RUZKA INDONESIA — Pernah terbayang tidak, ada orang yang sudah “selesai” dengan urusan dunia tapi malah bikin kesimpulan yang sangat membumi? Itulah Ibnu Hazm.
Beliau bukan sekadar ulama yang duduk di menara gading. Beliau ini anak menteri, hartanya melimpah, posisinya di puncak strata sosial, dan otaknya jenius.
Singkatnya, kalau beliau hidup sekarang, mungkin beliau adalah sosok high-achiever yang punya segalanya: portofolio investasi yang sehat, relasi pejabat, sampai popularitas yang tak habis-habis.
Tapi di tengah semua kemewahan itu, Ibnu Hazm justru berhenti sejenak dan bertanya: “Sebenarnya, apa sih yang dicari semua manusia?”
Setelah merenung panjang, beliau menemukan satu rumus tunggal: Semua manusia, dari raja sampai rakyat jelata, cuma ingin mengusir kesedihan dan mencari ketenangan. Titik. Tidak ada yang lain.
Jebakan “Salah Alamat”
Masalahnya, kita ini sering kali “salah alamat” saat mencari rasa tenang itu. Kita sering merasa dunia kiamat hanya karena hal-hal yang sifatnya titipan:
Kita stres luar biasa kalau proyek bisnis atau tender gagal, seolah-olah harga diri kita cuma sebatas angka di kontrak.
Kita galau berhari-hari cuma karena notifikasi WhatsApp tetap centang dua abu-abu tanpa balasan dari seseorang.
Kita merasa tidak berdaya saat fisik mulai tidak bugar atau kesehatan menurun.
Padahal, Ibnu Hazm mengingatkan bahwa menggantungkan kebahagiaan pada hal-hal yang bisa hilang dalam sekejap adalah cara paling efektif untuk menyiksa diri sendiri.
Segala sesuatu selain Allah itu fanaโpasti rusak, pasti hilang. Kalau pondasi bahagia kita ada di sana, ya siap-siap saja hancur saat hal itu diambil.
Mengubah “Galau” Menjadi Candu Positif
Di sinilah letak revolusi pemikirannya. Beliau menyarankan kita untuk melakukan shifting atau pergeseran “candu”.
Coba perhatikan betapa gelisahnya kita kalau HP tertinggal di rumah. Ada rasa “sakau” informasi dan koneksi, kan?
Nah, rumus Ibnu Hazm adalah: Jadikan amal shaleh sebagai kebutuhan yang sama daruratnya.
Bayangkan kalau kita membangun standar baru dalam hidup:
Kalau sehari tidak tilawah, hati terasa sesak, lebih sesak daripada tidak dibalas pacar.
Kalau melewatkan kesempatan sedekah, kita merasa rugi besar, lebih rugi daripada kehilangan peluang cuan di pasar modal.
Kalau shalat tidak di awal waktu, kita merasa “galau” tingkat tinggi karena merasa koneksi dengan “Pusat Ketenangan” sedang terputus.
Dalam Al-Qur’an, Allah sudah memberi bocoran: “Hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Raโd: 28). Ini bukan sekadar teori, tapi petunjuk teknis.
Bahagia yang Tidak Bisa Dicuri
Saat kita menjadikan amal shaleh sebagai “addictive” positif yang dilakukan murni karena Allah, kita sedang membangun benteng kebahagiaan yang tidak bisa dicuri oleh siapapun.
Proyek bisa gagal, orang bisa pergi, kesehatan bisa menurun, tapi rasa tenang karena “sudah melakukan yang terbaik untuk Allah” itu permanen.
Jadi, mulai sekarang, mari kita “salah alamatkan” kegalauan kita. Jangan lagi galau karena urusan manusia yang sifatnya sementara.
Galaulah kalau hubungan kita dengan Sang Pencipta sedang renggang. Karena di situlah, dan hanya di situlah, letak kebahagiaan yang Ibnu Hazm temukan setelah beliau mencicipi semua kenikmatan dunia. (***)
Penulis: Bobby Sumantri/Pemimpin Perusahaan Ruzka Indonesia


Komentar