RUZKA INDONESIA – Pernyataan Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia dalam Rapimnas I di Jakarta, Sabtu (20/12/25) kemarin bahwa Golkar akan setia mendukung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming mendapat sorotan. Menurut Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul Jakarta M Jamiluddin Ritonga, pernyataan Bahlil tersebut dapat menimbulkan polemik.
“Dukungan Golkar itu tentu sangat politis. Sebab, pasangan Prabowo–Gibran sebenarnya relatif pincang. Prabowo tampak begitu mumpuni dan kapasitasnya sudah tak perlu diragukan lagi,” ungkap Jamil kepada RUZKA INDONESIA, Ahad (21/12/2025) petang.
Sementara Gibran belum terlihat kapasitasnya meskipun sudah menjabat wakil presiden lebih dari satu tahun. Gibran terkesan tak cukup mumpuni dalam mendampingi Prabowo.
“Atas dasar itu, dukungan Golkar terhadap Prabowo–Gibran kiranya logis bila sebatas hingga akhir masa jabatan pada tahun 2029. Dukungan ini hanya sebagai bentuk loyalitas dan tanggung jawab sebagai partai pengusung pasangan Prabowo-Gibran,” papar Jamil..
Namun Jamil melihat bila dukungan itu untuk mengusung kembali Prabowo-Gibran pada Pilpres 2025, kiranya aneh. “Sebab, Gibran hingga saat ini belum tampak nyata kontribusinya sebagai wapres, terutama dalam mengimbangi kepemimpinan Prabowo. Jadi, kalau dukungan itu hanya pada Prabowo, kiranya masih logis. Prabowo memang sudah menunjukkan kepemimpinannya baik nasional maupun internasional. Karena itu, dukungan Golkar terhadap Prabowo-Gibran tampaknya upaya untuk mengakomodir kepentingan Jokowi. Kemungkinan itu besar terjadi karena faktor Bahlil, yang merupakan loyalis Jokowi,” jelas Jamil yang juga mantan Dekan Fikom IISIP Jakarta ini.
Dukungan Partai Golkar itu, lanjut Jamil, bisa jadi upaya Bahlil mengikat Prabowo agar tetap bersama Gibran. Dengan tetap diikat sejak awal, Prabowo diharapkan tidak punya pilihan lain selain memilih Gibran menjadi cawapres pada Pilpres 2029. Namun Jamil melihat dukungan Golkar itu menjadi aneh. Sebagai partai besar, Golkar justru mengabaikan kader untuk maju pada Pilpres 2029.
“Padahal, banyak kader Golkar yang mumpuni. Bahkan kalau mau jujur, SDM Golkar termasuk yang terbaik di antara SDM partai lainnya,” sebut Jamil.
Terasa aneh bila Golkar lebih memilih kader lain untuk didukung. Padahal, hakekat partai selalu mendahulukan kadernya untuk dimajukan menjadi presiden atau wakil presiden. Hal itu tidak terlihat pada Golkar yang sejak berdiri sudah menjadi partai besar.
“Internal Golkar kiranya layak menilai kembali dukungan tersebut. Setidaknya Golkar dapat memberi dukungan yang lebih rasional dengan tidak mengorbankan kadernya yang potensial untuk menjadi pemimpin. Golkar selayaknya kembali ke jati dirinya. Sebagai partai, Golkar harus mengedepankan kadernya untuk menjadi pemimpin nasional. Kalau tidak, berarti Golkar sudah gagal dalam kaderisasi,” tandas Jamil. (***)
Editor: Ao S Dwiyantho Putra


Komentar