RUZKA INDONESIA — Tanpa komando dan pengumuman, masyarakat pesisir Garut Selatan, Jawa Barat (Jabar) setiap tanggal 25 Hijriyah tumpah ruah hampir di setiap muara sungai besar.
Mereka berbondong bondong bukan sekedar merayakan perhelatan, namun mengikuti alur tradisi rutin bulanan Nyalawena, disarikan dari angka 25, yakni Salawe dalam Bahasa Sunda.
Dalam kenyataanya, meski digelar tanpa proposal, siklus tradisi kearipan lokal ini berlangsung berulang dan setiap momentum kemunculan ikan Impun tiba selalu sukses menggalang masa.
Namun nyatanya aktivitas dilakukan bisa sebelum tanggal tersebut atau sesudahnya, tergantung panggilan alam, ditandai keluarnya ikan Impun dianggap sebagai anugrah membahagiakan.
Tradisi warga pesisir menangkap ikan Impun saat datang ke muara, dinilai warga sebagai berkah alam, sering bertepatan dengan siklus tertentu sekitar tanggal 22 sampai 28 Hijriyah.
Prakteknya, berbekal peralatan sederhana bahan kelambu berbingkai rotan bernama Waring, dengan suka cita, mereka ramai ramai bersiap menangkap ikan berukuran kecil berjuluk Impun.
Kemunculan Impun di beberapa muara Sungai Garut Selatan, seperti di muara Cikandang Desa Jagabaya Kecamatan Mekarmukti biasanya mulai dini hari hingga pagi, disambung sore hari.
Momentum yang sama juga bisa disaksikan di muara Sungai Cipasarangan Desa Cikelet, muara Sungai Cimangke Desa Cigadog dan di muara Cibaluk Desa Sagara Kecamatan Cibalong.
Kendati diklaim di setiap tanggal 25 bulan Hijriah, namun kemunculannya, ungkap maestro penangkap ikan Impun asal Cijambe, Eben (39), lagi lagi tergantung kondisi air laut dan cuaca.
“Biasanya ikan Impun akan keluar apabila sebelumnya sungai mengalami banjir beberapa kali atau aliran airnya cukup besar, ditambah kondisi air laut-nya itu sendiri bagus,” ungkap Eben.
Namun dalam kondisi tertentu, ditandai musim kemarau panjang, situasi tersebut berpengaruh terhadap kecilnya aliran air sungai, dalam situasi itu, kecil kemungkinan ikan Impun muncul.
Kemunculan ikan Impun bagi Eben dan warga pesisir lainnya yang kerap melakukan aktivitas penangkapan saat Nyalawena tersebut merupakan peristiwa yang dinantikan setiap bulan.
Pasalnya, papar Eben, saat ikan Impun muncul, masyarakat seolah berpesta pora merayakannya, sekaligus melakukan penangkapan secara masal dengan menggunakan Waring.
Ketertarikan warga menangkap ikan Impun, selain harganya memggiurkan, terang Eben lagi, yakni kisarana Rp. 50 ribu sampai Rp. 70 ribu per kilo gram, sekaligus dapat bersilaturahmi.
Gelak tawa dan canda menandai gerakan warga saat menangkap ikan Impun, Waring dipegang kuat menahan arus ombak, setelah arus berhenti, Waring diangkat dan Impun pun terperangkap.
Diungkapkan sesepuh Cikelet, Supriatna (52), begitulah cara alam atas Rido yang Maha Kuasa menyiasati keadaan, mengingatkan insan untuk selalu bersyukur dan memelihara kelestarian. (***)
Jurnalis: Ridwan
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com


Komentar