RUZKA INDONESIA — Air belum sepenuhnya surut di Desa Mulyasari, Kecamatan Pamanukan, Kabupaten Subang. Jejak lumpur masih menempel di dinding rumah, perabotan ditumpuk seadanya, dan bau lembap menyergap setiap sudut gang.
Di wilayah Pantai Utara Jawa Barat itu, banjir bukan peristiwa luar biasa. Ia datang hampir setiap musim hujan ,mengulang luka yang sama.
Pekan lalu, di tengah kondisi warga yang masih berupaya bangkit, rombongan Dewan Pimpinan Cabang Partai Gerindra Kabupaten Subang tiba membawa paket bantuan kebutuhan pokok.
Momentum kedatangan mereka bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-18 Partai Gerindra. Namun di desa yang terendam, tak ada ruang untuk seremoni. Yang dibutuhkan warga adalah kehadiran dan bantuan nyata.
Desa Mulyasari dipilih sebagai titik penyaluran karena menjadi salah satu wilayah dengan dampak terparah. Sejumlah rumah terendam, aktivitas ekonomi lumpuh, dan sebagian warga terpaksa menghentikan pekerjaan harian mereka.
Bagi masyarakat Pantura, banjir tak hanya soal air, tetapi juga hilangnya penghasilan dan meningkatnya risiko penyakit.
Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Subang, Aceng Kudus, mengatakan peringatan ulang tahun partai tahun ini sengaja dimaknai berbeda. Alih-alih perayaan internal, Gerindra memilih turun langsung ke lapangan. “Tema Kompak, Bergerak, Berdampak bukan sekadar slogan. Kami ingin hadir saat warga benar-benar membutuhkan,” ujarnya .
Aceng menyebut, aksi tersebut merupakan bentuk tanggung jawab sosial dan politik partai terhadap masyarakat. Bagi dia, kader partai tak boleh berjarak dengan warga, terutama ketika bencana datang berulang tanpa solusi jangka panjang yang jelas.
Di lokasi yang sama, Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Subang–Majalengka–Sumedang, Jefry Romdoni, turut menyerahkan bantuan. Ia menyempatkan diri berdialog dengan warga, mendengar keluhan tentang banjir yang terus berulang, saluran air yang dangkal, hingga sungai yang meluap setiap musim hujan.
“Masalah banjir Pantura ini tidak bisa diselesaikan dengan bantuan darurat saja. Perlu penanganan menyeluruh, dari hulu sampai hilir,” kata Jefry, Senin (02/02/2026).
Ia menilai aspirasi warga harus menjadi dasar perumusan kebijakan, baik di tingkat daerah maupun pusat.
Banjir Pantura Subang memang menyisakan persoalan struktural. Alih fungsi lahan, pendangkalan sungai, buruknya sistem drainase, dan lemahnya pengendalian tata ruang kerap disebut sebagai penyebab berulangnya bencana. Namun setiap kali air surut, perhatian publik ikut mengering.
Bagi warga Desa Mulyasari, bantuan yang datang setidaknya menjadi penanda bahwa mereka tidak sepenuhnya sendirian. Seorang warga mengaku terbantu, meski berharap perhatian tidak berhenti pada paket sembako.
“Kami ingin solusi supaya banjir tidak terus-terusan begini,” ujarnya.
Kegiatan kemanusiaan ini, menurut Aceng, sejalan dengan arahan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto agar seluruh kader hadir dan memberi solusi nyata di tengah masyarakat. Kehadiran partai, kata dia, semestinya dirasakan langsung manfaatnya oleh warga, terutama dalam situasi krisis.
Di Pantura Subang, air memang akan surut. Tapi pertanyaan tentang siapa yang bertanggung jawab mencegah banjir berikutnya akan tetap menggenang. Di sela lumpur dan bantuan darurat, warga menunggu lebih dari sekadar empati—mereka menunggu kebijakan yang benar-benar bekerja. (***)
Jurnalis: Eko Widiantoro
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com


Komentar