wajar sebab sebagai manusia yang hidup, kebahagiaan itu relatif. Ada sosok yang senang dengan sisi megalomania balutan materialismenya, ada yang bahagia dengan membaca puisi, bermain teater atau berpameran dengan karya lukis mereka, ada yang menggabungkannya di kehidupan keseharian mereka. Dan tak jarang untuk sastra dan seni, sisi materialisme tidak masuk di dalamnya.
Itulah rasa bahagia yang muncul kala menghadiri peluncuran buku antologi puisi karya sastrawan gaek berusia hampir 90 tahun asal Aceh LK Ara di Pusat Dokumentasi Sastra HB. Jassin Taman Ismail Marzuki pada 28 Maret 2026 lalu.
Meski penonton atau yang hadir lebih didominasi oleh para penyair Nasional dan rangkaian acaranya dari dia untuk dia, dari kita untuk kita, kegembiraan yang muncul sejenak, mampu menggiring rindu untuk menikmati perpaduan puisi-puisi etnik dan modern ciptaannya.
Usai acara peluncuran buku antologi puisi tersebut, fakta yang ada tetap menjadi tanya kalau bahagia yang dilihat dari berbagai sisi itu relatif adanya.
Sebab, manusia ada cinta pada uang dan kebendaan serta nama besar, ada juga yang happy saat membaca puisi bersama ragam kata-kata dengan liukan makna yang membuat orang awam sastra dan seni berkata pada dirinya sendiri, “nih orang aneh ya, apa kenyang perut usai membaca puisi?”
Dan subyektifitas untuk menikmati rasa bahagia itu bermacam ragamnya, semua tergantung di kehendak diri. Salam puisi. (***)
Jurnalis: Fanny J Poyk
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com


Komentar