Kolom
Beranda ยป Berita ยป Catatan Cak AT: Kalkulasi Prabowo

Catatan Cak AT: Kalkulasi Prabowo

Foto ilustrasi Catatan Cak AT: Kalkulasi Prabowo. (Foto: Dok RUZKA INDONESIA)

Perang Dunia III, nuclear winter, dan politik bebas aktif. Salah kalkulasi atau strategi sunyi?

RUZKA INDONESIA — Di negeri yang mataharinya terbit dari timur dan isu global terbit dari mana saja, Presiden Prabowo Subianto berdiri dengan satu radar yang tak pernah dimatikan: radar perang.

Maklum, latar belakangnya bukan sekadar alumni kelas diplomasi, melainkan mantan panglima lapangan, eks Menteri Pertahanan, dan pernah lama memimpin Kopassus. Orang yang pernah mencium bau mesiu tentu lebih peka pada aroma barut yang samar terbawa angin geopolitik.

Sejak awal menjabat, ia seperti satpam dunia yang tak digaji PBB. April 2025, bahkan sebelum Amerika Serikat menggempur fasilitas pengayaan uranium Iran, ia sudah melempar peringatan tentang kemungkinan Perang Dunia III.

Waktu itu, sebagian orang tersenyum kecut, mengira ini trailer film yang terlalu dramatis.

Catatan Cak AT: Momentum Keluar dari Perdamaian Palsu

Februari 2026 di Sentul, ia ulangi lagi. Pidatonya tegas tentang nuclear winter, partikel radioaktif lintas batas, ikan-ikan terkontaminasi, matahari redup puluhan tahun. Dunia digambarkan seperti kulkas raksasa tanpa listrik, dan kita semua ada di dalamnya.

Filosofi luar negeri yang diungkapnya terdengar puitis sekaligus realistis: โ€œSeribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak.โ€

Kalimat itu seperti nasihat orang tua kepada anak kos yang baru merantau: “Jangan cari musuh, tetapi jangan pula terlalu polos percaya semua orang.”

Namun di tengah narasi bebas aktif dan nonblok itu, publik membaca gerak lain. Bukan satu, melainkan beberapa langkah yang memunculkan polemik.

Kedekatan dengan Amerika Serikat dan Israel, keikutsertaan dalam Board of Peace, penandatanganan perjanjian dagang resiprokal yang dinilai sebagian kalangan lebih menguntungkan pihak mitra โ€” semuanya menjadi bahan tafsir.

Catatan Cak AT: Estafet Sang Marjaโ€™ Revolusi

Di sisi lain, saat Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, wafat akibat serangan militer, Prabowo memilih hening. Ia tak menyampaikan ucapan belasungkawa secara terbuka. Padahal, dalam tradisi diplomasi, gestur kemanusiaan kerap dipisahkan dari sikap politik.

Maka pertanyaan publik muncul: mengapa kepada Washington dan Tel Aviv sikapnya terasa lebih hangat, sementara kepada Teheran yang sama-sama negeri Muslim terasa lebih dingin?

Prabowo sendiri berkali-kali menegaskan: jika kita memilih nonblok, jangan berharap ada yang menolong ketika ancaman datang. Logikanya jelas. Dunia nyata bukan seminar etika, melainkan arena kekuatan.

Para pendiri bangsa pun paham, sejak era blok komunis dan kapitalis, dunia terkotak-kotak. Indonesia belajar berdiri di antara gajah-gajah raksasa yang bila berkelahi, rumputlah yang remuk.

Namun sejarah juga menunjukkan, tak ada kekuatan yang permanen. Gajah pun bisa terpeleset. Rusia pernah pecah. Amerika Serikat yang lama dianggap polisi dunia, dalam eskalasi mutakhir dengan Iran tampak menghadapi tekanan yang meremukkan.

96% Kota Depok Dikuasai Ekspedisi Swasta, Pos Negara Tergerus: Di Mana Strategi Negara?

Israel yang selama ini diyakini superior secara teknologi militer pun dalam sejumlah eskalasi terakhir kewalahan menghadapi serangan balasan yang signifikan dan terukur dari Iran. Kekuatan militer Israel dilucuti tanpa ampun.

-000-

Marsekal Agung Sasongkojati, alumni US Air War College dan penerbang pertama F-16 Indonesia, dalam analisanya menilai dominasi eskalasi yang selama ini menjadi keunggulan Amerika Serikat dan Israel tidak lagi sepenuhnya utuh.

Serangan balasan Iran dengan kombinasi drone dan rudal jarak jauh berkecepatan tinggi memaksa Washington dan Tel Aviv masuk dalam pola perang atrisi yang menguras sumber daya dan logistik. Serangan Iran tak terbendung.

Di Israel, pangkalan udara strategis seperti Nevatim dan Tel Nof dilaporkan mengalami kerusakan signifikan pada infrastruktur. Landasan pacu dan fasilitas pendukung hancur, sehingga operasional pesawat tempur generasi lanjut, termasuk F-35 dan F-15, menghadapi keterbatasan.

Dalam analisis Agung, superioritas udara tak berarti banyak ketika runway retak dan depot bahan bakar terbakar. Pesawat secanggih apa pun menjadi kurang efektif jika basis operasionalnya terganggu. Kekuatan udara Israel kini dirujak Iran.

Sistem pertahanan berlapis Israel, dari Iron Dome, Davidโ€™s Sling, hingga Arrow, menghadapi tekanan berat akibat taktik saturasi. Gelombang drone murah Iran dipadukan dengan rudal presisi menciptakan radar dan baterai pertahanan kewalahan.

Di kawasan Teluk, semua pangkalan utama AS dilaporkan rata dengan tanah. Terjadi pula gangguan pada sistem radar dan identifikasi kawan-lawan (IFF). Insiden jatuhnya beberapa pesawat F-15 akibat tembakan pertahanan sendiri menampar muka AS.

Dari sisi logistik, konsumsi amunisi presisi jarak jauh dalam jumlah besar menciptakan tekanan pada stok strategis AS. Perang berkepanjangan berisiko membuka celah kesiapan di kawasan lain.

Di laut, gugus tugas kapal-kapal induk AS berada dalam posisi yang semakin kompleks. Serangan rudal-rudal jarak jauh dan drone Iran membuat manuver AS di sekitar Selat Hormuz terbatasi.

Kesimpulan Agung: konflik ini mengikis aura tak tersentuh kekuatan Barat di kawasan. Kerusakan pangkalan, tekanan sistem pertahanan, insiden friendly fire, serta beban logistik menunjukkan supremasi militer mereka tidak lagi sehebat klaim teknologi mereka.

-000-

Melihat kenyataan tersebut, pertanyaan nurani bangsa muncul lirih namun tajam: apakah kalkulasi Prabowo masih berbasis peta lama, sementara medan telah berubah?

Teori hubungan internasional mengenal bandwagoning dan balancing. Mendekat pada yang kuat untuk ikut selamat, atau menyeimbangkan agar tak ada yang terlalu dominan.

Pilihan mana yang sedang ditempuh Prabowo? Belum sepenuhnya terang. Mungkin condong ke AS. Atau mungkin ia mencoba memainkan keduanya sekaligus, seperti pemain catur yang memegang dua warna bidak dalam satu papan.

Tentang nuclear winter, para ilmuwan memang telah mensimulasikan bahwa perang nuklir skala besar dapat memicu pendinginan global drastis dan krisis pangan lintas generasi. Itu bukan dongeng, melainkan hasil model iklim dan pengalaman sejarah.

Namun dalam politik, ketakutan bisa menjadi kompas โ€” atau justru belenggu.

Jadi, apakah Prbowo salah kalkulasi? Atau justru sedang membaca realitas keras yang tak populer?

Pada akhirnya, ancaman Perang Dunia III bukan sekadar soal berpihak ke siapa. Ia adalah cermin bagi Indonesia: sejauh mana kita sungguh-sungguh siap berdiri di atas kaki sendiri.

Mandiri bukan hanya dalam pidato, tetapi dalam industri pertahanan, ketahanan pangan, energi, dan kohesi nasional. Iran sudah membuktikan soal ini.

Jika matahari benar-benar redup, yang menyelamatkan kita bukan tepuk tangan blok mana pun, melainkan daya tahan kita sendiri.

Karena dalam sejarah panjang umat manusia, yang bertahan bukan yang paling keras berteriak tentang perang, melainkan yang paling tekun menyiapkan damai. (***)

Penulis: Cak AT – Ahmadie Thaha/Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 4/3/2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Berlaku Nasional, Polres Garut Imbau Masyarakat Manfaatkan Layanan Gratis Contact Center 110

05

Suzuki Carry Minivan 2026, Irit dengan Kegagahan dan Kenyamanan

06

Depok akan Bangun Pabrik Pengelolaan Sampah RDF di TPA Cipayung

07

Warga Dukung Pembangunan Jogging Track Diatas Air Situ 7 Muara Depok, Benarkah Itu?

Sorotan






Kolom