RUZKA INDONESIA — Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Filipina per akhir Maret 2026 melonjak tajam akibat perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.
BBM jenis bensin menembus 110 Peso per liter (sekitar >Rp31.000) dan solar mencapai Rp37.000-an per liter. Kenaikan dua digit ini memicu darurat energi dan subsidi pemerintah untuk sopir
Filipina pada hari Selasa (24/03/2026) menjadi negara pertama yang menyatakan darurat energi nasional. Ini sebagai imbas meningkatnya gangguan pasokan global perang.
Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr menandatangani perintah eksekutif yang secara resmi menyatakan keadaan darurat dan mengaktifkan respons nasional untuk menstabilkan pasokan energi serta melindungi perekonomian dari kenaikan biaya bahan bakar.
“Keadaan darurat energi nasional dengan ini diumumka sehubungan dengan konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah, dan bahaya yang ditimbulkan terhadap ketersediaan dan stabilitas pasokan energi negara,” jelas Marcos dalam perintah eksekutif yang dibagikan kepada media, sebagaimana dikutip dari BBC.
Pemerintah Filipina menetapkan status darurat energi, menyiapkan dana bantuan Rp5,6 triliun, dan mempertimbangkan impor minyak standar Euro 2 untuk mengatasi kekurangan pasokan.
Lalu, bagaimana dengan di Indonesia? Pemerintah juga telah mencoba mengantisipasi agar terjadi kelangkaan BBM yang menimbulkan kenaikan harga BBM.
Kebijkannya, melibatkan kombinasi penghematan konsumsi oleh masyarakat dan perbaikan distribusi oleh pemerintah.
Langkah efektif meliputi peralihan ke transportasi umum, penggunaan kendaraan ramah lingkungan, optimalisasi distribusi BBM ke SPBU, serta diversifikasi ke energi alternatif.
Kebijakan lainnya yakni Work From Home (WFH) satu hari dalam sepekan untuk pegawai dan dianjurkan bagi swasta setelah dan rencana siswa belajar di rumah atau kombinasi daring dan tatap muka mulai April 2026.
Langkah ini bertujuan menghemat konsumsi energi BBM hingga 20% dan mengurangi kemacetan, terutama di Jakarta. Kebijakan ini tidak berlaku bagi sektor pelayanan publik dan operasional. (***)
Jurnalis/Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com


Komentar