RUZKA INDONESIA — Bupati Majalengka, Eman Suherman menegaskan komitmennya terhadap keterbukaan dan integritas dalam pelaksanaan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat (Jabar).
Ia bahkan mempersilakan para siswa untuk memotret makanan MBG yang diterima, jika dinilai tidak sesuai dengan porsi maupun nilai anggaran yang telah ditetapkan.
Tak hanya itu, Bupati Eman juga tidak mempermasalahkan jika foto-foto tersebut kemudian diunggah ke media sosial. Menurutnya, langkah tersebut justru menjadi bentuk kontrol publik sekaligus cerminan transparansi dalam pelaksanaan program strategis nasional tersebut.
“Kalau seharusnya nilainya Rp10 ribu tapi dikurangi, anak-anak foto saja, viralkan. Jangan sampai anak-anak kita dikorbankan,” tegas Eman Suherman.
Ia menekankan, program MBG harus kembali pada tujuan utamanya, yakni pemenuhan hak dasar anak-anak untuk mendapatkan asupan gizi yang layak. Karena itu, ia mengingatkan para pengelola dan mitra pelaksana agar tidak berorientasi pada pencarian keuntungan semata.
“Jangan sampai sudah diberi porsi luar biasa, biaya sewa sekian, tapi masih mengejar keuntungan berlebihan. Program ini untuk anak-anak, bukan untuk memperkaya pihak tertentu,” ujarnya.
Lebih lanjut, Eman menyoroti pentingnya integritas, keikhlasan, dan orientasi kemanusiaan dalam pelaksanaan MBG. Ia menilai, ruang keuntungan bagi para pengelola sejatinya sudah tersedia secara wajar, sehingga tidak ada alasan untuk mengurangi porsi maupun kualitas makanan yang disajikan kepada siswa.
“Keuntungannya sudah luar biasa. Fokuslah pada anak-anak. Jangan ada hitung-hitungan yang merugikan mereka. Hak anak-anak jangan dikebiri,” katanya.
Meski begitu, Bupati Eman mengakui bahwa Program MBG hingga kini masih menghadapi sejumlah tantangan dalam pelaksanaannya. Namun ia berharap, ke depan program ini dapat berjalan lebih optimal, terutama pada tahun 2026 mendatang.
“MBG ini mudah-mudahan bisa berjalan dengan baik. Kita juga belum tahu ke depan seperti apa, tapi saya berharap tahun 2026 betul-betul dijalankan dengan penuh tanggung jawab,” tuturnya.
Ia pun mengingatkan agar tidak ada praktik manipulasi, baik dalam hal porsi maupun kualitas makanan. Menurutnya, keberlanjutan dan kualitas Program MBG sangat bergantung pada tanggung jawab para pengelola dapur maupun Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di lapangan.
Di akhir pernyataannya, Eman menekankan bahwa Program MBG seharusnya dijalankan dengan niat yang ikhlas. Ia menyebut, ada nilai kebanggaan tersendiri bagi para pengelola yang mampu berkontribusi langsung dalam menyehatkan anak-anak, tanpa memandang latar belakang keluarga mereka.
“Bayangkan betapa bangganya ketika makanan yang kita siapkan bisa menyehatkan anak-anak yang bahkan kita tidak kenal siapa orang tuanya. Mereka bisa menikmati makanan bergizi, itu nilai kemanusiaannya,” pungkasnya. (***)
Jurnalis: Eko Widiantoro
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com


Komentar