RUZKA INDONESIA — Lemari pakaian kerap menjadi ruang penyimpanan sunyi bagi benda-benda yang pernah memiliki peran penting: kemeja hari pertama bekerja, jaket yang setia menemani perjalanan dinas, atau seragam lama yang tak lagi terpakai.
Ketika fungsi itu berakhir, pakaian sering kali berhenti sebagai limbah. Padahal, di sana masih tersisa nilai dan peluang.
Kesadaran inilah yang coba dirawat PT Patra Drilling Contractor melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) 2026 bertajuk Tangan Kedua: Setiap Jahitan, Ada Harapan. Program ini mengajak para perwira perusahaan membawa pakaian bekas tak layak pakai dari rumah ke kantor bukan untuk disumbangkan secara konvensional, melainkan untuk dikelola kembali secara bertanggung jawab.
“Ini bukan sekadar pengumpulan pakaian,” ujar Corporate Secretary PDC, Ani Aryani. Menurut dia, Tangan Kedua dirancang sebagai upaya membangun kesadaran kolektif tentang persoalan limbah tekstil yang kian mengemuka.
“Kami ingin memperluas makna tanggung jawab sosial,bahwa keberlanjutan bisa dimulai dari kebiasaan sehari-hari, termasuk cara kita memperlakukan barang yang sudah tak digunakan,” katanya.
Indonesia merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan limbah tekstil yang signifikan, seiring meningkatnya konsumsi fesyen dan minimnya sistem daur ulang dari sumber.
Dalam konteks itu, PDC memilih bekerja sama dengan Rumah Pilah Teratai Putih, komunitas pengelola sampah dan daur ulang berbasis di Duren Sawit, Jakarta Timur.
Kolaborasi ini menempatkan pakaian bekas bukan sebagai beban, melainkan bahan baku. Setiap potong pakaian dipilah, ditentukan kemungkinan pemanfaatannya—apakah digunakan ulang, diolah menjadi produk kerajinan, atau didaur ulang sesuai prinsip ekonomi sirkular.
Pendiri Rumah Pilah Teratai Putih, Chevie yang dikenal dengan lini Arnetta Craft menilai keterlibatan sektor korporasi menjadi elemen penting dalam upaya pengurangan limbah dari hulunya.
“Setiap pakaian punya peluang untuk hidup kembali. Ketika perusahaan terlibat langsung, dampaknya jauh lebih terasa karena perubahan dimulai dari sumber konsumsi,” ujarnya.
Dari sisi internal perusahaan, partisipasi pekerja menjadi fondasi program ini. Jr. Analyst CSR & Stakeholder PDC, Harun, menyebut keberhasilan Tangan Kedua ditentukan oleh kesadaran personal para perwira.
“Satu atau dua pakaian mungkin terlihat sepele. Tapi ketika dilakukan bersama, dampaknya nyata. Kami ingin ini menjadi kebiasaan, bukan agenda seremonial,” terangnya.
Pada hari pengumpulan yang berlangsung 13 Februari 2026 di PDC Tower, sebanyak 154 potong pakaian berhasil dihimpun—mulai dari kemeja, kaus, celana, jaket, hingga outer. Seluruhnya kini memasuki tahap pemilahan dan pengolahan lanjutan oleh mitra komunitas.
Program Tangan Kedua menunjukkan bahwa narasi keberlanjutan tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar atau investasi mahal. Ia bisa berangkat dari lemari pakaian di rumah, bergerak ke ruang kerja, lalu menjalar ke komunitas.
Pada akhirnya, perubahan kerap lahir dari keputusan sederhana: memilih tidak membuang, melainkan mengelola. Dari satu pakaian, satu kontribusi kecil, dan satu kesadaran bersama hingga setiap jahitan benar-benar membawa harapan baru. (***)
Jurnalis: Eko Widiantoro
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com


Komentar