RUZKA INDONESIA — Di antara sisa-sisa bencana dan tanah yang masih menyimpan luka, harapan perlahan tumbuh di Desa Garoga, Kabupaten Tapanuli Selatan.
Harapan itu datang dari tangan-tangan relawan Yayasan Top Ranger And Mountain Pathfinder (TRAMP) yang tanpa lelah membangun kembali kehidupan warga, dimulai dari satu hunian tetap sementara yang kini telah berdiri.
Adalah Muhammad Ismukandar Mandji, Arya Sheva Fadillah, dan Simo Bimantoro Jyalito yang menjadi saksi sekaligus pelaku di lapangan.
Dengan peralatan seadanya dan semangat kemanusiaan yang kuat, mereka menyelesaikan pembangunan satu unit hunian bagi warga yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana.
“Rumah ini bukan sekadar bangunan, tapi simbol bahwa warga Garoga tidak sendiri,” ujar Muhammad Ismukandar Mandji, Jumat (16/1).
Ia menuturkan, saat ini tim relawan tengah bersiap melanjutkan pembangunan hunian kedua, sekaligus fasilitas MCK yang sangat dibutuhkan untuk menunjang kesehatan dan martabat hidup warga.
Kondisi di lapangan tidak selalu mudah. Akses terbatas, cuaca yang tak menentu, serta keterbatasan logistik kerap menjadi tantangan.
Namun, hal itu tak menyurutkan langkah para relawan. Bagi mereka, setiap paku yang tertancap dan setiap dinding yang berdiri adalah bentuk nyata kepedulian dan gotong royong.
Sebagai bentuk solidaritas dan dukungan terhadap perjuangan para relawan di lapangan, Yayasan Sosial Kemanusiaan TRAMP membuka ruang partisipasi bagi masyarakat luas yang ingin menyalurkan bantuan.
Di tengah keterbatasan, relawan TRAMP terus membuktikan bahwa kemanusiaan tidak pernah runtuh. Dari Desa Garoga, sebuah pesan sederhana menggema: kepedulian adalah fondasi paling kuat untuk membangun kembali kehidupan. (***)
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com


Komentar