Kolom
Beranda ยป Berita ยป Drama Gula Kristal

Drama Gula Kristal

Foto ilustrasi Kolom Cak AT, Drama Gula Kristal. (Foto: Dok Ruzka Indonesia)
Foto ilustrasi Kolom Cak AT, Drama Gula Kristal. (Foto: Dok Ruzka Indonesia)

RUZKA-REPUBLIKA NETWORK — Siapa yang tak kenal Tom Lembong? Bukan sembarang orang. Mantan Menteri Perdagangan era Jokowi yang terkenal dengan kecerdasannya, lulusan Harvard pula! Tapi ironisnya, sekarang justru dia masuk ke dalam drama hukum yang penuh aroma manuver politik.

Bukan hanya soal tuduhan terkait izin impor gula. Tapi, satu hal yang digaris-bawahi publik: ternyata ada rencana yang lebih manis (atau pahit?) di balik layar, yang tak lain bertujuan mengganjal ambisi politik Anies Baswedan di 2029. Ini dia adegan-adegan dramanya yang, maaf sekali, belum sempat dibuatkan videonya.

Adegan Satu: Tuduhan atau Dugaan?

Kejaksaan Agung menuduh Lembong memberikan izin impor gula kristal sebanyak 105 ribu ton โ€”cukup untuk membanjiri dapur ibu kota selama setahun.

Tapi mari kita lihat fakta di balik tuduhan ini: ternyata, aliran dana Rp 400 miliar yang disebut-sebut merugikan negara masih โ€œdalam penyelidikanโ€. Bukan dalam penyidikan. Keduanya beda jauh.

Catatan Cak AT: Panduan Tipis Menggedor Tirani

Alih-alih memiliki bukti kuat, pihak Kejagung malah mengatakan โ€œmasih menelusuriโ€ aliran dana dan โ€œakan menghitung ulang kerugian negara.โ€ Dengan kata lain, ini adalah โ€œtuduhan sementara,โ€ alias belum jelas siapa sebenarnya yang menikmati duit raksasa itu.

Tentu saja, hal ini mengingatkan kita pada pepatah: "Hukum di Indonesia bisa berubah bak roller coaster."

Adegan Dua: Opera Sandiwara Politika

Sebagian pengamat menilai kasus ini bukanlah soal hukum murni, tapi politik. Lembong dikenal dekat dengan Anies Baswedan, tokoh yang sempat dicalonkan untuk 2024 tapi harus puas menonton Prabowo melenggang.

Apakah ini motif di balik tiba-tiba kasus gula ini โ€œdiolah ulangโ€ setelah sembilan tahun lalu? Memangnya, berapa tahun kita bisa menyimpan gula sebelum menjadi kecut?

Siaga 1 TNI Sebagai Antisipasi Strategis di Tengah Gejolak Timur Tengah

Mari kita lihat skenarionya: Anies kabarnya sedang menimbang untuk menyetujui usulan pendukungnya membuat partai baru bernama โ€œPartai Perubahanโ€.

Dengan dukungan Lembong sebagai penyandang dana, banyak pihak menilai partai baru ini bisa mendongkrak suara Anies di 2029. Bahkan, belum apa-apa suara yang didapatnya bisa langsung 30%. Dahsyat.

Nah, jika rencana kawan pendukung Anies untuk bikin partai tadi berhasil, para โ€œpenjaga status quoโ€ tentu merasa kursi mereka terancam dalam bahaya. Maka dari itu, langkah paling logis adalah โ€”betul sekaliโ€” memotong jalur pendanaan sejak dini.

Adegan Tiga: Drama Gula Kristal atau Sekedar Pemain Figuran?

Tak hanya Lembong yang menjadi sorotan. Ada pula Charles Sitorus, Direktur Pengembangan Bisnis PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI), yang juga terseret kasus ini.

Catatan Cak AT: Perang di Mata Hewan

Sang direktur yang juga โ€œterjebakโ€ di pusaran kasus ini mungkin hanya figuran, namun kasus ini sudah seperti episode panjang dari sinetron โ€œGula Kristal dan Sandiwara Politik,โ€ di mana setiap episode selalu diakhiri dengan cliffhanger.

Masalahnya, itu tadi, pihak Kejaksaan Agung belum punya bukit jelas, dengan selalu mengatakan โ€œakan mendalami,โ€ โ€œmasih akan ditelusuri,โ€ dan โ€œbelum ada bukti.โ€

Di dunia politik, kalimat ini setara dengan mengatakan, โ€œKita akan lihat bagaimana rating pemirsa.โ€ Rating itu sama dengan suara anda, teriakan kita kita.

Adegan Empat: Lembong, Anies, dan Permainan Catur

Dalam dunia bisnis, Tom Lembong bukanlah nama kecil. Keluarganya memiliki jaringan besar, dari rumah sakit hingga apotek.

Lembong pun cukup vokal, sering mengkritik pemerintah, khususnya terkait kebijakan nikel dan hilirisasi yang dianggapnya terlalu sempit. IKN juga dikritiknya.

Kritiknya yang menohok sering berseberangan dengan Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM yang gemar menyebutnya โ€œhalusinasi tingkat tinggi.โ€

Bagaimana jadinya jika salah satu pemain penting dalam ekonomi โ€œanti-hilirisasiโ€ seperti Lembong mendukung Anies yang berencana mengusung isu ekonomi yang lebih luas?

Pola ini mulai mirip dengan permainan catur di mana setiap langkah pemain utama menentukan jalur bagi pion-pion di depannya.

Melihat ancaman Anies dan rencana partai barunya, jalur Lembong sebagai โ€œdonatur dan penasihat ekonomiโ€ harus disetop. Seakan-akan, ini adalah strategi klasik untuk memblokir bidak agar tidak menyeberang dan menjadi ratu.

Adegan Lima: Tuduhan atau Cermin?

Kita tentu tahu, politik Indonesia memang selalu penuh kejutan. Di tengah hiruk-pikuk ini, seharusnya para aktor di balik layar tak hanya menyajikan cerita, tetapi juga logika.

Masyarakat Indonesia sudah cukup pintar melihat drama yang bergulir, di mana hukum seringkali tidak berjalan pada koridor keadilan murni, melainkan sebagai refleksi dari โ€œkebutuhan politisโ€.

Mari kita tunggu episode selanjutnya, atau lebih tepatnya, episode lanjutan dari sandiwara politik yang sudah seperti sinetron ini.

Di sisi lain, bagi para aktor di dalamnya, mereka sudah tahu bahwa kekuasaan adalah panggung. Mereka boleh saja membuat narasi hukum atau alasan-alasan manis โ€”tetapi ingat, rakyat selalu menonton dengan kritis. (***)

Catatan Cak AT – Ahmadie Thaha/Ma'had Tadabbur al-Qur'an, 31/10/2024.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Berlaku Nasional, Polres Garut Imbau Masyarakat Manfaatkan Layanan Gratis Contact Center 110

05

Suzuki Carry Minivan 2026, Irit dengan Kegagahan dan Kenyamanan

06

Depok akan Bangun Pabrik Pengelolaan Sampah RDF di TPA Cipayung

07

Warga Dukung Pembangunan Jogging Track Diatas Air Situ 7 Muara Depok, Benarkah Itu?

Sorotan






Kolom