Kolom
Beranda » Berita » Catatan Cak AT: Perang yang Sudah Kalah

Catatan Cak AT: Perang yang Sudah Kalah

Foto ilustrasi Catatan Cak AT: Perang yang Sudah Kalah. (Foto: Dok RUZKA INDONESIA)

Ketika seorang jurnalis Israel berkata: “Barat tidak bisa memenangkan perang ini.”

RUZKA INDONESIA — Ada kalanya sejarah berjalan seperti komedi gelap. Semua pemain masuk panggung dengan kostum megah, musik perang berkumandang, kamera televisi siap menyiarkan kemenangan.

Tetapi tiba-tiba naskahnya berubah. Para aktor utama tampak bingung, penonton mulai bertanya-tanya, dan lampu panggung justru menyorot sesuatu yang selama ini disembunyikan.

Begitulah kira-kira nada yang muncul dari seorang jurnalis Israel bernama Alon Mizrahi ketika ia berbicara tentang perang terbaru antara Iran melawan blok Amerika Serikat dan Israel.

Narasinya terdengar aneh di tengah pembungkaman — atau mungkin kebungkaman — media-media Barat mengenai rincian perang yang dimulai negeri mereka sendiri, Amerika Serikat, yang selama ini merasa paling jumawa dan unggul.

Catatan Cak AT: Kalam Kyai Madura

-000-

Alon Mizrahi bukan sosok sembarangan yang tiba-tiba muncul dari lorong gelap internet. Ia lahir di Israel dari keluarga Yahudi Mizrahi — yakni komunitas Yahudi Timur Tengah yang secara sejarah dan budaya jauh lebih dekat dengan dunia Arab dibandingkan dengan Yahudi Eropa.

Ayahnya berdarah Arab, sementara ibunya berasal dari keluarga Yahudi Maroko. Karena latar itulah ia sering menyebut dirinya dengan istilah yang agak jarang terdengar dalam wacana politik Israel modern: seorang “Yahudi Arab”. Sebuah identitas yang di Israel sendiri sering terasa seperti paradoks.

Seperti banyak pemuda Israel lainnya, Mizrahi pernah menjalani wajib militer di Angkatan Bersenjata Israel (IDF). Pada masa mudanya ia bahkan dikenal memiliki pandangan politik yang cenderung kanan. Namun perjalanan hidup sering memiliki cara unik untuk membelokkan arah keyakinan seseorang.

Setelah mengalami trauma pribadi — termasuk kematian saudaranya dalam kecelakaan motor — pandangan politiknya berubah secara drastis. Ia kemudian bergerak ke spektrum kiri radikal dan mulai mengkritik keras ideologi Zionisme, struktur kekuasaan negara Israel, serta cara negara itu memperlakukan rakyat Palestina.

Hanya dengan Al-Quran Umat Meraih Kembali Kemuliaan

Pada akhirnya ia memilih meninggalkan Israel dan menetap di Amerika Serikat sebagai bentuk protes terhadap apa yang ia sebut sebagai genosida yang dilakukan Israel di Gaza. Dari sana ia menjadi salah satu suara Yahudi paling keras yang menentang kebijakan negara asalnya sendiri.

Mizrahi berargumen bahwa elite politik Israel dan sebagian besar masyarakatnya telah terjebak dalam pola kebencian anti-Arab yang sangat dalam, sebuah kondisi yang menurutnya hanya dapat diakhiri jika struktur negara Israel sendiri dibongkar dan dibangun kembali dalam bentuk politik yang baru.

Ia juga dikenal sebagai pembawa acara kanal analisis geopolitik The Mizrahi Perspective di YouTube dan Substack. Dalam berbagai tulisannya ia sering membahas isu-isu yang sensitif dalam masyarakat Israel: dehumanisasi terhadap bangsa Arab dan Palestina, hierarki rasial antara komunitas Yahudi Eropa dan Yahudi Timur Tengah, serta apa yang ia sebut sebagai psikopatologi kekerasan kolonial dalam politik modern Israel.

Tak mengherankan jika pandangannya menimbulkan reaksi yang sangat tajam dari berbagai pihak. Di satu sisi, ia mendapat dukungan dari kalangan anti-Zionis, aktivis hak asasi manusia, dan sebagian intelektual progresif yang melihatnya sebagai suara hati nurani dari dalam komunitas Yahudi sendiri.

-000-

Catatan Cak AT: Militerisasi AI

Nama Mizrahi sendiri bagi banyak orang mungkin terdengar seperti nama pemain sepak bola Tel Aviv, bukan komentator geopolitik yang siap menyalakan kembang api di tengah gudang propaganda Barat. Namanya Israel sekali, tetapi narasinya justru menentang kebisuan hati nurani bangsanya yang memilih diam.

Tetapi justru karena itulah pernyataannya terasa mengguncang. Ia bukan orang Iran, bukan analis dari Moskow atau Beijing. Ia seorang Israel yang menyaksikan konflik kawasan dari dekat, lalu berkata dengan kalimat yang sederhana namun tajam: ini adalah perang yang tidak bisa dimenangkan Barat.

“Kita sedang menyaksikan sejarah,” katanya. “Iran, di luar dugaan semua orang, menghancurkan pangkalan-pangkalan Amerika secara begitu luas, begitu menyeluruh, dan begitu menentukan sehingga dunia belum siap melihatnya.”

Kalimat itu, bagi telinga yang terbiasa dengan retorika militer Barat, terdengar hampir seperti satire. Tetapi Mizrahi berbicara dengan nada yang lebih menyerupai laporan kerusakan daripada pidato ideologis. Ia, sebagai wartawan sejati, tampaknya sedang berusaha menyuarakan hati nuraninya sejujurnya.

Ia memberi kesimpulan itu berbasis fakta yang sebenarnya kasat mata. Ia menunjuk pada jaringan pangkalan militer Amerika yang tersebar di seluruh Teluk Persia — di Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Arab Saudi. Banyak di antaranya kini dilaporkan rusak berat, lumpuh operasional, atau tidak lagi dapat berfungsi seperti sebelumnya.

Pangkalan-pangkalan itu bukan sekadar lapangan parkir pesawat tempur. Semuanya merupakan kota-kota militer raksasa di dalam negara: hanggar pesawat, pelabuhan armada laut, radar jarak jauh, gudang logistik, serta sistem pertahanan udara paling mahal yang pernah dibuat manusia.

Semua itu, kata Mizrahi, dibangun selama beberapa dekade dengan biaya yang tidak main-main: triliunan dolar. Artinya sederhana. Yang sedang dipertaruhkan bukan hanya beberapa fasilitas militer. Yang sedang dipertaruhkan adalah investasi strategis Amerika selama lebih dari tiga puluh tahun di Timur Tengah.

Bayangkan seseorang menabung selama tiga dekade untuk membangun rumah paling mahal di kompleks elit. Lalu dalam waktu kurang dari seminggu — tepatnya hanya dalam empat hari perang — rumah itu berubah menjadi puing dan asap.

Dalam metafora Mizrahi, itulah kira-kira gambaran yang sedang terjadi pada jaringan pangkalan militer Amerika di kawasan Teluk. Tentu masih tampak sisa-sisa bangunan yang berdiri: hanggar, parkir kendaraan lapis baja, atau barak tentara. Tetapi semuanya tampak berantakan dan kehilangan fungsi kehidupan militernya.

Ia bahkan memberikan contoh yang hampir terasa seperti ironi teknologi. Radar militer yang harganya ratusan juta dolar per unit — perangkat yang dirancang untuk mendeteksi misil dari ribuan kilometer — dilaporkan hancur dalam hitungan detik.

Sistem yang seharusnya menjadi mata dan telinga pertahanan itu justru menjadi korban pertama dari serangan yang datang tanpa ampun, bagai hujan api dari langit Iran. Beberapa pangkalan, menurutnya, tampak rusak parah, ditinggalkan, bahkan terbakar.

Jika gambaran itu benar — dan fakta-fakta indikatornya terungkap jelas — maka kita sedang menyaksikan sesuatu yang jarang terjadi dalam sejarah militer Amerika: tanda kekalahan strategis yang sangat sulit dibalikkan.

Mizrahi sendiri membuat perbandingan yang sangat dramatis. Mungkin hanya Pearl Harbor pada tahun 1941 yang bisa dibandingkan dengan skala kehancuran seperti ini. Tetapi bahkan Pearl Harbor, katanya, adalah satu serangan di satu pangkalan dalam satu hari.

Apa yang terjadi sekarang, menurutnya, jauh lebih luas. Dalam sejarah perang modern, hampir tidak ada musuh dalam perang konvensional yang mampu menimbulkan kerusakan sebesar serangan misil dan drone Iran terhadap infrastruktur militer Amerika.

Ironisnya, justru pada saat peristiwa sebesar ini dikatakan terjadi, dunia hampir tidak melihat gambar apa pun di media arus utama Barat. Di sinilah Mizrahi mulai mengajukan pertanyaan yang membuat ruang redaksi Barat sedikit berkeringat.

Tiga puluh lima tahun lalu, pada Perang Teluk pertama, televisi dunia setiap malam menayangkan video bom pintar yang jatuh seperti kembang api digital di Baghdad. Kamera night-vision menjadi bintang baru media global. Setiap serangan ditampilkan seperti trailer film teknologi militer yang heroik.

Tetapi di perang sekarang hampir tidak ada rekaman. Jika Amerika benar-benar menguasai langit Iran, di mana video pesawat tempur yang terbang di atas Teheran? Di mana gambar dominasi udara yang selama ini selalu menjadi kebanggaan militer Amerika?

Pertanyaan itu menggantung seperti lampu yang tidak dimatikan di ruang konferensi Pentagon. Sebagian anggota Kongres memang bersuara keras seperti biasa, namun sering kali kritik mereka hanya dipandang sebagai bagian dari pertarungan politik domestik.

Mizrahi yang tidak memiliki ambisi politik tampaknya melihat situasi ini dengan lebih dingin. Bahkan gagasan-gagasan yang muncul dari Washington akhir-akhir ini, menurutnya, mulai terdengar semakin aneh. Misalnya rencana mengirim kapal pengawal militer untuk tanker minyak yang keluar dari Teluk Persia.

Pertanyaannya sederhana: kapal apa yang cukup berani masuk ke wilayah yang berada dalam jangkauan ribuan misil Iran?

Selat Hormuz, jalur sempit tempat hampir seperlima minyak dunia lewat setiap hari, berada tepat di depan wilayah Iran dan dalam jangkauan penuh sistem pertahanan negara itu. Dalam imajinasi geopolitik saat ini, jalur pelayaran itu bahkan mulai terlihat lebih seperti galeri tembak daripada rute perdagangan internasional.

Iran, kata Mizrahi, telah mempersiapkan kemungkinan perang ini selama puluhan tahun. Setiap skenario kemungkinan serangan telah dipelajari dan dipetakan dengan cermat.

Sebagian analis Barat bahkan mulai berbicara tentang kemungkinan mempersenjatai milisi Kurdi untuk menyerang Iran dari darat. Tetapi di sini Mizrahi mengajak kita melakukan sesuatu yang sederhana namun sering dilupakan para perencana perang: melihat peta.

Iran adalah negara dengan luas sekitar 1,6 juta kilometer persegi. Ia bukan negara kecil yang bisa disapu oleh pasukan ekspedisi kecil seperti dalam film aksi. Dan peta itu menjadi lebih luas lagi jika kita membayangkan jaringan kota-kota militer yang mereka bangun jauh di bawah tanah.

“Apakah benar ada orang yang percaya bahwa milisi sepuluh ribu orang bisa menginvasi Iran?” tanya Mizrahi dengan nada yang hampir terdengar seperti guru geografi yang putus asa. Bahkan lima puluh ribu, bahkan seratus ribu orang, menurutnya, tidak akan cukup.

Kekuatan militer Iran, katanya, akan menelan mereka dari segala penjuru datangnya invasi — baik dari udara, laut, maupun darat. Di titik inilah kesimpulan Mizrahi menjadi sangat tajam. Menurutnya, Amerika Serikat dan Israel sebenarnya sudah kalah dalam perang ini.

Bukan berarti mereka tidak memiliki kemampuan menghancurkan kota-kota, merobohkan gedung, atau menimbulkan korban sipil dalam jumlah besar. Kemampuan itu jelas ada. Tetapi menghancurkan infrastruktur sipil tidak sama dengan memenangkan perang strategis.

Sebagian besar infrastruktur militer Iran, katanya, berada jauh di bawah tanah, tersebar di berbagai lokasi di seluruh negeri. Sistem misil, gudang persenjataan, dan pusat komando dibangun dengan asumsi bahwa suatu hari Iran akan menghadapi serangan besar.

Dengan kata lain, perang ini kemungkinan telah dipersiapkan oleh Iran jauh lebih lama daripada yang dibayangkan para pengambil keputusan di Washington dan Tel Aviv.

“Amerika dan Israel telah memulai sesuatu yang tidak memiliki peluang untuk mereka selesaikan,” kata Mizrahi. Dan kalimat terakhirnya ini terasa seperti epilog yang agak pahit bagi geopolitik Barat.

Ketika konflik ini berakhir, katanya, Amerika mungkin tidak akan kembali lagi ke Asia Barat seperti selama ini. Kehadiran militer Amerika di Timur Tengah yang dibangun sejak akhir abad ke-20 bisa saja berakhir sebagai satu bab sejarah.

Sejarah memang memiliki selera humor yang unik. Kadang ia membangun imperium selama tiga puluh tahun. Lalu menjatuhkannya hanya dalam satu pekan.

Penulis: Cak AT – Ahmadie Thaha/Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 7/3/2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Berlaku Nasional, Polres Garut Imbau Masyarakat Manfaatkan Layanan Gratis Contact Center 110

05

Suzuki Carry Minivan 2026, Irit dengan Kegagahan dan Kenyamanan

06

Depok akan Bangun Pabrik Pengelolaan Sampah RDF di TPA Cipayung

07

Warga Dukung Pembangunan Jogging Track Diatas Air Situ 7 Muara Depok, Benarkah Itu?

Sorotan






Kolom