RUZKA INDONESIA — Pemerintah Kabupaten Majalengka menegaskan komitmennya merawat dan menghidupkan kembali Situs Sangraja Cigasong sebagai warisan sejarah yang memiliki nilai historis, edukatif, dan ekonomis.
Komitmen itu ditegaskan dalam agenda Ngaruat Jagat Alam Cai Kahuripan yang digelar di kompleks situs tersebut, Jumat, 13 Februari 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Jadi Majalengka ke-186.
Rangkaian kegiatan diawali dengan penanaman pohon sebagai simbol perawatan alam, dilanjutkan santunan bagi anak yatim dan lanjut usia yang diserahkan secara simbolis oleh Eman Suherman.
Acara kemudian ditutup dengan pertunjukan seni tradisi Sampyong yang melibatkan para pelaku seni budaya lokal.
Dalam sambutannya, Eman Suherman mengatakan Situs Sangraja merupakan aset milik pemerintah daerah yang lokasinya relatif dekat dengan pusat pemerintahan Kabupaten Majalengka. Posisi strategis tersebut, menurut dia, membuka peluang besar untuk pengembangan kawasan berbasis pelestarian sejarah.
โSitus ini memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai ruang edukasi, rekreasi, hingga aktivitas olahraga,โ ujar Eman.
Ia menambahkan, upaya merawat Situs Sangraja juga merupakan kelanjutan dari jejak para bupati terdahulu, khususnya Bupati ke-7 Majalengka, Raden Mahdali, yang pernah memberi perhatian pada kawasan tersebut.
โSebagai Bupati ke-26, saya ingin meneruskan tanggung jawab sejarah itu sebagai bentuk kebanggaan daerah,โ kata Eman.
Kedepan, pemerintah daerah berencana menata kawasan Situs Sangraja secara kolaboratif bersama masyarakat adat dan warga setempat. Pendekatan ini diharapkan dapat menjaga nilai sejarah dan budaya sekaligus mendorong kebangkitan ekonomi masyarakat sekitar.
Pelaku budaya sekaligus Ketua Komite Ekonomi Kreatif Majalengka, H. Baya, menilai kegiatan Ngaruat Jagat tidak sekadar seremoni, melainkan refleksi kesadaran kolektif untuk merawat hubungan manusia dengan alam dan sejarahnya.
Ia menyebut seni tradisi seperti Sampyong lahir dari ruang sosial masyarakat agraris yang memuliakan alam sebagai sumber kehidupan.
โTradisi dan ritual budaya tidak boleh dipisahkan dari konteks zamannya. Ia harus terus hidup, berinteraksi dengan realitas hari ini, dan memberi manfaat bagi masyarakat,โ ujar Baya.
Menurut dia, pelestarian budaya perlu ditempatkan dalam kerangka ekonomi kreatif agar berkelanjutan. Seni tradisi, kata Baya, dapat menjadi medium edukasi sekaligus penggerak ekonomi lokal jika dikelola secara konsisten dan melibatkan masyarakat.
โKetika budaya dirawat dan diberi ruang, ia tidak hanya menjaga identitas, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi para pelakunya,โ ungkapnya.
Baya berharap revitalisasi Situs Sangraja tidak berhenti pada penataan fisik kawasan, tetapi juga penguatan narasi sejarah dan aktivitas kebudayaan yang berkelanjutan.
Dengan demikian, Situs Sangraja dapat tumbuh sebagai ruang hidup kebudayaan yang memberi makna sosial dan ekonomi bagi masyarakat Majalengka. (***)
Jurnalis: Eko Widiantoro
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com


Komentar