Gaya Hidup
Beranda » Berita » Orang Tua Harus Tahu Child Grooming Seperti yang Ditulis dalam Buku Broken Strings Aurelie Moeremans

Orang Tua Harus Tahu Child Grooming Seperti yang Ditulis dalam Buku Broken Strings Aurelie Moeremans

Buku memoar Aurelie Moeremans, Broken Strings. (Foto: Dok RUZKA INDONESIA)

RUZKA INDONESIA — Selebritis cantik Aurelie Moeremans menulis buku memoar Broken Strings yang dilincurkan untuk mengingatkan bahayanya child grooming bagi masa depan anak.

Ya, buku yang baru saja diluncurkan dan telah di posting di akun Aurelie Moeremans dengan permohonan dukungan itu menuai pro netizen. Namun ada juga ancaman dari orang yang diduga masa lalu Aurelie

Dalam bukunya, aktris kelahiran 8 Augustus 1993 ini menjadi korban child grooming sejak usia 15 tahun. Aurelie menikah menikah muda di usia 18 tahun.

Buku memoar Broken Strings mengangkat kisah nyata yang dialami Aurelie sejak kecil, pacaran, menikah yang tidak direstui orang tua hingga bercerai.

Aurelie menikah dangan Roby Tremonti dengan terpaut usia 13 tahun pada 2011. Saat usia 20 tahun, Aurelie bercerai pada 2013 karena ada dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Menyambut Tahun Baru Imlek Penuh Keberuntungan dan Momen Kebersamaan di The Ritz-Carlton Bali

Karena buku Broken Strings diklaim berdasarkan kisah nyata, banyak warganet menelusuri daftar nama mantan pacar Aurelie di masa lalu.

Apa Itu Child Grooming?

Para orang tua harus mengatahui apa itu child grooming? Berdasarkan informasi child sexual exploitation and grooming, child grooming itu merupakan manipulasi psikologis bertahap oleh predator untuk membangun kepercayaan anak demi tujuan eksploitasi.

Tidakan manipulasi dilakukan oleh orang dewasa (predator) terhadap anak-anak atau remaja dengan tujuan untuk mendapatkan kepercayaan, membangun hubungan emosional, dan akhirnya melakukan pelecehan seksual.

Praktik ini merupakan serangkaian tindakan terencana dan bertahap yang bertujuan untuk meruntuhkan batasan-batasan pribadi anak dan menciptakan peluang untuk eksploitasi.

HPN 2026 dan HUT ke-23 Basel, PWI Gelar Jelajah Wisata Bangka Selatan

Proses manipulasi psikologis yang dilakukan oleh predator seksual (disebut groomer) untuk membangun hubungan, kepercayaan, dan ikatan emosional dengan anak atau remaja, dengan tujuan akhir melakukan pelecehan atau eksploitasi seksual.

Istilah ini merujuk pada serangkaian tindakan terencana yang dirancang untuk menurunkan pertahanan korban dan orang di sekitarnya, sehingga pelaku dapat menciptakan kesempatan untuk melakukan kejahatan tanpa disadari.

Penting untuk dipahami bahwa child grooming bukanlah tindakan tunggal, melainkan sebuah proses bertahap.

Pelaku akan berusaha membangun hubungan dengan korban, seringkali dengan berpura-pura menjadi teman atau figur yang dapat dipercaya.

Berikut adalah poin-poin penting mengenai child grooming:

Persembahkan “The Beauty of China ke 19”, The Westin Surabaya Gelar Mahakarya Imlek Penuh Pesona

  • Prosesnya bertahap: Ini bukan tindakan instan, melainkan proses yang memakan waktu, di mana pelaku secara perlahan mendekati dan memanipulasi targetnya.
  • Membangun kepercayaan: Pelaku sangat lihai menampilkan sisi baik dirinya dan mengelabui keluarga atau lingkungan korban agar mereka dipercaya, padahal ada niat jahat di baliknya.
  • Manipulasi emosional: Pelaku memanfaatkan kerentanan emosional anak, seperti rasa kesepian, harga diri rendah, atau masalah di rumah, untuk membuat anak merasa nyaman dan istimewa.
  • Modus daring dan luring: Grooming dapat terjadi secara langsung (tatap muka) maupun secara daring melalui media sosial atau game online.
  • Tujuan eksploitasi: Tujuan utama dari seluruh proses ini adalah untuk memanipulasi, mengeksploitasi, atau melecehkan korban secara seksual.

Ciri-Ciri Child Grooming yang Harus Diwaspadai

Berikut adalah beberapa tanda atau ciri-ciri child grooming yang perlu diwaspadai oleh orang tua dan orang dewasa di sekitar anak:

  • Pemberian hadiah atau perhatian berlebihan: Pelaku sering memberikan hadiah mahal atau perhatian yang tidak wajar kepada anak.
  • Komunikasi rahasia: Pelaku berusaha menjalin komunikasi pribadi dan rahasia dengan anak, terpisah dari pengawasan orang tua.
  • Menjelekkan orang tua atau figur otoritas: Pelaku mencoba merusak hubungan anak dengan orang tua atau orang dewasa lain yang berwenang.
  • Menciptakan ketergantungan emosional: Pelaku berusaha membuat anak merasa nyaman dan bergantung pada mereka secara emosional.
  • Sentuhan fisik yang tidak pantas: Pelaku mungkin memulai dengan sentuhan fisik kecil yang kemudian meningkat menjadi pelecehan seksual.

Modus Operandi Pelaku Child Grooming

Pelaku child grooming menggunakan berbagai cara untuk mendekati dan memanipulasi korban. Beberapa modus operandi yang umum meliputi:

  • Berpura-pura menjadi teman: Pelaku mencoba membangun hubungan pertemanan dengan anak, seringkali dengan minat atau hobi yang sama.
  • Menggunakan media sosial: Pelaku menggunakan platform media sosial untuk menghubungi anak dan membangun hubungan daring.
  • Memanfaatkan game online: Pelaku berinteraksi dengan anak melalui game online, di mana mereka dapat menyembunyikan identitas mereka.
  • Menawarkan bantuan atau dukungan: Pelaku menawarkan bantuan atau dukungan kepada anak yang sedang mengalami masalah, sehingga anak merasa berhutang budi. (***)

Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *