RUZKA INDONESIA — Absurditas kehidupan yang diungkapkan oleh filsuf Prancis ternama Albert Camus adalah ketidakpastian antara pikiran manusia dan kenyataan, di mana pencarian makna hidup seringkali berakhir dengan kegagalan.
Hal ini ada kontradiksi antara keinginan manusia untuk memahami kehidupan itu sendiri dan kehidupan di dunia nyata yang terkadang sulit untuk dipahami/absurd.
Berangkat dari narasi di atas, tampaknya ada keterkaitan yang samar antara kehidupan yang dialami sehari-hari dan harapan yang diyakini akan menjadi goal dari sebuah rancangan kehidupan itu sendiri.
Makna kehidupan menjadi sebuah tanda-tanya yang terkadang membutuhkan jawaban, kadang pula tidak dan absurditas kehidupan sebagai manusia, bisa terjadi di mana saja selama nafas masih bersemayam di dalam raga.
Kisah dari kehidupan yang absurd itu juga dialami oleh seorang penulis ratusan novel, cerita pendek (cerpen) dan penggiat literasi dalam hal itu dunia kepenulisan, sosok itu bernama Pipiet Senja.
Perempuan tangguh dari dunia literasi bernama lengkap Etty Hadiwati Arief ini, lahir di Sumedang pada 16 Mei 1956.
Sudah menyukai dunia tulis-menulis sejak remaja. Pipiet Senja adalah nama penanya, ia sejak kecil sudah menderita penyakit Thalasemia genetik, yaitu penyakit kelainan darah karena kurangnya hemoglobin (Hb) normal pada sel darah merah.
Panyakit itu membuatnya kerap mengalami anemia atau kurang darah. Penyakit tersebut juga dapat membuat si penderita mudah mengantuk dan sesak nafas.
Berkaitan dengan penyakit thalassemia yang dideritanya, hal ini tidak membuat seorang Pipiet Senja putus asa dan meratapi keberadaan dirinya sebagai pembawa komorbit penyakit tersebut.
Ia sadar bahwa dia harus melanjutkan hidup dengan berbagai upaya yang berangkat dari kelemahan tubuhnya itu untuk bisa menyalurkan bakat menulisnya sekaligus mendongkrak kehidupan finansialnya dari dunia kata-kata tersebut.
Ketika ia menyadari bahwa menulis kemudian menjadi passionnya, maka Pipiet mulai menggali kemampuannya itu dengan lebih intens dan serius, sebuah kepiawaian di dalam mengembangkan segala obyek dan kehidupan sosial kemasyarakatan di dunia dan segala isinya melalui tulisan yang tak selalu dimiliki oleh banyak orang, ia rangkai hingga menjadi beragam kisah dan tema di novel-novelnya.
Dia mengasahnya dengan berlatih menulis dan rajin membaca beragam kisah mulai dari cerita anak-anak, cerita pendek dewasa, novel dengan berbagai genre.
Memasuki usia remaja Pipiet mulai menghasilkan beragam jenis cerpen yang kemudian ditayangkan di berbagai majalah dan koran. Melalui cerpen-cerpennya yang beruntun dimuat di berbagai media tersebut, ia bisa membantu perekonomian kedua orangtuanya juga pendidikan adik-adiknya.
“Biarlah pendidikan saya tidak tinggi, tapi adik-adik saya bisa bersekolah dengan baik,” katanya selalu.
Lalu seiring berjalannya waktu, novel-novelnya muncul dan terbit susul-menyusul. Pipiet Senja seolah mengejar waktu yang berjalan cepat di hadapan untuk memangkas perjalanan hidupnya.
“Aku harus terus menulis hingga masaku di bumi berakhir,” katanya selalu pada saya.
Seiring berjalannya waktu juga bertambahnya usia, penyakit thalassemianya kian bertambah parah dan mulai mempengaruhi organ-organ lainnya, seperti ginjal, lever, saraf kejepit dan bagian tubuh lainnya.
Dia rutin melakukan pemeriksaan dan bertemu beragam dokter yang menanganinya. Hal itu dilakukan sebulan atau dua Minggu sekali, atau bahkan jika sewaktu-waktu penyakitnya kambuh dan tubuhnya mulai dirasa tidak bisa lagi berkompromi dengan asupan makanan yang masuk, Pipiet Senja harus segera berangkat ke rumah sakit.
Tak jarang ia musti diopname atau menjalani rawat inap. Dan tampaknya rumah sakit menjadi tempat baginya untuk refreshing. Jika ia telah sehat, selanjutnya beragam kegiatan sastra kembali diikutinya.
Keliling Indonesia hingga luar negeri semua dia jelajahi demi memuaskan rasa cintanya pada dunia sastra atau kepenulisan yang sangat ia cintai.
Putus asakah dia dengan memikul komorbit penyakit thalassemia yang ada di tubuhnya sejak dia masih kanak-kanak? Pipie senja berkata, “tidak!
Melalui dunia tulis menulis, menciptakan beragam bentuk tulisan mulai dari pop, sastra, hingga tulisan bernafaskan Islami, itu membuat semangat hidupku tetap membara. Jika aku tidak menulis, mungkin sejak lama aku sudah pergi dari bumi yang fana ini.
Dan ucapannya menjadi kenyataan, anggota Forum Lingkar Pena ini, membuktikan perkataannya tatkala ia harus diopname di rumah sakit di mana ketika tangan kanannya diinfus, tangan kirinya rajin berselancar di atas tuts laptop mininya menuliskan bab per bab novel yang sedang ia garap.
Tak jarang bukan hanya novel, ia juga membuat materi tulisan untuk pelatihan menulis, artikel untuk grup-grup WhattsApp yang ia kelola, mengirim artikel, memberi semangat pada seluruh anggota grup kepenulisan untuk tetap semangat menulis dan membuat program-program baru literasi melalui beragam bentuk tulisan yang berupa antologi.
“Waktuku sudah semakin dekat,” katanya ketika disinggung agar dia beristirahat dan jangan banyak menulis serta berpikir.
“Sebab bagi saya, menulis itu adalah pekerjaan kreatif yang diberikan Tuhan bersama kesanggupan nalar dan intelektual yang pengerjaannya tidak semudah membalikkan telapak tangan dan cukup berat jika kita tidak rajin membaca, tidak menguasai Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dan tidak memiliki kosa kata yang banyak untuk merangkai kata demi kata, kalimat demi kalimat dan alinea hingga paragraph itu berakhir,” ungkapnya.
Bagi seorang Pipiet Senja, melalui tulisan, bisa berbicara banyak dan memberikan masukan yang poisitif serta membangkitkan semangat generasi muda untuk membaca dan menulis. Karena menulis bisa memperluas cakrawala dan menguatkan empati pada kehidupan kemanusiaan yang sesungguhnya.
“Saya merenungkan ucapannya. Dua hari sebelum Pipiet Senja meninggalkan dunia yang fana ini, ia terserang Alzheimer, lupa pada orang sekelilingnya dan lupa pada dirinya sendiri. Seminggu setelah itu ia sudah tidak sadarkan diri,” jelasnya.
Pipiet Senja meninggal dengan tenang, membawa penyakit thalassemia yang menemaninya hingga dia tiada pada Senin 29 September 2025 di Depok.
Perempuan tangguh ini mengakhiri perjalanannya di dunia kata-kata dengan meninggalkan rekam jejak ratusan novel dan beragam tulisan yang menjadi panduan generasi muda untuk tetap mencintai dunia sastra, dunia literasi.
Tiga novel terbarunya diluncurkan pada 10 Januari 2025 di Pusat Dokumentasi sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.
Ketiga novel itu berjudul Cahaya yang Tak Pernah Padam (Tribute to Pipiet Senja), Perempuan Tangguh dan Romansa Dua Benua.
Berkaitan dengan terbitnya novel ini sekaligus memperingati 100 hari kepergian penulis yang rendah hati itu.
Kenangan akan ucapannya bahwa ia ingin selalu menyebarkan ‘virus’ menulis ke siapa saja, menjadi narasi penting bagi generasi berikutnya agar mereka melihat bahwa seorang Pipiet Senja dengan keterbatasan dan kesehatan fisik yang tidak selalu prima, mampu menghasilkan ratusan novel dengan beragam genre.
Dr. Nurul Janah dosen dari Institut Pertanian Bogor (IPB) yang juga penganggum karya-karya Pipiet Senja berkomentar, “Pipiet Senja memang telah pergi dari dunia yang fana ini, meski demikian ia membuktikan kalau ternyata dia tidak benar-benar pergi, dia meninggalkan warisan tak ternilai, warisan komunikasi yang tertuang di ranah kata-kata yang dimulai dari anak hingga induk kalimat dan disusunnya menjadi ratusan novel tentang kehidupan kemanusiaan untuk selalu dibaca dan dikenang.”
Damai bersama Sang Pemilik Semesta perempuan tangguh Pipiet Senja…(***)
Penulis : Fanny J Poyk


Komentar