RUZKA INDONESIA — Suasana hangat dan penuh semangat menyelimuti Aula Masjid Al Muqorrobin, Depok Utara-Beji, Kota Depok pada Rabu (15/04/2026). Sekitar tiga puluh lima ibu-ibu lanjut usia (lansia) berkumpul untuk meresmikan pembukaan kembali kegiatan rutin Majelis Taklim Al-Muqorrobin, Depok Utara.
Meski rata-rata jamaah telah berusia di atas 60 tahunโbahkan ada yang mencapai usia 80 tahunโpancaran energi dan antusiasme mereka dalam menuntut ilmu tetap terlihat kuat.
Sesuai dengan definisi World Health Organization (WHO), lansia merupakan mereka yang berada pada rentang usia di atas 60 tahun. Dalam kategori WHO kelompok lansia terbagi ke dalam tiga kelompok. Kelompok usia pertengahan atau middle age (45-59 tahun), lansia (60-74 tahun), lanjut usia tua atau elderly (75-90 tahun), dan sangat tua atau old (di atas 90 tahun).
Dari peserta termuda Majelis Taklim termuda, yaitu 35 tahun, dan yang tertua 80 tahun, belum ada yang termasuk dalam kategori sangat tua atau old menurut WHO tersebut.
Memang demikianlah yang nampak. Dalam majelis taklim ini para ibu hadir dalam busana dan dandanan yang menunjukkan semangat berkumpul dan menuntut ilmu.
Menjaga Konsistensi Pasca-Ramadhan
Hadir sebagai penceramah utama, Ustadzah Ade Solihat, yang juga merupakan dosen Program Studi Arab Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI).
Dalam tausiyah bertajuk “Menjaga Cahaya Ramadhan di Bulan Syawal”, beliau menekankan pentingnya istiqomah (konsistensi) dan istimrar (keberlanjutan).
Secara etimologi, kata ‘Syawal’ berasal dari kata Syala ุดูุงูู yang berarti ‘meningkat’. Ini berarti Syawal adalah momentum bagi kita untuk meningkatkan kualitas ibadah, setelah mengalami penggemblengan sepanjang Ramadhan. Bukan justru menurun setelah Ramadhan usai,” ujar Ustadzah Ade di hadapan para jamaah.
Ustadzah Ade mengajak para ibu-ibu untuk membawa “Cahaya Ramadhan” ke bulan-bulan berikutnya dengan meneruskan amalan-amalan yang telah dibiasakan sepanjang Ramadhan.
(1) Shalat Malam: Menjaga kebiasaan bangun malam yang telah terbentuk.
(2) Interaksi dengan Al-Quran: Melanjutkan tadarus dan memakmurkan masjid.
(3) Kedermawanan: Tetap rutin bersedekah meski tidak lagi berada di bulan dengan kelipatan pahala khusus.
(4) Ketahanan Sosial: Menjaga silaturahim dengan tetap menjaga lisan dan kesucian hati, karena telah terbiasa dengan ahlak demikian di sepanjang menjalankan puasa.
(5) Puasa Syawal: Menjalankan puasa sunnah Syawal sebanyak enam hari yang pahalanya setara dengan berpuasa setahun penuh; dan juga amalan puasa sunnah lainnya pada bulan-bulan berikutnya.
Ruang Pengabdian dan Penguatan Kepribadian
Menjadi pemberi tausiyah pada kegiatan Majelis Taklim Ibu-Ibu Al-Muqorrobin bukan sekadar pengajian biasa. Menurut Ustadzah Ade Solihat, aktivitas ini merupakan bentuk nyata pengabdian masyarakat sekaligus perhatian khusus terhadap kelompok lansia.
“Lansia membutuhkan ruang penguatan kepribadian untuk menghadapi tantangan di usia senja. Dengan berkumpul dan mengaji, mereka mendapatkan dukungan moral dan spiritual yang menjaga mereka tetap berdaya,” ungkapnya.
Ustadzah Ade juga memberikan motivasi kepada ibu-ibu Majelis Taklim Al-Muqorrobin untuk terus menerus meramaikan kajian-kajian diberbagai kesempatan.
Menurutnya, ruang-ruang sosial seperti majelis taklim merupakan instrumen krusial dalam membangun ketahanan lansia, baik secara mental, spiritual, maupun sosial.
Bukan sekedar tempat berkumpul, keberadaan majelis taklim bagi lansia, secara psikologis dan sosiologi, merupakan sebuah ekosistem pendukung yang komprehensif, yang memiliki tiga dimensi.
- Dimensi Ketahanan Mental (Kognitif & Emosional)
Kegiatan mendengarkan tausiyah dan mempelajari materi baru merupakan stimulasi kognitif yang sangat penting untuk mencegah penurunan fungsi memori (demensia). Proses belajar ini menjaga sel-sel otak tetap aktif. Selain itu, rasa memiliki (sense of belonging) terhadap sebuah kelompok memberikan ketenangan emosional, sehingga lansia tidak merasa terasing atau menjadi beban, melainkan tetap merasa sebagai subjek yang berdaya. - Dimensi Ketahanan Spiritual (Transendensi)
Pada fase usia old dan very old (75โ90 tahun ke atas), fokus manusia cenderung bergeser pada persiapan spiritual. Majelis Taklim memfasilitasi kebutuhan ini dengan memberikan pemahaman agama yang menyejukkan. Sebagaimana pernah disampaikan oleh Prof. Dr. Zakiah Daradjat, penguatan agama di usia senja adalah terapi terbaik untuk menghadapi kecemasan eksistensial, mengubah rasa takut menjadi kepasrahan yang damai (husnuzan kepada Allah). - Dimensi Ketahanan Sosial (Modal Sosial)
Kesepian (loneliness) adalah musuh utama kesehatan lansia. Majelis Taklim memutus rantai isolasi tersebut melalui interaksi rutin. Di sini, tercipta jaring pengaman sosial informal. Sesama jamaah akan saling bertanya jika ada yang tidak hadir, saling mendoakan saat sakit, dan berbagi kebahagiaan. Interaksi ini menurunkan risiko depresi dan meningkatkan harapan hidup secara signifikan.
Penutup
Acara yang dipandu oleh pengurus Majelis Taklim di bawah pimpinan Ibu Risqi Milansari ini ditutup dengan doa bersama agar hati senantiasa ditetapkan dalam iman yang kuat.
Sebagai penutup yang manis, para jamaah saling bersalam-salaman dan menikmati hidangan yang telah disiapkan, mempererat tali persaudaraan antarwarga.
Dengan acara pembukaan Majelis Taklim Al Muqorrobin ini, selanjutnya kajian-kajian akan kembali dilaksanakan setiap Rabu sore.
Majelis Taklim Al-Muqorrobin yang diikuti ibu-ibu lansia dengan peserta termuda berusia 35 tahun ini menunjukkan bahwa semangat belajar tidak mengenal batas usia.
Keterlibatan aktif para lansia ini sejalan dengan program Kota Ramah Lansia di Depok, di mana Majelis Taklim berfungsi sebagai ‘laboratorium sosial’ untuk menjaga kesehatan mental dan spiritual mereka agar tetap produktif dan bermartabat di masa tua.” (***)
Jurnalis/Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com


Komentar