Nasional
Beranda » Berita » Yuk Belajar dari Jepang! PWI Depok Ingatkan Wartawan Stop Eksploitasi Kesedihan Korban Bencana

Yuk Belajar dari Jepang! PWI Depok Ingatkan Wartawan Stop Eksploitasi Kesedihan Korban Bencana

Flayer kesimpulan Diskusi Nasional bertajuk Profesionalisme Media dalam Pemberitaan Bencana: Empati, Solutif, dan Lawan Hoax yang disampaikan Kordinator Bidang Organisasi PWI Kota Depok yang juga Pemred Independen Media, Ridwan Ewako.

RUZKA INDONESIA — Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Depok menggelar diskusi nasional yang menyoroti peran strategis serta profesionalisme jurnalis dalam peliputan kebencanaan.

PWI Kota Depok Bekerja sama dengan Forum Indonesia Emas (FIE) menggelar Diskusi Nasional bertajuk Profesionalisme Media dalam Pemberitaan Bencana: Empati, Solutif, dan Lawan Hoax di Kantor PWI Kota Depok, Selasa. (06/01/2025).

Diskusi diikuti puluhan wartawan dari berbagai media ini dibuka dan sekaligus jadi pegarah diskusi yakni Ketua PWI Kota Depok, Rusdy Nurdiansyah.

Adapun yang tampil sebagai pembicara yakni, Kordinator Bidang Organisasi PWI Kota Depok yang juga Pemimpin Redaksi (Pemred) Independen Media, Ridwan Ewako yang berbicara tentang Tantangan Peliputan Bencana: Hoax Cederai Pilar Persatuan dan Kesatuan Nasional.

Pembicara selanjutnya yakni Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (UI), Dr. Ressi Dwiana, M.A yang memgulas, Memasifkan Edukasi: Kami Netizen Cerdas, Bukan Korban Medsos.

Di Tengah Puing dan Harapan, Relawan TRAMP Bangun Hunian untuk Warga Garoga Tapsel

Selain itu juga menghadirkan pembicara dari Pranata Humas Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Lia Agustina yang berbicara tentang Profesionalitas Mitigasi: Antisipasi dan Penanganan Pascabencana.

Kordinator Bidang Organisasi PWI Kota Depok yang juga Pemred Independen Media, Ridwan Ewako menekankan pentingnya jurnalisme yang berbasis empati serta tanggung jawab sejarah.

Dalam paparannya, Ridwan mengingatkan bahwa sejarah pers nasional tidak dapat dipisahkan dari perjuangan kemerdekaan Indonesia. Menurutnya, wartawan memiliki tanggung jawab besar tidak hanya untuk mengabarkan informasi, tetapi juga menjaga keutuhan NKRI melalui karya-karyanya.

“Kita mengemban tanggung jawab sejarah. Pers Indonesia lahir di tengah gejolak perjuangan, dan hal itu menjadi landasan etik serta praktik kita sebagai wartawan, khususnya anggota PWI,” ungkapnya.

Ia menyoroti fenomena media sosial yang kini menjadi tantangan berat bagi media arus utama (mainstream). Ia menilai media sosial sering kali menciptakan polarisasi dan menyebarkan informasi tanpa konteks yang jelas, yang berpotensi menyudutkan pihak tertentu, termasuk pemerintah, saat terjadi bencana.

Kapolres Garut Perkuat Sinergi dengan MUI dan Ponpes As Sa’adah

“Media sosial membuka ruang bagi siapa saja untuk seolah-olah menjadi ahli. Di sinilah profesionalisme wartawan diuji untuk mengeliminasi hoaks yang dapat memicu pertahanan sosial dan kegaduhan,” tegas Ridwan.

Lebih lanjut, Ridwan mengkritisi penurunan kualitas peliputan bencana yang sering kali hanya mengejar kecepatan demi klik (clickbait) tanpa memperhatikan kebenaran dan kedalaman data.

“Saya menyayangkan minimnya media yang mengirimkan wartawan langsung ke lokasi bencana, serta kurangnya kompetensi wartawan muda dalam menghadapi situasi darurat di lapangan,” ucap Ridwan.

Ia membandingkan pola peliputan di Indonesia dengan Jepang, di mana pers dan petugas sangat menjaga privasi serta martabat korban.

“Di Jepang, tidak ada eksploitasi kesedihan. Foto jenazah atau tangisan korban tidak dieksplorasi secara berlebihan. Fokus mereka adalah memberi peringatan dini dan edukasi,” jelas Ridwan.

Majalengka Mengusulkan SOR Baribis di Tengah Keterbatasan Anggaran Daerah

Sebagai penutup, Ridwan Ewako menitipkan tiga prinsip utama yang harus dipegang teguh oleh wartawan, khususnya di wilayah Depok, dalam meliput kebencanaan:

  • Empati Sebelum Eksklusif: Mengutamakan rasa kemanusiaan di atas ambisi mendapatkan berita eksklusif. Jangan mengeksploitasi kesedihan korban.
  • Verifikasi Sebelum Viral: Melakukan kroscek mendalam terhadap data, terutama yang bersumber dari media sosial, agar tidak terjebak pada video lama yang digunakan kembali tanpa konteks yang benar.
  • Memberi Konteks dan Solusi: Berita yang berkualitas adalah berita yang mampu memberikan latar belakang masalah (misalnya kerusakan hutan sebagai penyebab banjir) serta menawarkan elaborasi solusi bagi para pemangku kepentingan.

“Saat bencana terjadi, wartawan dihadapkan pada pilihan: menjadi bagian dari solusi atau tanpa sadar menjadi bagian dari masalah. Di situlah profesionalisme menentukan wajah bangsa,” pungkas Ridwan. (***/Taufik/Aris)

Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *