RUZKA INDONESIA – Enam universitas terkemuka di Bandung bersama Goethe-Institut Bandung menandatangani Nota Kesepahaman dan Nota Kesepakatan (MoU dan MoA) pada Selasa (10/02/2026) sebagai bentuk penguatan kerja sama di bidang pendidikan, kebudayaan, serta dialog internasional. Di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, kolaborasi lintas institusi menjadi kunci dalam membangun masa depan yang berkelanjutan.
Perguruan tinggi yang terlibat adalah Telkom University, Universitas ‘Aisyiyah Bandung, Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), Universitas Padjadjaran (UNPAD), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), dan Universitas Widyatama. Nota Kesepahaman dan Nota Kesepakatan ini ditandatangani di Goethe-Institut Bandung oleh Direktur Goethe-Institut Wilayah Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru Constanze Michel; Dekan Fakultas Industri Kreatif Telkom University Dandi Yunidar; Rektor Universitas ‘Aisyiyah Bandung Sitti Syabariyah; Rektor Universitas Katolik Parahyangan Tri Basuki Joewono; Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran Aquarini Priyatna; Rektor Universitas Pendidikan Indonesia Didi Sukyadi; serta Rektor Universitas Widyatama Dadang Suganda.
Kerja sama ini membuka peluang pengembangan berbagai program bersama, mulai dari kegiatan akademik dan kebudayaan, penguatan pembelajaran bahasa Jerman, hingga proyek kolaboratif seperti penerjemahan karya sastra anak dan remaja dari bahasa Jerman ke dalam bahasa Indonesia yang melibatkan dosen dan mahasiswa dari UNPAD. Sementara Goethe-Institut Bandung bersama Universitas ‘Aisyiyah, Telkom University, UPI, UNPAR, serta Universitas Widyatama akan mengeksplorasi kerja sama produksi film, khususnya serial – mulai dari pengembangan cerita hingga distribusi.
Direktur Goethe-Institut Wilayah Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru Constanze Michel menyampaikan, di Goethe-Institut, pihaknya memandang bahasa, budaya, dan pendidikan sebagai sarana untuk menghubungkan orang-orang lintas disiplin dan lintas batas negara. “Melalui kerja sama erat dengan universitas-universitas di Bandung, kami menciptakan ruang di mana mahasiswa, akademisi, serta seniman dapat saling belajar, mengembangkan perspektif baru, hingga membangun jejaring internasional yang berkelanjutan. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa pertukaran budaya saat ini bukan lagi bersifat satu arah, melainkan saling memperkaya—bagi Indonesia, bagi Jerman, dan bagi masa depan global bersama,” ungkapnya.
Sementara Rektor UNPAR Tri Basuki menyatakan, berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan, pihaknya secara aktif membangun kolaborasi strategis untuk menciptakan dampak sosial yang bermakna. “Bersama Goethe-Institut sebagai mitra strategis, kami yakin dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi kepentingan bersama,” jelasnya.
Sedangkan Rektor Universitas ‘Aisyiyah Bandung Siti Syabariah menyambut baik terjalinnya kerja sama strategis dengan Goethe-Institut sebagai bagian dari komitmen bersama dalam memperkuat kualitas pendidikan, pengembangan penelitian, serta perluasan jejaring internasional. “Kolaborasi ini diharapkan menjadi landasan yang kokoh dalam mendorong inovasi dan kontribusi nyata di tingkat nasional maupun global,” jelasnya.
Menurut Dekan Fakultas Ilmu Budaya UNPAD Aquarini Priyatna mengatakan, melalui
kolaborasi ini, UNPAD memperkuat perannya dalam pertukaran budaya melalui pendidikan, penerjemahan, dan seni, serta mendorong peningkatan rekognisi internasional universitas dalam jejaring kerjasama global di bidang akademik dan pemajuan budaya.
Sedangkan Ketua Program Studi Produksi Film dan Televisi Universitas Widyatama Kenmada
Widjajanto menyatakan bahwa pihaknya menyambut baik kerja sama dengan GoetheInstitut sebagai langkah strategis dalam penguatan pendidikan berbasis kolaborasi internasional. “Melalui partisipasi mahasiswa dalam program Aniwayang x GoetheInstitut, mahasiswa memperoleh pengalaman pembelajaran praktik yang kolaboratif dan lintas budaya bersama mentor dari Indonesia dan Jerman, khususnya dalam bidang animasi dan pengembangan cerita. Kerja sama ini sejalan dengan komitmen Program Studi Produksi Film dan Televisi Universitas Widyatama untuk menciptakan ruang pembelajaran yang relevan, terbuka, dan adaptif terhadap perkembangan industri kreatif serta dinamika global,” paparnya.
Senada, Dekan Fakultas Industri Kreatif Telkom University Dandi Yunidar mengatakan, kolaborasi strategis dengan Goethe-Institut dalam tema ‘Culture in the Age of Uncertainty’, FIK Telkom University melalui Program Studi Film dan Animasi, berkomitmen memperkuat resiliensi kreatif dosen dan mahasiswa melalui pertukaran pengetahuan internasional, ko-produksi karya audio-visual, dan partisipasi aktif dalam platform festival global seperti Goethe Kino dan Kinofest untuk kemajuan bersama, khususnya di bidang pendidikan.
Dalam acara bertajuk “Growing Cultural Futures Together: MoU Signing and Panel Discussion” ini tidak hanya menjadi seremoni penandatanganan, tetapi juga ruang refleksi dan diskusi. Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi panel bertema “Culture in an Age of Uncertainty: The Role of Universities, Cultural Institutions and International Cooperation Today”, yang menyoroti peran strategis universitas dan lembaga kebudayaan dalam merespons tantangan global melalui kerja sama internasional.
Melalui kemitraan ini, Goethe-Institut Bandung menegaskan komitmennya untuk menjadi mitra aktif bagi perguruan tinggi di Indonesia, khususnya di Bandung, dalam mendorong dialog budaya, memperkuat jejaring internasional, serta menciptakan ruang kolaborasi yang relevan bagi generasi muda. (***/Nad)
Editor: Ao S Dwiyantho Putra
Email: aodwiyantho@gmail.com


Komentar