RUZKA INDONESIA — Kolaborasi musikal itu membuka malam yang teduh dengan ekspresi keintiman zaman Barok melalui komposisi โVittoria, mio core!โ karya Giacomo Carissimi.
Suasana hangat memenuhi ruangan Piano-Piano Theater di kawasan Manhattan, New York, pada Jumat (03/03/2026) pekan lalu.
Bertajuk Poetry, Roots, Resonance, kolaborasi ini menghadirkan mezzo-soprano muda Indonesia, Beatrice Jean Consolata Gobang, yang disapa Beatrice Gobang, dalam debut solo resitalnya dengan iringan pianis Ayunia Indri Saputro di jantung New York City.
Sesuai tema dan arahan artistik Aning Katamsi, pentas ini menyajikan perjalanan musikal yang menghubungkan puisi, sejarah, dan ingatan budaya lintas abad.
Repertoar art song merentang dari zaman Barok hingga kontemporer. Termasuk menghadirkan beberapa tembang puitis Indonesia.
Komposisi โVittoria, mio core!โ yang mengawali pentas berasal dari puisi karya Domenico Benigni yang digubah oleh Carissimi (1605-1674), salah satu maestro musik Barok.
Vokal Beatrice terus berdialog selaras dengan permainan piano Ayunia, ketika menampilkan dua karya Wolfgang Amadeus Mozart (1756-1791), yakni โAn Chloรซโ dan โVoi che sapeteโ. Yang kedua ini merupakan aria dari opera โLe Nozze di Figaroโ berlatar Spanyol pada akhir abad ke-18.
Memasuki dunia Lied (lagu seni) Jerman, sejumlah komposisi menjadikan puisi sebagai inti ekspresi musikal oleh para komposer dunia (dari 1700-an hingga awal 1900).
Komposisi yang dibawakan yakni โLachen und Weinenโ karya Franz Schubert, โSchwanenliedโ karya Fanny Mendelssohn-Hensel, โHerbstliedโ karya Felix Mendelssohn, dan โDer Gรคrtnerโ karya Hugo Wolf.
Setelah menelusuri tradisi Eropa, secara perlahan arah musikal bergeser menuju Indonesia, menghadirkan tembang puitis โSetitik Embunโ karya Mochtar Embut (1934-1973) dan โCempaka Kuningโ karya Sjafii Embut (1935-1987). Kedua karya ini menyajikan keindahan puisi dan ekspresi musikal Indonesia kepada pendengar internasional.
Selepas jeda, resital membuka lanskap musikal yang lebih luas. Beatrice melantunkan โTiga Sajak Pendekโ karya Ananda Sukarlan (1968) dari puisi Sapardi Djoko Damono. Berdampingan dengan mรฉlodie Prancis โLes chemins de lโamourโ karya Francis Poulenc (1899-1963).
Di piano, Ayunia kemudian memainkan โPagodes from Estampesโ karya Claude Debussy (1862-1918). Komposisi ini lahir dari kekaguman Debussy terhadap bunyi gamelan Jawa yang ia dengar di Paris pada akhir abad ke-19.
Program kemudian kembali pada akar tradisi Nusantara melalui lagu rakyat โMana Lolo Bandaโ dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Lalu diakhiri dengan sentuhan sederhana โSimple Giftsโ karya komposer Amerika Aaron Copland (1900-1990).
Resital malam itu ditutup dengan dua lagu pada sesi encore, yakni โLe Violetteโ karya Alessandro Scarlatti (1660-1725) dan โIndonesia Pusakaโ karya Ismail Marzuki (1914-1958). โTerima kasih โIndonesia Pusakaโ. Ini adalah ungkapan cinta akan tanah air,โ ujar sejumlah penonton diaspora Indonesia di New York.
Rangkaian repertoar ini menghadirkan perjalanan emosional dari berbagai akar tradisi hingga resonansi musikal yang hangat dan reflektif.
Perjalanan Musikal
Bagi Beatrice, malam tersebut menandai langkah penting dalam perjalanan belajar dan artistiknya. Remaja kelahiran Jakarta ini tampil pertama kali di panggung internasional Weill Recital Hall, Carnegie Hall New York, pada Desember 2022, setelah meraih penghargaan dalam American Protรฉgรฉ International Competition dan Golden Classical Music Awards.
Pada Maret 2026, ia kembali tampil di Carnegie Hall sebagai First Prize Winner kategori vokal klasik dalam konser para pemenang Golden Classical Music Awards.
Perjalanan musik pelajar Kolese Gonzaga Jakarta ini dimulai sejak masa kecil melalui biola dan piano dengan metode Suzuki. Ia kemudian menekuni studi vokal di The Resonanz Music Studio Jakarta bersama mezzo-soprano Valentina Nova.
Sejak 2021, ia melanjutkan pembinaan vokal bersama soprano dan pedagog Aning Katamsi, serta aktif sebagai anggota The Resonanz Childrenโs Choir sejak 2018. Ia juga mengikuti sejumlah masterclass vokal internasional.
Sementara Ayunia adalah pianis dan pendidik musik kelahiran Surabaya yang telah tampil di berbagai festival internasional, termasuk Chan Centre for the Performing Arts.
Dia juga memenangkan beberapa kompetisi, di antaranya Ananda Sukarlan Award International Piano Competition, Silverman Piano Concerto Competition, dan Indonesia International Piano Competition.
Selain mengajar dan mempresentasikan karya, saat ini Ayunia sedang menempuh studi doktoral bidang pedagogi dan pertunjukan piano di Universitas Michigan, Amerika Serikat.
Resital ini diselenggarakan sebagai bagian dari kerja-kolaboratif HeartSongGift, sebuah gerakan budaya yang diinisiasi oleh Avanti Fontana dalam upaya bersama menumbuhkan warisan budaya melalui musik sekaligus mendukung perkembangan talenta muda.
Kali ini HeartSongGift menjalin kemitraan dengan Pondok Baca Kampung Kabor di Maumere, Flores, untuk berbagi pengalaman dan berkokreasi dalam kegiatan literasi serta pendidikan musik bagi anak-anak.
Kolaborasi musikal dalam Poetry, Roots, Resonance ini menghadirkan lebih dari sekadar konser. Ia menjadi pengingat bahwa musikโyang lahir dari puisi dan ingatan budayaโdapat menjadi bahasa bersama yang membawa kenangan, rasa syukur, dan harapan akan keterhubungan antarmanusia dan generasi. (***)
Jurnalis: HSG
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com


Komentar