RUZKA INDONESIA — Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menegaskan sikap kerasnya menentang berbagai langkah Israel yang dinilai melemahkan peluang terwujudnya solusi dua negara antara Palestina dan Israel. Sikap itu disampaikan Guterres dalam konferensi pers awal tahun terakhir masa jabatannya di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat, Kamis (29/1/2026).
Dalam pernyataannya, Guterres menekankan bahwa dirinya tidak berada pada posisi optimistis maupun pesimistis, melainkan memiliki tekad kuat untuk terus memperjuangkan solusi dua negara. Ia mengutip pandangan negarawan Prancis Jean Monnet untuk menggambarkan sikap tersebut.
“Saya tidak optimistis, saya juga tidak pesimistis, saya bertekad,” ujar Guterres.
Guterres secara tegas menolak berbagai kebijakan Israel yang dinilai merusak prospek perdamaian, terutama pembangunan permukiman di Tepi Barat, pembongkaran rumah warga Palestina, pengusiran penduduk, serta meningkatnya kekerasan yang dilakukan pemukim. Menurutnya, praktik-praktik tersebut harus segera dihentikan karena bertentangan dengan upaya menciptakan perdamaian yang adil dan berkelanjutan.
Terkait situasi di Jalur Gaza, Guterres menyoroti pentingnya penerapan penuh gencatan senjata serta perlunya kerangka pemerintahan baru di wilayah tersebut. Ia menyebut Gaza harus secara bertahap terhubung dengan Otoritas Palestina dan bersama Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, menjadi bagian dari negara Palestina di masa depan.
Data pihak Palestina mencatat, sejak Oktober 2023, sedikitnya 1.109 warga Palestina tewas di wilayah pendudukan Tepi Barat dan Yerusalem Timur akibat tindakan pasukan Israel dan pemukim ilegal. Selain itu, hampir 11.000 orang terluka dan sekitar 21.000 lainnya ditahan.
Guterres juga menyinggung putusan Mahkamah Internasional pada Juli 2024 yang menyatakan pendudukan Israel atas wilayah Palestina sebagai tindakan ilegal dan menyerukan evakuasi seluruh permukiman Israel di Tepi Barat dan Yerusalem Timur.
Saat ditanya siapa pihak yang seharusnya memberi tekanan kepada Israel, Guterres menegaskan bahwa tanggung jawab tersebut berada di tangan seluruh komunitas internasional. Namun ia mengakui, Amerika Serikat memiliki pengaruh paling besar untuk mendorong perubahan kebijakan Israel.
Menutup pernyataannya, Guterres kembali menekankan peran sentral Dewan Keamanan PBB dalam menjaga perdamaian dan keamanan global, sekaligus menegaskan urgensi reformasi lembaga tersebut agar mampu menjalankan mandatnya secara lebih efektif.
(Sumber: Anadolu)
Editor: Endro Yuwanto


Komentar