
RUZKA INDONESIA — Malam Jumat (12/12/2025) itu tidak sepenuhnya sunyi. Di banyak sudut kota di Jawa Barat, layar ponsel dan laptop menyala bersamaan.
Dari ruang tamu sederhana di Sukabumi, kamar sempit di Depok, hingga rumah-rumah di Bandung, Bekasi, Cianjur, Karawang, Purwakarta, dan Subang, wajah-wajah muncul satu per satu di layar Zoom.
Pukul 20.00 WIB, jarak runtuh oleh teknologi, dan niat bertemu dalam satu ruang digital.
Pelatihan bertajuk “Langkah Awal Menjadi Agen Perisai Sukses” yang diselenggarakan oleh HIWAPRAJA (Himpunan Wadah Perisai Jawa Barat) resmi dimulai. Sebanyak 96 Agen Perisai BPJS Ketenagakerjaan berbagai kota hadir malam itu.
Mereka bukan sekadar peserta pelatihan daring. Mereka adalah orang-orang yang sehari-harinya berhadapan langsung dengan pekerja rentan, dengan keraguan, penolakan, dan sering kali kelelahan yang tak tercatat.
Tidak ada panggung megah, tidak ada tepuk tangan riuh. Yang ada hanyalah suara-suara pelan, perkenalan singkat, dan cerita lapangan yang mengalir apa adanya.
Sesi awal diisi dengan berbagi kendala: sulitnya menjelaskan jaminan sosial kepada pekerja informal, pesan yang tak kunjung dibalas, hingga pertanyaan klasik soal manfaat yang kerap berujung pada penolakan.
Namun justru dari sanalah pelatihan ini menemukan rohnya. Bukan menutup mata pada masalah, melainkan mengakuinya bersama.

Ketua HIWAPRAJA, Ahmad Jafar Sidik, memimpin jalannya pelatihan dengan pendekatan yang tenang dan membumi. Ia tidak membuka sesi dengan target atau angka capaian, melainkan dengan refleksi tentang peran dan posisi Agen Perisai di tengah masyarakat.
“Langkah awal menjadi Agen Perisai yang sukses itu bukan soal hasil dulu, tapi soal kepercayaan. Kalau orang belum percaya siapa kita, mereka tidak akan mau mendengar apa yang kita perjuangkan,” ujar Jafar kepada Ruzka Indonesia, Sabtu (13/12/2025).
Dari sana, materi bergerak ke inti. Jafar menegaskan bahwa untuk tahap awal, khususnya bagi Agen Perisai yang tergabung di HIWAPRAJA, ada tiga langkah mendasar yang wajib dilakukan.
Pertama, membangun identitas yang jelas. Agen Perisai diminta memasang foto profil WhatsApp dan media sosial lain yang menampilkan identitas sebagai petugas Perisai BPJS Ketenagakerjaan. Identitas visual, menurut Jafar, bukan sekadar formalitas, melainkan tanda kehadiran dan keseriusan di mata masyarakat.
Kemudian membangun narasi secara konsisten. Media sosial diminta tidak dibiarkan kosong. Status, unggahan, dan pesan harus terus mengalir—menceritakan tentang Bukan Penerima Upah (BPU), tentang risiko kerja, dan tentang pentingnya perlindungan jaminan sosial. Bukan dengan bahasa kaku, tetapi dengan cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya membuka komunikasi personal. Agen Perisai didorong untuk mengirimkan pesan siaran kepada seluruh kontak WhatsApp, menjelaskan bahwa dirinya adalah petugas Perisai BPJS Ketenagakerjaan. Bukan untuk memaksa, melainkan memberi tahu bahwa ada akses perlindungan yang bisa dijangkau, dan ada orang yang siap membantu.
“Kita ini perisai. Artinya kita berdiri di depan. Jangan ragu memperkenalkan diri. Negara sudah memberi mandat, tugas kita menjalankannya dengan etika, konsistensi, dan tanggung jawab,” kata Jafar.
Di layar Zoom, wajah-wajah peserta tampak menyimak dengan serius. Ada yang mencatat, ada yang mengangguk pelan. Beberapa terlihat lelah setelah seharian bekerja, tetapi tidak ada yang pergi. Malam itu bukan tentang teori besar, melainkan tentang menyusun ulang langkah-langkah kecil yang sering diabaikan.
Pelatihan ini juga menekankan pentingnya standarisasi kerja dan etika, penyusunan program awal dan agenda kegiatan, serta penguatan motivasi bagi seluruh anggota. Bahwa menjadi Agen Perisai bukan pekerjaan instan, melainkan proses panjang yang menuntut kesabaran.
“Kesuksesan Agen Perisai tidak selalu terlihat hari ini atau besok. Tapi dari seberapa konsisten kita hadir, mendampingi, dan tidak meninggalkan masyarakat di tengah jalan,” lanjut Jafar.
Ketika sesi ditutup dan ruang Zoom perlahan kosong, malam kembali sunyi. Namun bagi 96 Agen Perisai yang hadir, ada sesuatu yang tertinggal—bukan sertifikat atau janji hasil cepat, melainkan kesadaran baru tentang peran yang mereka emban.
Pelatihan itu berakhir di layar, tetapi kerja sesungguhnya justru dimulai setelahnya. Di pesan-pesan WhatsApp yang dikirim esok hari, di status media sosial yang dipasang dengan konsisten, dan di percakapan kecil yang pelan-pelan menumbuhkan kepercayaan.
Di balik layar Zoom, para Agen Perisai telah menyusun langkah awal mereka. Menuju sukses, dengan cara yang mungkin sunyi, tetapi nyata. (***)
Jurnalis: Djoni Satria/Wartawan Senior

