Kolom
Beranda » Berita » Catatan Cak AT: Kentungan Oranye Anies

Catatan Cak AT: Kentungan Oranye Anies

Foto ilustrasi Catatan Cak AT: Keuntungan Oranye Anies. (Foto: Dok RUZKA INDONESIA)

RUZKA INDONESIA — Politik Indonesia memang tak pernah kekurangan drama. Kadang ia tampak seperti sinetron panjang: judulnya ganti, tokohnya sama, konfliknya berulang, dan penontonnya tetap setia meski sering mengeluh.

Maka ketika Partai Gerakan Rakyat dideklarasikan pada pertengahan Januari 2026, publik langsung mafhum: ini bukan sekadar kelahiran partai, tapi kelahiran harapan. Dan tentu saja, kelahiran kalkulasi.

Bedanya dengan banyak partai baru lain yang malu-malu menyebut arah, Gerakan Rakyat justru tampil tanpa basa-basi. Sejak awal, sejak mikrofon deklarasi belum dingin, nama Anies Baswedan sudah disebut sebagai figur yang diharapkan menjadi presiden.

Disebut namanya terang-benderang sekarang. Bukan nanti, bukan menunggu kongres, bukan setelah survei. Langsung. Sekali ucap. Seperti orang jualan bakso yang sejak awal teriak: “Ini bakso urat, bukan pentol campur!”

Dalam logika politik elektoral, langkah semacam ini justru sangat rasional. Partai baru itu ibarat warung yang baru buka. Kalau di spanduknya hanya tertulis “menjual makanan”, orang akan lewat begitu saja. Menoleh saja tidak.

Catatan Cak AT: Jatuhnya Saham Sebagai Gejala

Tapi kalau tertulis “rawon legendaris”, meski belum tentu legendaris, orang minimal berhenti melirik. Begitulah. Nama calon presiden adalah etalase utama. Tanpanya, partai baru hanya jadi bangunan kosong dengan pintu terbuka.

Ilmu politik menyebut ini sebagai candidate-centered party strategy, strategi partai yang berpusat pada kandidat. Partai bukan dibangun dari ideologi yang tebal seperti kitab berjilid-jilid, melainkan dari figur yang sudah hidup dalam ingatan publik.

Di banyak negara, strategi ini lazim. Emmanuel Macron mendirikan La République En Marche! (LREM) dari gerakan sosial yang cair, lalu menjelma mesin elektoral yang efisien. Ia tampil sejak awal dengan satu pesan: ini kendaraan saya.

Ia tidak masuk partai lama, tapi mendirikan partai baru khusus untuk dirinya sendiri. En Marche! berarti: “Republik ini sedang bergerak — dan saya yang menggerakkannya.” Dan secara simbolik, huruf “EM” di En Marche! adalah inisial Emmanuel Macron.

Di Ukraina, Volodymyr Zelensky bahkan menjadikan nama partainya identik dengan serial yang melambungkan namanya. Sebelum jadi presiden, ia adalah aktor dan komedian yang sangat populer lewat sebuah serial TV berjudul Servant of the People.

Catatan Cak AT: Paradoksnya Paradoks

Di Italia, Gerakan Lima Bintang (Movimento 5 Stelle) lahir dari aktivisme jalanan dan kekecewaan publik. Pendiri utamanya bahkan bukan politisi, melainkan Beppe Grillo, seorang komedian dan aktivis.

Partai mengikuti tokoh, bukan sebaliknya. Bedanya, di sana sistem memungkinkan partai baru langsung berlari. Di sini, partai baru harus lebih dulu melewati rimba administrasi yang panjangnya bisa mengalahkan sinetron kejar tayang.

Dalam konteks Indonesia, logika Partai Gerakan Rakyat justru lebih masuk akal lagi. Pemilih kita tidak memilih karena platform setebal disertasi, tapi karena wajah di baliho. Karena ingatan emosional. Karena rasa “pernah berharap”.

Maka menyebut Anies sejak awal bukanlah sikap tergesa, melainkan kesadaran penuh akan watak pemilih kita. Para penggagas Partai Gerakan Rakyat tampaknya paham betul satu hal sederhana: suara simpatisan Anies itu nyata, terukur, dan masih hangat.

Bayangkan, puluhan juta pemilih Anies pada Pemilihan Presiden 2024 bukan angka kecil yang bisa disimpan di museum demokrasi. Ia harus diberi rumah. Dan rumah itu, bagi partai baru, adalah modal paling mahal.

Catatan Cak AT: Corak Kita di Mata Marx

Di sinilah perbedaannya dengan banyak partai yang memilih strategi malu-malu tapi mau. Mereka ingin suara figur, tapi takut mengikat diri. Akibatnya, yang terdengar hanya kalimat diplomatis: “terbuka pada semua kemungkinan”. Dalam bahasa rakyat, itu artinya belum tahu mau jual apa.

Gerakan Rakyat mengambil jalan sebaliknya. Mereka tentu sadar belum tentu bisa mengantar Anies ke Istana pada 2029, karena banyak cerita serupa dialami partai lain, bahkan yang mapan sekalipun. Tapi itu bukan tujuan jangka pendek.

Tujuan pertama mereka jauh lebih realistis: mengeruk suara Anies agar bisa lolos parlemen. Setelah itu, barulah politik bekerja dengan logikanya sendiri — koalisi, tawar-menawar, dan segala seni bertahan hidup yang diajarkan republik sejak reformasi.

Langkah ini mengingatkan pada nasihat seorang politisi senior yang pernah berkata lugas: partai boleh baru, tapi capresnya jangan ikut baru. Sebab rakyat tidak memilih bangunan, mereka memilih harapan yang sudah punya alamat di kepala.

Maka wajar jika deklarasi Partai Gerakan Rakyat terasa lebih “hidup” dibanding banyak kelahiran partai lain. Ada wajah, ada arah, ada cerita. Entah nanti ceritanya berakhir bahagia atau tragis, itu urusan bab berikutnya.

Menarik pula mencermati simbol yang dipilih partai ini. Logo Partai Gerakan Rakyat, jika dilihat sekilas, mengesankan huruf X — persilangan antara gambar kentungan dan pemukulnya yang dipasang menyilang. Simbol yang tampak sederhana, namun sarat tafsir.

Kentungan dalam tradisi kampung bukan alat musik, apalagi hiasan dinding, melainkan penanda bahaya, ajakan berkumpul, atau alarm sosial saat ada sesuatu yang genting. Ia dibunyikan bukan untuk keindahan, tapi untuk membangunkan.

Barangkali di situlah pesan simboliknya: ini bukan partai untuk bertepuk tangan, melainkan untuk membangunkan yang tertidur — atau setidaknya mengganggu mereka yang terlalu nyaman.

Warna oranye yang dipilih pun bukan tanpa jejak historis. Publik Jakarta tentu masih ingat ketika Anies Baswedan menjabat Gubernur DKI Jakarta dan memperkenalkan seragam oranye bagi pasukan kebersihan kota — yang kemudian populer dengan sebutan Pasukan Oranye.

Warna itu bukan sekadar estetika, melainkan simbol keberpihakan pada kerja sunyi: mereka yang membersihkan kota sejak subuh, jarang tampil di baliho, tapi paling nyata jasanya.

Kini warna yang sama hadir di partai politik yang disebut-sebut sebagai rumah perjuangan Anies. Entah disengaja atau tidak, oranye kembali menjadi bahasa simbolik: tentang kerja lapangan, tentang rakyat biasa, dan tentang politik yang ingin tampil bukan sebagai panggung elite, melainkan sebagai kentungan kampung — dipukul keras agar semua orang bangun dan sadar bahwa ada sesuatu yang sedang dipertaruhkan.

Untuk tahap awal, partai ini sudah melakukan satu hal penting: tidak membiarkan publik menebak-nebak. Dalam politik, ketidakjelasan adalah kemewahan yang hanya bisa dinikmati partai besar. Partai baru tidak punya hak itu.

Partai harus berteriak lebih dulu, meski suaranya serak. Dan Gerakan Rakyat memilih berteriak dengan satu nama: Anies Baswedan, lengkap dengan simbol kentungan dan warna oranye.

Apakah ini jaminan sukses? Tentu tidak. Tapi setidaknya publik tahu: partai ini tidak lahir untuk sekadar hidup, melainkan untuk mencoba menang. Dan dalam demokrasi, kadang keberanian menyebut tujuan sejak awal jauh lebih jujur daripada kecerdikan menyembunyikannya.

Politik pada akhirnya bukan soal siapa paling suci, melainkan siapa paling jujur menyatakan tujuan.

Sebab di republik ini, yang sering gagal bukan mereka yang kalah bertarung, melainkan mereka yang sejak awal tak pernah jelas sedang bertarung untuk apa. Tak sadar bahwa mendirikan partai adalah untuk memperoleh kekuasaan. (***)

Penulis: Cak AT – Ahmadie Thaha/Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 31/1/2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Berlaku Nasional, Polres Garut Imbau Masyarakat Manfaatkan Layanan Gratis Contact Center 110

05

Suzuki Carry Minivan 2026, Irit dengan Kegagahan dan Kenyamanan

06

Depok akan Bangun Pabrik Pengelolaan Sampah RDF di TPA Cipayung

07

Warga Dukung Pembangunan Jogging Track Diatas Air Situ 7 Muara Depok, Benarkah Itu?

Sorotan






Kolom