Kolom
Beranda » Berita » Haram dan Tercela Mendukung Kezaliman Amerika

Haram dan Tercela Mendukung Kezaliman Amerika

Buletin Kaffah Edisi 431 (18 Sya’ban 1447 H/6 Februari 2026 M)
Buletin Kaffah Edisi 431 (18 Sya’ban 1447 H/6 Februari 2026 M)

RUZKA INDONESIA – Amerika Serikat (AS) secara konsisten membangun citra dirinya sebagai penjaga utama demokrasi, hak asasi manusia (HAM) dan tatanan internasional. Narasi ini diproduksi dan direproduksi melalui diplomasi, media global, serta berbagai institusi internasional yang berada di bawah pengaruhnya.

Padahal di balik klaim normatif tersebut, praktik geopolitik AS justru menunjukkan kontradiksi. AS melakukan banyak intervensi militer, operasi intelijen, sanksi ekonomi sepihak hingga rekayasa pergantian rezim di berbagai negara. Semua ini menyingkap wajah busuk AS yang lebih berorientasi pada kepentingan hegemonik ketimbang perlindungan nilai-nilai universal.

Demokrasi dan HAM kerap direduksi menjadi instrumen legitimasi untuk membenarkan agresi AS atas negara lain. Tak peduli jika untuk itu AS mengorbankan ratusan ribu rakyat sipil. Keadaan ini mencerminkan apa yang oleh banyak pengamat disebut sebagai imperial arrogance, yakni kecongkakan kekuasaan yang lahir dari posisi dominan AS dalam sistem internasional pasca-Perang Dunia II.

AS: Negara Agresor dan Jahat

Krisis yang melanda Iran saat ini, misalnya, bukan sekadar persoalan ekonomi domestik, melainkan cerminan tatanan global yang dikuasai penguasa jahat seperti AS. AS memaksa dunia mengikuti kepentingannya. Dengan kekuatan militer, ekonomi dan politik yang luar biasa, AS menempatkan dirinya seolah berada di atas hukum internasional.

Catatan Cak AT: Tangan Nangis, Mama

Sikap ini tidak hanya melanggengkan standar ganda dalam penegakan hukum dan HAM, tetapi juga menjadikan AS sebagai aktor utama penyebab instabilitas dunia kontemporer. Alih-alih menciptakan perdamaian dan keamanan global, dominasi sepihak AS tersebut justru melahirkan konflik berkepanjangan, kehancuran negara-negara lemah, serta krisis kemanusiaan yang dampaknya dirasakan lintas generasi.

Rangkaian konflik bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat di berbagai belahan dunia memperlihatkan pola kekerasan militer yang berorientasi pada kepentingan hegemonik, bukan pada misi kemanusiaan sebagaimana kerap diklaim. Perang AS di Vietnam, misalnya, yang berlangsung selama lebih dari satu dekade, tidak hanya menelan jutaan korban sipil, tetapi juga meninggalkan luka ekologis dan kesehatan jangka panjang akibat penggunaan senjata kimia, seperti Agent Orange. Dampaknya masih dirasakan hingga hari ini dalam bentuk cacat lahir dan kerusakan lingkungan permanen.

Pola serupa berulang di Irak, Afganistan, dan Libya. Serangan AS ke Irak pada 2003 didasarkan pada klaim senjata pemusnah massal (WMD) yang kemudian terbukti tidak pernah ada. Irak pun hancur-lebur. Jutaan rakyat sipil menjadi korban. Akan tetapi, AS tak merasa bersalah sedikit pun. Juga tak ada sanksi internasional atas kejahatannya.

Di Afganistan, pendudukan AS selama hampir dua puluh tahun gagal menciptakan stabilitas politik maupun kesejahteraan sosial. AS justru meninggalkan trauma kolektif dan kehancuran sistemik. Intervensi NATO-AS di Libya juga meruntuhkan negara tersebut dan memicu kekacauan berkepanjangan. Ini belum termasuk puluhan intervensi AS atas sejumlah negara lainnya. Yang paling mutakhir adalah kasus penculikan pemimpin Venezuela oleh AS secara semena-mena.

Keseluruhan kasus ini menegaskan bahwa invasi dan intervensi AS berfungsi sebagai alat dominasi global, bukan sebagai sarana penegakan kemanusiaan dan perdamaian. Dalam kerangka politik luar negeri AS ini, wilayah, rakyat dan hak politik negara lain direduksi menjadi komoditas yang dapat dipertukarkan demi kepentingan geopolitik dan keamanan nasional AS. Praktik semacam ini menunjukkan pengabaian terhadap prinsip kedaulatan dan kesetaraan antarnegara yang menjadi fondasi hukum internasional. Kebijakan AS ini sekaligus menegaskan bahwa ekspansi teritorial tidak selalu dilakukan melalui pendudukan militer terbuka, tetapi juga melalui logika pasar dan tekanan politik yang sama-sama mengandung unsur kezaliman struktural.

Catatan Cak AT: Liciknya Netanyahu

Kezaliman Haram

Dalam perspektif Islam, kezaliman (zhulm) mencakup segala bentuk penyimpangan dari kebenaran dan keadilan yang telah Allah tetapkan. Kezaliman tidak terbatas pada tindakan kekerasan fisik semata, tetapi mencakup pelanggaran terhadap hak Allah SWT, hak manusia dan tatanan keadilan secara menyeluruh.

Pelanggaran terhadap hak Allah SWT terwujud dalam bentuk pengingkaran terhadap hukum-hukum-Nya dalam mengatur kehidupan. Allah SWT telah menegaskan:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Siapa saja yang tidak memutuskan perkara menurut wahyu yang telah Allah turunkan, mereka itulah para pelaku kezaliman (TQS al-Maidah [5]: 45).

Zakat dan Kesehatan, Baznas Depok: Orang Miskin Mudah dan Boleh Berobat

Pelanggaran terhadap hak manusia mencakup penindasan, perampasan hak hidup, kebebasan dan martabat; baik yang dilakukan oleh individu maupun oleh negara dan kekuatan politik. Adapun perusakan tatanan keadilan terjadi ketika kekuasaan digunakan secara sewenang-wenang sehingga hukum tidak lagi berfungsi sebagai pelindung, melainkan sebagai alat legitimasi kezaliman. Al-Quran secara tegas mengecam dan melarang segala bentuk kezaliman ini, baik dalam skala personal maupun struktural dan negara. Allah SWT berfirman:

وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِّلْعِبَادِ

Allah tidak menghendaki kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya (TQS Ghafir [40]: 31).

Allah SWT juga berfirman:

وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِّلْعَالَمِينَ

Allah tidak menghendaki kezaliman bagi seluruh alam (TQS Ali ‘Imran [3]: 108).

Bahkan sekadar cenderung kepada—apalagi mendukung—pelaku kezaliman telah diancam oleh Allah dengan ancaman yang keras:

وَلَا تَرۡكَنُوٓاْ إِلَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ فَتَمَسَّكُمُ ٱلنَّارُ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِنۡ أَوۡلِيَآءَ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ

Janganlah kalian cenderung kepada para pelaku kezaliman yang menyebabkan kalian disentuh oleh api neraka. Sekali-kali kalian tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, kemudian kalian tidak akan ditolong (TQS Hud [11]: 113).

Karena itu jelas haram mendukung atau membenarkan kezaliman AS. Termasuk kezaliman AS yang acapkali dibungkus dengan istilah “perdamaian”, seperti Board of Peace (BoP), dengan dalih demi masa depan Gaza. Sebabnya, jejak politik dan sejarah AS jelas-jelas penuh dengan aneka kejahatan internasional. Karena itu aneh saja jika masih ada para pihak—apalagi penguasa Muslim, kalangan intelektual, ulama atau ormas Islam—yang “berprasangka baik” terhadap gembong penjahat kafir internasional yang culas seperti AS. Seolah-olah AS kali ini—dengan BoP—nya bakal berpihak kepada Palestina. Padahal sudah sangat terang-benderang AS-lah pendukung utama Zionis Yahudi selama puluhan tahun. AS pula penyokong utama persenjataan Zionis Yahudi untuk melakukan genosida atas Palestina.

Padahal juga sudah sangat jelas, kezaliman adalah kejahatan yang sangat Allah benci:

وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ

Allah tidak menyukai para pelaku kezaliman (TQS Ali Imran [3]: 57).

Kezaliman AS Wajib Dilawan!

Khilafah adalah solusi ideologis dan sistemik untuk menghadapi dan melawan kezaliman global AS. Sebabnya, Khilafah—sebagai institusi pemerintahan Islam global—tidak akan berhenti pada kecaman moral. Khilafah menawarkan kerangka institusional kekuasaan yang nyata. Inti dari solusi ini terletak pada penyatuan umat Islam sedunia yang selama ini terpecah dalam negara-negara bangsa yang lemah dan saling terpisah.

Penyatuan kekuatan politik, ekonomi dan militer negeri-negeri Muslim di bawah satu kepemimpinan pemerintahan Islam global akan melahirkan deterrence power (daya gentar) global yang mampu mencegah agresi, intervensi dan pemaksaan kehendak oleh kekuatan hegemonik seperti AS. Dengan persatuan di bawah Khilafah, umat Islam tidak lagi berada pada posisi defensif dan reaktif, melainkan memiliki kapasitas strategis untuk bertindak sebagai subjek aktif dalam politik global.

Allah SWT dengan tegas memerintahkan kepada kaum Muslim untuk bersatu:

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ

Berpeganglah teguhlah kalian semuanya pada tali (agama) Allah dan jangan bercerai-berai (TQS Ali Imran [3]: 103).

Berdasarkan ayat ini, jelas kaum Muslim lebih layak bersatu di bawah kepemimpinan Khilafah daripada bersatu di bawah penjahat kafir internasional AS dalam Board of Peace. Apalagi Khilafah menawarkan paradigma kebijakan luar negeri yang secara prinsipiil berbeda dengan politik imperialis AS. Kebijakan luar negeri Khilafah tidak dibangun atas dasar kepentingan korporasi, eksploitasi sumber daya, atau dominasi geopolitik; melainkan berlandaskan keadilan, perlindungan terhadap yang lemah dan ketundukan pada aturan-aturan Allah yang kelak akan dipertanggungjawabkan. Hal ini sejalan dengan fungsi Kekhilafahan sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw.:

إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

Sesungguhnya Imam (Khalifah) itu adalah perisai; manusia berperang di belakangnya dan berlindung dengan dirinya (HR al-Bukhari Muslim).

Dalam Khilafah, kaum tertindas, termasuk rakyat Palestina, tidak diperlakukan sebagai isu diplomatik semata, tetapi sebagai amanah yang wajib dibela secara politik, hukum dan bahkan militer (jihad). Khilafah berfungsi bukan hanya sebagai simbol persatuan umat, tetapi sebagai instrumen nyata untuk menghentikan kezaliman, menantang hegemoni zalim dan menegakkan keadilan dalam tatanan dunia yang selama ini dikuasai oleh kekuasaan jahat AS.

Penutup

Dengan demikian kecongkakan dan kezaliman yang dilakukan Amerika Serikat tidak dapat dipahami sebagai rangkaian kesalahan kebijakan yang bersifat insidental atau temporer. Ia adalah perwujudan dari sistem Kapitalisme global yang dibangun di atas dominasi kekuatan dan kepentingan hegemonik. Selama tatanan internasional masih dikendalikan oleh Kapitalisme global dan AS sebagai gembongnya, maka selamanya keadilan global akan tetap menjadi retorika kosong.

Oleh karena itu, sesungguhnya tidak ada pilihan lain bagi umat Islam sedunia selain memperjuangkan tegaknya kembali Khilafah—sebagai satu-satunya institusi pemerintahan Islam global—yang bukan hanya akan menghentikan kecongkakan dan kezaliman AS, namun juga akan menebarkan rahmat bagi alam semesta.

WalLâhu a’lam bi shawâb. []

—*—

Hikmah:

Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya kesalahan itu hanya ada pada orang-orang yang menzalimi manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa alasan yang benar. Mereka itulah yang mendapatkan azab yang sangat pedih. (TQS asy-Syura [42]: 42).

—*—

0402 Update Palestina
Jangan Lupakan Palestina

BOARD OF PEACE Ditandatangani Pembunuhan Terus Berlanjut

Kementerian Kesehatan Palestina
Laporan Statistik Harian Jumlah Syuhada dan Korban Luka Akibat Agresi Israel terhadap Jalur Gaza

Total yang tiba di rumah sakit di Jalur Gaza 24 jam terakhir:
Tiga orang syahid dan 15 orang luka-luka.
Sejumlah korban masih berada di bawah reruntuhan dan di jalan-jalan, karena tim ambulans dan pertahanan sipil belum mampu menjangkau mereka hingga saat ini.

Sejak diberlakukannya gencatan senjata (11 Oktober):

  • Total jumlah syuhada: 529 orang
  • Total jumlah korban luka: 1.462 orang
  • Total kasus evakuasi/penarikan jenazah: 717 kasus

Statistik kumulatif sejak awal agresi pada 7 Oktober 2023:

  • Jumlah kumulatif syuhada: 71.803 orang
  • Jumlah kumulatif korban luka: 171.570 orang

Sumber: Kementerian Kesehatan Palestina

Bergabung dan Mendukung Board of Peace = Mitra Penjajahan Amerika dan Yahudi

إنّ المجرم ليس هو الذي يقوم بالجريمة فقط، بل إنّ كل من يشاركه جريمته هو مجرم مثله، وكل قادر على منعه من ارتكاب جريمته ولا يفعل فهو مجرم مثله، ومن يسكت عنه فهو مجرم أيضاً، لذلك فإننا نؤكد أن جميع الدول المشاركة في توقيع هذا الميثاق التأسيسي، والدول التي ستوقع لاحقاً، أنها شريكة في جريمة استعمار أمريكا لغزة.

Pelaku kejahatan bukan hanya orang yang melakukan kejahatan itu sendiri.
Setiap orang yang ikut serta dalam kejahatan tersebut adalah penjahat seperti pelakunya.
Setiap orang yang mampu mencegah kejahatan itu tetapi tidak melakukannya juga penjahat.
Dan siapa pun yang diam terhadapnya juga penjahat.
Oleh karena itu, kami menegaskan bahwa semua negara yang ikut menandatangani piagam pendirian ini, serta negara-negara yang akan menandatangani di kemudian hari, adalah mitra dalam kejahatan penjajahan Amerika atas Gaza.

وَسَيَعْلَمُ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓا۟ أَىَّ مُنقَلَبٍ يَنقَلِبُونَ

Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali. QS asy Syu’ara-ayat : 227

Sumber: https://www.alraiah.net/index.php/news-tours/item/10114-warning-to-participants-in-the-council-on-the-colonization-of-gaza
(***)

Editor: Ao S Dwiyantho Putra
Email: aodwiyantho@gmail.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Berlaku Nasional, Polres Garut Imbau Masyarakat Manfaatkan Layanan Gratis Contact Center 110

05

Suzuki Carry Minivan 2026, Irit dengan Kegagahan dan Kenyamanan

06

Depok akan Bangun Pabrik Pengelolaan Sampah RDF di TPA Cipayung

07

Warga Dukung Pembangunan Jogging Track Diatas Air Situ 7 Muara Depok, Benarkah Itu?

Sorotan






Kolom