Nasional
Beranda » Berita » Tiadanya Khilafah, Bencana Terbesar bagi Umat Manusia

Tiadanya Khilafah, Bencana Terbesar bagi Umat Manusia

Dalam pemaparannya, Ustadz Ishak menegaskan bahwa berbagai bencana yang menimpa umat manusia hari ini bersumber dari satu akar yang sama, yaitu penyingkiran hukum Allah dari kehidupan publik dan pemerintahan. (Foto: Dok RUZKA INDONESIA)
Dalam pemaparannya, Ustadz Ishak menegaskan bahwa berbagai bencana yang menimpa umat manusia hari ini bersumber dari satu akar yang sama, yaitu penyingkiran hukum Allah dari kehidupan publik dan pemerintahan. (Foto: Dok RUZKA INDONESIA)

RUZKA INDONESIA – Forum Tokoh dan Ulama Kota Depok menggelar Agenda Spesial Rajab bertempat di Dapur Bunda, Depok, Ahad (18/01/2026). Kegiatan ini mengangkat tema “Tiadanya Khilafah, Bencana Terbesar bagi Umat Manusia”, sebagai upaya menyadarkan umat akan akar kerusakan yang menimpa kehidupan manusia hari ini, khususnya kaum Muslim.

Tema ini diangkat bukan tanpa alasan. Realitas global dan nasional menunjukkan bahwa umat Islam hidup dalam pusaran krisis yang tak kunjung usai: kemiskinan struktural, ketimpangan ekonomi, rusaknya tatanan moral, konflik berkepanjangan, hingga hilangnya rasa aman dan keadilan.

Semua ini bukan sekadar akibat kesalahan individu atau lemahnya moral personal, melainkan buah dari sistem kehidupan yang tidak dibangun di atas hukum Allah SWT.

Akar Bencana: Disingkirkannya Hukum Allah dari Pengelolaan Negara

Dalam pemaparannya, Ustadz Ishak menegaskan bahwa berbagai bencana yang menimpa umat manusia hari ini bersumber dari satu akar yang sama, yaitu penyingkiran hukum Allah dari kehidupan publik dan pemerintahan. Ketika manusia menolak untuk berhukum kepada Allah, maka mereka akan berhukum kepada hawa nafsu, kepentingan, dan kekuatan modal.

Polsek Cibatu Polres Garut Amankan Ratusan Butir Obat Terlarang pada Kasus Laka Lantas

“Sistem sekuler-kapitalistik yang diterapkan hari ini menjadikan negara tidak lagi berfungsi sebagai pengurus dan pelindung rakyat (ra’in), tetapi berubah menjadi pengelola kepentingan elite. Kebijakan ekonomi disusun bukan untuk menjamin kebutuhan dasar rakyat, melainkan untuk menjaga stabilitas keuntungan segelintir pihak. Akibatnya, kekayaan alam dikuasai korporasi, rakyat dibebani pajak dan utang, sementara negara kehilangan kedaulatannya,” papar Ustadz Ishak.

Ustadz Ishak menekankan bahwa kondisi ini bukanlah penyimpangan dari sistem, tetapi justru hasil logis dari sistem tersebut. Selama hukum buatan manusia dijadikan dasar pengelolaan negara, kezaliman akan terus diproduksi secara struktural.

Tidak ada solusi hakiki dalam sistem yang sejak awal menolak hukum Allah. “Islam memiliki sistem politik dan ekonomi yang sempurna, adil, dan menyejahterakan. Namun sistem ini tidak mungkin diterapkan secara tambal sulam. Ia membutuhkan institusi pemerintahan yang menjadikan syariat Islam sebagai sumber hukum satu-satunya, yaitu Khilafah,” tandasnya.

Islam Tidak Parsial: Kritik Atas Diamnya Umat

Dalam materi selanjutnya yang disampaikan oleh Ustadz Farhan Suchail, menyoroti persoalan dari sisi pemahaman dan sikap umat Islam. Ia menegaskan bahwa salah satu bencana terbesar umat hari ini adalah diterimanya pemahaman bahwa Islam cukup di ruang ibadah, sementara urusan hukum, politik, dan pemerintahan diserahkan kepada sistem selain Islam.

Gubernur Jakarta Diminta Tutup Bar Party Station di Hotel Kartika One di LA

Menurutnya, pemahaman parsial terhadap Islam ini telah melumpuhkan kesadaran umat. Ketika hukum Allah tidak lagi dianggap wajib untuk diterapkan dalam kehidupan bernegara, maka umat Islam akan mudah menerima kezaliman selama dibungkus dengan legalitas hukum positif.

Ustadz Farhan menegaskan bahwa tidak diterapkannya hukum Allah adalah bencana akidah sebelum menjadi bencana sosial. Sebab, di saat umat ridha dengan aturan selain Islam, di situlah bahaya terbesar terjadi. Kezaliman tidak lagi dipandang sebagai pelanggaran terhadap hukum Allah, tetapi sekadar persoalan kebijakan yang bisa ditoleransi.

Ia mengingatkan bahwa Islam adalah agama yang kaffah. “Mengimani Islam berarti menerima seluruh hukum Allah, termasuk hukum yang mengatur kekuasaan dan pemerintahan. Karena itu, memperjuangkan diterapkannya syariat Islam secara menyeluruh melalui Khilafah bukan agenda politik praktis, melainkan konsekuensi logis dari keimanan,” ujarnya.

Diamnya umat terhadap kewajiban ini, lanjutnya, hanya akan memperpanjang penderitaan dan menjadikan generasi berikutnya semakin jauh dari Islam sebagai sistem kehidupan.

Rajab: Momentum Mengembalikan Kesadaran Politik Umat

Langkah Strategis dan Fundamental, Program Prioritas Prabowo Revitalisasi 71 Ribu Sekolah

Agenda Spesial Rajab ini menegaskan bahwa bulan Rajab bukan sekadar momentum spiritual, tetapi juga bulan kesadaran politik umat Islam. Sejarah Islam mencatat Rajab sebagai bulan persiapan perubahan besar, termasuk peristiwa-peristiwa penting dalam perjuangan Islam.

Melalui agenda ini, umat diajak untuk kembali memahami bahwa perubahan hakiki tidak akan lahir dari pergantian pemimpin, revisi kebijakan, atau tambal sulam sistem. Selama hukum Allah tidak ditegakkan dan Khilafah belum terwujud, bencana akan terus hadir dalam berbagai bentuk.

Acara Agenda Spesial Rajab ditutup dengan doa bersama agar Allah SWT membangkitkan kesadaran umat, menguatkan keberanian untuk berpihak kepada kebenaran, serta memudahkan jalan perjuangan menuju tegaknya syariat Islam secara kaffah.

Agenda ini menegaskan satu kesimpulan mendasar: “Tiadanya Khilafah bukan sekadar kehilangan institusi politik, melainkan hilangnya pelindung agama dan pengatur kehidupan umat. Dan selama kondisi ini dibiarkan, bencana akan terus menjadi bagian dari kehidupan manusia”. (***)

Editor: Ao S Dwiyantho Putra
Email: aodwiyantho@gmail.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Berlaku Nasional, Polres Garut Imbau Masyarakat Manfaatkan Layanan Gratis Contact Center 110

05

Suzuki Carry Minivan 2026, Irit dengan Kegagahan dan Kenyamanan

06

Depok akan Bangun Pabrik Pengelolaan Sampah RDF di TPA Cipayung

07

Warga Dukung Pembangunan Jogging Track Diatas Air Situ 7 Muara Depok, Benarkah Itu?

Sorotan






Kolom